SENIN 7 NOVEMBER 2016

LAMPUNG--- Suciati (45), sempat pusing tujuh keliling. Naiknya hargai cabai yang semula hanya Rp60 ribu menjadi Rp75 ribu per kg membuat pemilik Rumah Makan Mutiara di Rumbia, Lampung Tengah itu harus bersiasat. Sebagian menu makanannya dominan menggunakan bahan dasar cabai. Menu pedas ini justru banyak disukai pelanggannya,  Akhirnya ia terpaksa menaikkan harga makanannya, tetapi dia juga mengurangi harga pada menu yang tak menggunakan cabai.

Sebuah Rumah makan Mutiara di Jalinsum.

"Keinginan para pelanggan dominan memilih rasa yang pedas terutama pada menu menu tertentu sehingga kurang lengkap tanpa penyedap cabai merah,tetapi sebagian konsumen juga telah mengetahui kenaikan harga cabai sehingga tak mempersoalkan kenaikan menu tertentu,"ungkap Suciati salah satu pemilik rumah makan yang berlokasi di tepi Jalan Lintas Sumatera saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (7/11/2016).

Suciati mengaku sebetulnya tidak ingin memberatkan pelanggannya dengan harga baru namun disisi lain dirinya mengaku dihadapkan pada harga bahan baku cabai yang melambung tinggi. Alasan menaikkan harga pada menu tertentu tersebut ungkapnya dilakukan karena harga cabai yang mahal dan berakibat ongkos produksi mengalami kenaikan. Harga baru pada lauk pauk yang menggunakan bahan cabai tersebut diungkapkannya pun tidak terlalu tinggi namun diharapkan mampu menutup biaya produksi sehingga rumah makan yang dikelolanya masih bisa bertahan.

Suciati ditemani putrinya ketika ditemui Cendana News.

Selain cara tersebut upaya yang dilakukan olehnya dengan tidak menaikkan harga dilakukan dengan cara mengurangi porsi pemakaian cabai merah. Beruntung Suciati juga memiliki rekanan yang memasok tanaman merambat jenis cabe yang digunakan sebagai bahan campuran untuk bumbu dapur. Cabe yang dibudidayakan merupakan jenis tanaman merambat yang memiliki rasa pedas menyerupai cabai dan dicampurkan pada bahan cabai merah dengan cita rasa yang tak mengurangi sensasi pedas pada kuliner yang disajikan. Selain itu penggunaan lada, merica, saus juga digunakan untuk menambah rasa pedas pada masakan.

Suci juga mengaku peran media dalam pemberitaan harga bumbu masakan memiliki pengaruh sangat signifikan karena para penjual bumbu sebagian menaikkan harga setelah membaca dari surat kabar atau menonton televisi. Pemberitaan yang gencar di media terkait meroketnya harga cabai tersebut akhirnya berdampak langsung pada pengusaha kuliner seperti dirinya.

Meski menggunakan bahan lain yang rasanya pedas seperti cabe rambat yang menyerupai tanaman lada, Suci mengaku tetap berusaha menyajikan menu menu berbumbu cabai yang bisa menggugah selera pelanggan. Penggunaan cabai yang cukup banyak terutama saat pelanggan menginginkan menu penyet ayam sambal pedas, gurame bumbu pedas, pindang pedas dan makanan lain yang memerlukan sambal.

Pelanggan sedang menyantap makanan di rumah makan milik Suciati.

Salah seorang pelanggan, Hadiyanto, mengaku tidak mempersoalkan kenaikan harga menu yang ditawarkan karena baginya selera memang tak mengenal harga. Ia bahkan mengaku mengetahui kenaikan harga cabai yang ada di sejumlah pasar dan memaklumi jika pemiliki rumah makan menaikkan harga terutama pada menu menu yang menggunakan cabai.

"Asal rasanya pas terutama bagi pecinta kuliner yang pedas kalau tidak makan tanpa rasa pedas berasa ada yang kurang jadi kalau harganya naik tidak masalah,"ungkap Hadiyanto.

Suciati tidak sendiri. Sejumlah pemilik rumah makan, restoran, warung makan di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) ikut terimbas dengan kenaikan harga cabai di pasar tradisional. Kenaikan harga cabai merah yang masih berlangsung tersebut juga dikeluhkan para pemilik warung kecil di sejumlah desa. Salah satunya Ismuani, ia mengaku dalam beberapa pekan harga abai mengalami kenaikan secara signifikan dan informasi dari media tersebut membuat para penjual dari pasar sudah menaikkan harga. Berbagai faktor diantaranya dijadikan alasan terkait sulitnya pasokan bahan baku, lambatnya distribusi dan juga faktor cuaca.

"Alasan menaikkan harga cabai merah sudah ada sejak di pasar tradisional dan kami juga sebagai pemilik warung juga terpaksa ikut menaikkan harga meski kenaikannya juga tak terlalu besar, kami juga tidak mau mengambil untung besar tapi pelanggan berkurang,"ungkap Gopar, seorang pemilik warung.

Gopar yang memiliki warung menjual berbagai macam sayur dan bumbu mengaku lebih memilih menjual bumbu dapur dengan harga murah, tapi pelanggan tetap membeli di warungnya. Keuntungan yang kecil baginya tetap diterima dengan harapan warung kecil miliknya masih tetap bisa beroperasi.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: