MINGGU, 27 NOVEMBER 2016

SUMENEP --- Sejak musim hujan, pengusaha keripik singkong di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, mulai kebingungan. Cuaca yang tidak mendukung menghambat proses pengeringan dan mereka kesulitan untuk memenuhi pesanan dari konsumen.

Salah seorang pengusaha sedang memproduksi keripik singkong
Belum tersedianya alat pengeringan keripik singkong yang memadai, mereka terpaksa hanya mengandalkan panasnya terik sinar matahari. Biasanya jika di musim kemarau hanya setengah hari, tetapi saat ini proses pengeringan bisa memakan waktu dua hari.

"Pengusaha keripik yang belum memiliki alat memadai mulai kebingungan, karena pengeringan membutuhkan waktu lebih lama dibanding dengan pada saat musim kemarau," kata Moh. Zaini (30), salah seorang pengusaha di Desa Jabaan, Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep, Minggu (27/11/2016).

Disebutkan, para pengusaha keripik yang desa itu kebanyakan menggunakan alat sederhana, seperti alat iris, perebusan dan penjemuran yang masih mengandalkan sinar matahari. Ketika memasuki musim penghujan, pendapatan yang diperoleh dari usahanya menurun.

"Ya biasanya kami dalam satu minggu mampu memproduksi satu kwintal, kini hanya bisa produksi 50 kilogram, karena pengeringannya membutuhkan waktu lama. Sedangkan ketersediaan tempat penjemuran tidak memadai, makanya ketika dipaksakan memproduksi banyak kan tidak ada tempat menjemur," jelasnya.

Proses penjemuran
Biasanya para pengusaha kripik singkong yang ada di desa itu menjualnya dalam kondisi mentah, itupun harganya tidak terlalu tinggi, hanya berkisar antara Rp. 7000 hingga Rp. 9000 per kilogram.

"Sampai sekarang belum ada bantuan alat pengeringan dari pemerintah daerah, makanya pengusaha keripik singkong disini tetap menggunakan alat tradisional," terangnya. 
Jurnalis : M. Fahrul / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : M.Fahrul
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: