SENIN, 14 NOVEMBER 2016

LAMPUNG---Pengamanan penyelundupan kulit ular yang dilakukan oleh Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandarlampung Wilayah Kerja Pelabuhan Bakauheni bukan kali pertama dilakukan. Berdasarkan data yang dihimpun Cendana News, selain mengamankan sebanyak 1 koli kulit biawak dan 2 koli kulit ular dengan jumlah ratusan lembar dari Medan Provinsi Sumatera Utara yang akan dibawa ke Kabupaten Jember Jawa Timur, pengamanan penyelundupan kulit ular kering berbagai jenis telah terjadi beberapa kali sepanjang tahun 2016 oleh petugas Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandarlampung Wilayah Kerja Pelabuhan Bakauheni. Sebagian besar pengiriman dilakukan menggunakan kendaraan ekspedisi antar-pulau yang sebagian besar pengemudinya tidak mengetahui barang atau satwa yang dikirim harus memiliki surat karantina dan BKSDA. Tidak hanya surat jalan ekspedisi.


Kulit-kulit ular.
Pengiriman satwa dilindungi di antaranya ikan arwana asal Pekanbaru, sepekan sebelumnya diakui oleh pengemudi ekspedisi Eka Sari Lorena. Waktu itu  pengemudi tidak melakukan pengecekan terhadap barang yang dikirim dan pemeriksaan barang menjadi kewenangan dari pihak ekspedisi.

“Kalau soal isinya, pemeriksaan kan dilakukan oleh bos ekspedisi barang tersebut dikirim. Jadi, kami pengemudi hanya mengantar saja dan tidak memeriksa secara mendetail. Hanya melihat surat jalan dan jumlah barang berupa paket,” ungkap Elyas Ginting, salah satu pengemudi kendaraan ekspedisi yang didapati membawa belasan ikan Arwana asal Pekanbaru, awal November lalu.

Terkait hal tersebut, penanggung jawab kantor BKP Bakauheni, Drh. Azhar, mengaku telah melakukan koordinasi dengan pihak pemilik usaha ekspedisi untuk melakukan pemeriksaan mendetail barang yang akan dikirim terutama berkaitan dengan karantina. Namun ia mengakui pengiriman dengan menggunakan jasa ekspedisi menjadi salah satu bentuk modus penyelundupan agar tidak terendus pihak karantina maupun petugas kepolisian.

“Tentunya kita sudah melakukan upaya pendekatan kepada pengusaha ekspedisi dan nyatanya banyak kendaraan ekspedisi yang tak melakukan pengiriman satwa. Tapi jika masih ada, itu bisa tindakan sengaja dan menjadi modus untuk meloloskan barang yang dilarang dan dilindungi,” terang Drh. Azhar, penanggung jawab BKP Lampung Wilayah Kerja Pelabuhan Bakauheni saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (14/11/2016)

Berdasarkan keterangan saat awal diperiksa dalam resi pengiriman kulit ular tersebut tertulis di dalam kotak berisi paket kain namun petugas tidak serta merta percaya dan bahkan memeriksa isi dalam paket yang ternyata berisi kulit biawak dan kulit ular. Azhar mengungkapkan, pengamanan kulit ular tersebut juga mengacu pada upaya mencegah perlalu-lintasan hama penyakit hewan karantina (HPHK) dan organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) sesuai dengan UU Karantina No 16 Tahun 1992 Tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.

Selain berbagai jenis satwa dilindungi dan tidak dilindungi serta bagian tubuh satwa di antaranya  kulit ular, penyelundupan bahkan dilakukan dalam bentuk ular kering awetan yang akan digunakan sebagai bahan pembuatan obat tradisional.

Kulit ular yang diamankan BKP Bakauheni tercatat di antaranya pada bulan Maret 2016 sebanyak 998 lembar dengan perincian karung pertama sebanyak 473 ekor atau ular kering/awetan dan karung kedua sebanyak 525 ekor ular kering berikut kulitnya.

Ratusan awetan ular berbagai jenis serta kulit ular tersebut di antaranya jenis kulit ular king kobra, kobra putih, dan phyton yang diduga akan dipergunakan sebagai bahan pembatan sepatu dan ikat pinggang. Sesuai dengan estimasi harga kulit ular sebagai bahan baku pembuatan kerajinan dan obat ditaksir nilai nominal ular awetan dan kulit kering yang diamankan mencapai ratusan juta rupiah.

Kulit ular yang siap dimusnahkan.
Selanjutnya dalam data Cendana News kulit ular dan ular awetan tersebut dimusnahkan oleh petugas BKP Bakauheni disaksikan oleh Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Bakauheni dan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Pemusnahan barang bukti tersebut dilakukan sesuai prosedur karantina agar barang tersebut tidak disalahgunakan.

Sementara itu, Teguh Ismail, Kepala Seksi Konservasi Wilayah 3 BKSDA Bengkulu mengungkapkan penyelundupan satwa liar masih sering terjadi dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa dalam bentuk hidup maupun diawetkan atau bahan baku asal bagian tubuh satwa seperti kulit ular dan kulit trenggiling. Pengiriman dan penyelundupan sebagian berasal dari wilayah Provinsi Jambi, Provinsi Bengkulu, Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Lampung, serta beberapa provinsi di Pulau Sumatera. Berbagai langkah telah dilakukan mengantisipasi pengiriman satwa liar tak dilindungi maupun yang dilindungi.

Para petugas siap memusnahkan kulit ular.
Berbagai upaya pencegahan telah dilakukan oleh pihak BKSDA berkoordinasi dengan pihak karantina dan kepolisian sehingga berhasil mengamankan beberapa satwa dilindungi, di antaranya macan akar, kura-kura kaki gajah, ikan arwana, burung elang bondol, kera hantu, serta beberapa satwa yang dilindungi. Beberapa satwa yang diamankan tersebut akhirnya dilepas-liarkan karena tidak memiliki dokumen yang dipersyaratkan karantina dan BKSDA, di antaranya dilepas-liarkan di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan Taman Nasional Way Kambas (TNWK).

Pengamanan kulit ular dan ular awetan dilakukan oleh pihak karantina dan BKSDA karena dilakukan berkaitan dengan pelanggaran Undang-undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

                                 Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Satmoko/ Foto: Henk Widi






Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: