SELASA, 1 NOVEMBER 2016

LAMPUNG --- Proses pembukaan lahan pertanian di wilayah Lampung masih belum terlepas dari sistem pembakaran lahan untuk memulai masa tanam terutama pada tanaman perkebunan. Hal tersebut terlihat dari proses pembakaran lahan pada lahan lahan yang akan dipergunakan untuk menanam jagung, singkong dan tanaman pertanian jenis lain. Sebagian petani pemilik perkebunan bahkan mengaku masih menggunakan sistem tersebut dengan alasan lebih murah dan efesien karena tidak memerlukan biaya besar, efesien waktu dan penggunaan tenaga yang lebih sedikit meski dampaknya membuat asap menyebar dan mengganggu kesehatan. Selain pada lahan baru pembersihan lahan untuk pertanian masih digunakan sistem bakar terutama pada usaha pertanian sawah dengan membakar jerami. 


Salah satu petani, Sumardji (35) mengaku masyarakat memang masih belum bisa meninggalkan sistem tersebut dan masih perlu pemahaman dan sosialisasi lanjutan dari instansi terkait, pemerintah untuk pelaksanaan pengembangan sistem pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) di wilayah Lampung Selatan khususnya. Ia mengaku sistem pembakaran untuk penyiapan lahan pertanian sebelumnya bahkan hanya sebatas himbauan yang dibuat oleh Dinas Pertanian Kabupaten Lampung Selatan menggunakan banner untuk pelarangan pembakaran jerami paska panen di lahan persawahan.

"Meski sudah ada himbauan untuk tidak membakar jerami atau membakar lahan namun tentunya petani memiliki pertimbangan lain untuk mempercepat proses pembersihan lahan pertanian terutama bagi petani dengan modal minim,"ungkap Sumardji salah satu petani di Kecamatan Ketapang, Selasa (1/11/2016).


Himbauan tersebut bahkan tak diindahkan oleh petani dengan alasan sistem pembukaan lahan tanpa bakar dengan cara manual membutuhkan waktu yang lama. Bagi pemilik modal besar ungkap Sumardji pengolahan tanah bisa dilakukan dengan alat tekhnologi canggih diantaranya traktor tangan dan pembersihan rumput bisa dilakukan dengan herbisida (racun pembasmi rumput). Ia dan sebagian petani mengaku sistem PLTB lebih lama sehingga belum diterapkan dan petani masih memilih membakar lahan tanpa memperhatikan dampak bagi keberlangsungan lahan dan juga lingkungan.

Ia mengaku membuka lahan dengan membakar meski belum berdampak pada kebakaran hutan namun memberi dampak pada manusia. Sebagian lahan yang semula sempat ditumbuhi alang alang, atau jerami yang dibakar tersebut menimbulkan asap yang mengganggu pernafasan dan debu. Sementara abu yang terbawa air ke sungai maka akan membahayakan pengguna air sungai tersebut diantaranya kualitas air yang tercemar dan membahayakan manusia atau habitat alam sungai.

Petugas penyuluhan dari balai penyuluh pertanian,perikanan dan kehutanan (BP3K) Penengahan, Mualimin, mengungkapkan cara mengolah lahan pertanian dengan cara membakar masih menjadi kearifan lokal masyarakat sekitar. Meski demikian dengan cara pendekatan yang lebih baik maka cara cara tersebut akan dihindari atau ditinggalkan oleh para petani. Ia pun berharap dengan adanya penyuluhan terutama di wilayah Register 1 Way Pisang yang ditanami pertanian jagung, Register 2 Gunung Rajabasa yang ditanami tanaman kayu dan pertanian lainnya sistem bakar lahan tak lagi dipraktekkan. 

"Sebelumnya sudah ada peraturan bupati namun sepertinya tidak dijalankan oleh petani terkait larangan membakar lahan pertanian, sisa hasil pertanian sehingga pembakaran masih berlangsung hingga sekarang,"ungkap Mualimin.

Ia mengungkapkan dari iskusi dengan sejumlah petani diantaranya beralasan dengan sistem membakar sisa hasil pertanian, tanaman pengganggu justru akan menjadi pupuk bagi tanaman baru yang akan ditanam. Akibatnya sejumlah petani masih terus melakukan proses penggunaan tekhnik bakar lahan untuk pembukaan lahan baru pertanian. Padahal menurutnya dalam aturan sangat jelas membuka lahan tanpa bakar merupakan amanah Undang Undang No 18 tahun 2004 tentang perkebunan yang diantaranya menghundari meningkatnya jumlah emisi Co2, salah satu emisi gas rumah kaca (GRK) yang menyebabkan pemanasan global.

Mualimin juga tak lelah lelahnya melakukan pemahaman kepada petani untuk melakukan pembukaan lahan tanpa pembakaran karena memiliki banyak manfaat. Manfaat tersebut diantaranya tidak menimbulkan polusi asp,menurunkan emisi gas rumah kaca yang berdampak negatif pada perubahan iklim yang berpengaruh pada stabilitas ekosistem,aktifitas transportasi, komunikasi dan kesehatan manusia,memperbaiki bahan organik, menjamin kesinambungan ekonomi dan ekologi, mengantisipasi kekeringan,pemulihan kualitas lingkungan.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Henk Widi



Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: