SENIN, 28 NOVEMBER 2016

LAMPUNG --- Potensi sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kabupaten Lampung Selatan memiliki potensi sangat besar untuk dikembangkan. Bahkan produk UKM ini masih terbuka lebar, baik di pasar domestik maupun ekspor ke luar negeri yang bisa menjadi sumber pemasukan devisa bagi negara dan juga peningkatan perekonomian masyarakat pedesaan. Hanya saja perhatian pemerintah masih dirasakan minim oleh para pelaku usaha. Mereka bahkan mengakui masih kesulitan mendapatkan akses permodalan yang mudah dan tak memberatkan.

Pekerja perempuan membakar kerupuk kemplang di industri rumahan di Desa Klaten Kecamatan Penengahan
Keluhan tersebut salah satunya muncul dari kelompok pengrajin di Desa Krajan Kecamatan Sidomulyo yang memproduksi berbagai jenis produk kerajinan, diantaranya gagang sapu, tusuk sate untuk pasar domestik dan juga pembuatan batok kelapa sebagai bahan untuk berbagai keperluan, seperti bahan konstruksi bangunan dalam desain interior.

Samadi (44) yang memiliki usaha kerajinan di Dusun Krajan Kecamatan Sidomulyo Lampung Selatan menyebutkan, pengolahan batok kelapa yang dibuat menjadi kepingan berbagai ukuran sesuai pesanan tersebut merupakan peluang ekspor yang dikirim ke Negara Perancis dan Brazil. Namun dengan kondisi perekonomian yang tidak mendukung ia mengakui saat ini mengalami kesulitan meski sempat pernah mendapat pesanan dari pengekspor di Surabaya sebanyak satu kontainer dengan kualitas yang cukup baik untuk ekspor berupa kepingan potongan batok kelapa.

Bahan batok kelapa dibelinya dari beberapa pengrajin kopra dengan harga beli Rp 600 ribu permobil. Setelah sampai di tempat pemotongan, batok kelapa tersebut diolah menjadi kepingan mozaik dengan ukuran 3cmx3cm yang bisa dipergunakan untuk pembuatan plafon dan dinding dengan harga Rp69. Sementara untuk ukuran lebih besar dalam centimeter bisa dihargai Rp80 sementara yang lebih mahal harganya berupa bagian belakang batok kelapa yang dihargai Rp250 perkeping.

"Kendala yang kami miliki selama ini adalah proses permodalan karena saat membeli dari pengumpul kopra harus membayar kontan sementara saat akan dikirim ke pengespor dibayar presentase sebelum proses ekspor ke negara yang dituju dikirim,"ungkap Samadi saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (27/11/2016).

Ia bahkan sempat mengalami kerepotan meski sempat mendapat orderan cukup banyak. Sebagai salah satu cara ia memberdayakan masyarakat yang ada di wilayahnya dan kabupaten lain dengan jumlah pekerja mencapai 300 orang untuk mempercepat proses orderan. Namun ia akhirnya mengakui mengalami kesulitan dalam biaya poriduksi dan operasional karena belum seimbang dengan tenaga kerja yang tersedia, gaji pekerja, serta membutuhkan alat alat dan mesin produksi yang layak.

Pengrajin gagang sapu menyiapkan bahan di Lampung Selatan
Disebutkan, kendala utama yang dialaminya adalah kurangnya modal usaha meski beberapa alat yang ia miliki telah mampu berproduksi namun beberapa terpaksa tidak beroperasi. Khusus untuk pembuatan tusuk sate diakuinya juga masih ruting berproduksi karena kebutuhan akan tusuk sate saat ini juga dibeli oleh para penjual cilok, sosis serta pembuatan otak otak bakar. Pengalaman pahit yang dialaminya juga terjadi saat pemerintahan sebelumnya dimana sebagai UMKM yang bergerak dibidang kerajinan dirinya diminta mewakili Provinsi Lampung dan berhak mendapat hadiah puluhan juta karena menjadi salah satu UMKM dengan kategori terbaik.

"Meski nominalnya cukup besar namun hingga saat ini kami tidak pernah melihat wujud uang tersebut karena kami merasa saat itu memang hanya diperalat untuk digunakan sebagai kelompok usaha kecil, tapi input ke kami dalam permodalan tidak ada sama sekali,"keluhnya.

Solusi selanjutnya yang ia tempuh dilakukan dengan mengandalkan kegigihan dan keuletan mempromosikan dan melakukan proses penjualan sendiri tanpa melibatkan pemerintah. Bahkan ia mengaku menggunakan sarana media promosi menggunakan media sosial dan jejaring sosial tanpa perhatian dari pemerintah daerah dan instansi instansi terkait. Ia berharap pemerintah daerah bisa memfasilitasi pelaku UMKM agar bisa maju.

Kondisi serupa juga dialami oleh Rohman (30) seorang pengrajin pembuatan gagang sapu. Bermodalkan mesin pembuatan gagang sapu warisan orangtuanya ia memproduksi gagang sapu yang dibuat dari beberapa kayu sisa gergajian yang masih cukup kuat. Ratusan gagang sapu yang dibuatnya saat ini masih terbatas dijual ke pasar lokal dengan jumlah pesanan yang cukup terbatas. Meski demikian ia terus melebarkan jejaring kerjasama dengan pengrajin sapu untuk lebih banyak memiliki orderan.

"Selama ini pelaku usaha kecil memang harus banyak banyak mencari peluang dan tentunya jejaring dengan banyak orang karena permintaan akan semakin banyak kalau rajin menawarkan barang yang kita produksi,"ungkap Rohman.

Pekerja melakukan pembersihan dan penghalusan meubel dalam  usaha pembuatan mebel di Bakauheni Lampung Selatan
Meski terdaftar di desa sebagai salah satu usaha kecil yang memiliki prospek dalam pemberdayaan keluarga dan masyarakat Rohman mengaku belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah setempat. Ia mengaku lebih senang menjadi wiraswasta dengan modal sendiri bahkan tak berani meminjam di bank karena persyaratan yang cukup ketat dan ia takut tak mampu mengembalikan modal dengan kondisi usahanya yang masih kecil di wilayah Penengahan tersebut.

Pengembangan usaha yang juga banyak tumbuh di Lampung Selatan dan mengalami kesulitan permodalan juga dialami oleh Sulistiono (40) pelaku pembuatan makanan tradisional kerupuk kemplang. Mempekerjakan puluhan perempuan yang membantunya dalam proses pembuatan dari awal hingga siap jual selama ini ia mengaku melakukan usaha yang ditekuninya dengan permodalan sendiri. Ia mengaku sempat mendapatkan bantuan alat namun spesifikasi alat yang diberikan oleh pemerintah daerah tidak sama dengan spesifikasi alat yang semula diajukan.

"Pernah dapat bantuan alat penggilingan namun yang diberikan hanya alat untuk membuat kue molen padahal yang kami ajukan semula alat untuk menggiling adonan tepung dengan kapasitas 50 kilogram,"ungkap Sulistiono.

Ia tetap berharap usaha kecil yang dikembangkannya akan tetap bertahan meski menggunakan modal yang kecil. Selain itu ia tak ingin usaha kecil yang ditekuninya berhenti dengan alasan masih menggunakan tenaga kerja perempuan yang ada di sekitar tempat pembuatan kerupuk kemplang miliknya. 

Terkait kondisi pelaku usaha kecil di Lampung Selatan yang berkembang, salah satu akademisi di sekolah tinggi ilmu ekonomi di Lampung Selatan, Herwan, wirausahawan mandiri di Lampung Selatan cukup eksis dan mampu tumbuh tanpa dukungan dari pemerintah. Meski demikian ia berharap ada peran serta pemerintah dalam upaya mengembangkan sektor usaha kecil menengah. Sebagai akademisi ia mengaku membantu dengan mengirimkan sejumlah mahasiswanya dengan upaya pengembangan soal branding dan pemasaran produk.

"Kalau permodalan uang kami sebagai akademisi dan mahasiswa tentu belum bisa memberi namun strategi pemasaran penggunaan jejaring sosial dan branding yang bisa kami berikan saat kuliah kerja nyata,"ungkapnya.

Seorang pengrajin gagang sapu,stok,kemoceng yang memproduksi hasil sisa kayu olahan di Lampung Selatan
Ia tak memungkiri UMKM di Lampung Selatan di setiap desa dan setiap kecamatan jika dipetakan sangat banyak. Meski demikian banyak juga UMKM yang tidak kontinue berproduksi sementara banyak usaha kecil lain masih berskala rumahan dan membutuhkan modal yang tidak besar. Ia juga berharap setiap desa bisa lebih memperhatikan usaha kecil terutama saat ini ada bantuan dari pemerintah melalui alokasi dana desa yang bisa digunakan untuk memperdayakan masyarakat pedesaan dengan adanya badan usaha milik desa (Bumdes) yang oleh sebian desa digunakan untuk memberi pinjaman lunak bagi UMKM.
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: