MINGGU, 20 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Kawasan Godean, Sleman, sejak puluhan tahun lalu dikenal sebagai sentra pengrajin genting berbahan tanah liat. Ratusan warga di sejumlah desa di wilayah Kecamatan Godean secara turun-temurun berprofesi sebagai pengrajin genting. Namun, saat ini jumlah pengrajin menurun drastis dan menghadapi kendala bahan baku serta cuaca.

Proses pembakaran genting dan bata merah
Hampir di sepanjang Jalan Godean Kilometer 10 ke arah barat, rumah toko yang menyajikan beragam model genting dan bata merah berderet di kanan kiri jalan raya. Sementara memasuki sejumlah dusun di kawasan itu, deretan genting baik yang masih basah maupun kering dan siap jual juga berderet rapi di depan rumah-rumah penduduk.

Kecamatan Godean, khususnya di empat desa, yaitu Seyegan, Sidorejo, Sidoagung dan Minggiran, sejak lama memang dikenal sebagai sentra pengrajin genting tanah liat dan bata merah. Banyaknya pengrajin itu didukung oleh ketersediaan bahan baku tanah liat yang ada di sebuah bukit kecil yang oleh warga setempat disebut Gunung Pare.

Namun seiring dengan waktu, penggalian tanah liat di Gunung Pare mulai dibatasi untuk menjaga kelestarian gunung dan lingkungannya. Karena itu, pengrajin genting ada kalanya harus mendatangkan bahan baku tanah liat dari daerah lain, misalnya dari Kabupaten Kulonprogo.

Pengrajin genting dan bata merah di Dusun Kramen, Sidoagung, Godean, Sleman, Minto Wiyono (64), ditemui Minggu (20/11/2016) mengatakan, para pengrajin genting saat ini menghadapi kendala cuaca ekstrim. Curah hujan tinggi menyulitkan proses pengeringan genting dan kayu bakar yang dibutuhkan untuk proses pembakaran.

Akibat curah hujan yang tinggi, kata Minto, proses penjemuran atau pengeringan menjadi lebih lama. Jika biasanya dalam sepekan bisa kering, sekarang dua pekan baru bisa kering. Seringnya turun hujan juga membuat ketersediaan kayu kering sangat berkurang.

Dibantu tiga orang tenaga kerja, dalam satu hari Minto bisa mencetak genting basah sebanyak kurang lebih 250 buah, dan 300-an bata merah basah. Rata-rata perbulannya Minto bisa menghasilkan 5.000 genting basah dan 10.000 bata merah basah.

"Setelah itu baru kita jemur hingga kering dan kemudian dibakar dari pagi hingga sore hari", jelasnya.

Untuk menghasilkan genting dan bata merah sebanyak itu, Minto membutuhkan bahan baku tanah liat sebanyak 6 Colt (truck kecil) yang dibelinya dari Gunung Pare dan Kulonprogo kurang lebih senilai Rp. 1.080.000 atau Rp. 180.000 per Colt. Sedangkan kayu yang dibutuhkan untuk proses pembakaran menghabiskan modal Rp. 1,7 Juta untuk 5.000 genting dan 10.000 bata merah.

Selain modal untuk pengadaan bahan baku tanah liat dan kayu bakar, Minto juga harus mengeluarkan biaya tenaga kerja untuk tiga orang yang membantunya. Biaya tenaga kerja itu juga tidak kecil.

Untuk menggiling tanah liat diperlukan lima orang tenaga kerja dengan upah masing-masing Rp. 100.000. Lalu, biaya upah pencetak genting dan bata merah Rp. 150.000 Per 1000 genting, dan biaya upah tenaga kerja dalam proses pasca produksi lainnya.


Menurut Minto, mahalnya bahan baku dan proses produksi yang lebih lama karena cuaca, menyebabkan ada penambahan biaya produksi. Karena itu, jelasnya, saat ini harga jual genting dan bata merah mengalami kenaikan. Saat ini, harga jual bata merah sebesar Rp. 620.000 per 1.000 buah, naik Rp. 20.000 dari harga sebelumnya. Sedangkan untuk genting Rp. 1 Juta per 1.000 buah.

Namun demikian, kata Minto, meski harga jual sudah dinaikkan itu keuntungan yang diterimanya sama saja. Bahkan, jika tak dikerjakan sendiri, keuntungan bisa habis hanya untuk membayar upah tenaga kerja. 
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Koko Triarko
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: