SELASA 29 NOVEMBER 2016

LAMPUNG---Sebagian petani dan pegepul hasil komoditas pertanian di wilayah Kabupaten Lampung Selatan mengalami kesulitan dalam mengeringkan komoditas pertanian yang dihasilkan dari kebun dan lahan pertanian yang mereka miliki. Kesulitan dalam mengeringkan komoditas pertanian tersebut diakui oleh Aisiah (45) salah satu petani di Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan pemilik kebun cengkeh dan kakao yang mengaku semenjak satu bulan terkahir ia mengakui lebih lama melakukan proses pengeringan buah akibat curah hujan yang tinggi. 

Anak anak membantu orangtua menjemur kakao.
Akibat curah hujan yang masih tingggi ia bahkan mengaku harus berkali kali harus mengeluarkan dan memasukkan cengkeh dan kakao hasil panen yang akan dijualnya ke penampung di pasar Kalianda. Dalam kondisi normal ia mengungkapkan proses penjemuran bisa memakan waktu sekitar 3-4 hari namun butuh seminggu untuk mengeringkan cengkeh dan kakao yang dimilikinya. Sebagian besar masyarakat di wilayah tersebut bahkan menggunakan bahu jalan untuk proses menjemur akibat tidak ada lahan yang bisa digunakan untuk proses pengeringan.

Sebagai petani cengkeh yang memiliki beberapa kuintal cengkeh dengan beragam tingkat kekeringan ia mengaku harus rajin memilah milah cengkeh dan kakao. Beberapa kilogram cengkeh seusai dipanen yang masih basah disendirikan dengan cara dijemur menggunakan karung dan setelah beberapa hari ia melakukan pemilihan cengkeh dan kakao yang memiliki tingkat kekeringan berbeda. Tingkat kekeringan dalam proses penjemuran diakuinya akan mempengaruhi harga jual apalagi kondisi cengkeh atau jamur dalam kondisi berjamur.

"Kami masih menggunakan cara penjemuran manual sehingga tergantung pada kondisi cuaca saat panas terik proses pengeringan akan lebih cepat tapi beberapa hari terakhir terhambat karena sering turun hujan,"ungkap Aisiah salah satu petani di Desa Kunjir Kecamatan Rajabasa  saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (29/11/2016).

Warga menjemur cengkeh hasil pertanian di Lampung.
Cengkeh dan kakao yang telah dijemur kering selanjutnya akan disimpan menggunakan karung plastik khusus sebelum mencapai jumlah tertentu untuk dijual. Demikian juga untuk komoditas kakao yang banyak dibeli oleh para pembeli kakao di wilayah Kalianda untuk dijual ke pembeli besar di Jakarta. Aisiah bahkan mengungkapkan dalam kondisi cuaca sering hujan dalam beberapa bulan ini kondisi kakao yang dimilikinya sebagian masih dalam kondisi berjamur sehingga pembeli kakao membeli dengan harga lebih rendah dari biasanya.

Berbeda dengan petani kopi dan cengkeh, kesulitan proses pengeringan komoditas pertanian juga dialami oleh patani kelapa sekaligus pengrajin kelapa untuk dibuat menjadi kopra. Salah satu petani dan pengrajin kopra di Kecamatan Palas, Sodikin (35) mengaku memerlukan waktu tiga hari untuk mengeringkan kopra yang akan dicungkil dengan alat penyungkil sebelum dilakukan proses pengeringan lebih lanjut. Selama musim penghujan sejak tiga bulan terakhir di wilayah Lampung Sodikin bahkan harus jeli memilah milah waktu untuk menjemur kelapa yang akan dijadikan kopra.

Selama ini proses pengolahan kelapa menjadi kopra dilakukan oleh Sodikin menggunakan dua cara diantaranya cara menjemur di bawah terik matahari dan proses pengasapan (penggarangan). Proses pengeringan menggunakan sinar matahari dalam beberapa bulan terakhir diakuinya kurang maksimal akibat seringnya turun hujan dengan intensitas sedaang hingga lebat. Antisipasi kerugian akibat proses pengeringan yang terhambat, Sodikin bahkan menggunakan tekhnik penggarangan menggunakan kayu, sabut kelapa dan batok kelapa sebagai bahan bakar.

"Permintaan akan kopra untuk pembuatan minyak goreng masih tinggi namun ketersediaan bahan baku tekadang terhambat cuaca maka saya gunakan cara menggarang di rumah khusus untuk mempercepat proses pengeringan,"ungkap Sodikin.

Proses pengeringan menggunakan terik matahari diakui oleh Sodikin menjadi teknik yang sangat bagus namun karena kondisi yang tak memungkinkan terpaksa ia menggunakan teknik penggarangan. Proses penggarangan juga sekaligus membersihkan limbah dari hasil pencungkilan kelapa yang dihasilkan selama proses memisahkan daging kelapa dari batoknya. Hasilnya batok kelapa yang dibuat olehnya masih bisa dipergunakan untuk pembuatan briket dari batok kelapa. Briket tersebut sebagian dibeli oleh para penjual sate untuk memanggang sate dan dijual ke pengepul briket untuk pembuatan bahan bakar yang lain.

"Pengrajin kelapa yang kreatif selalu memiliki banyak sumber pemasukan sebetulnya mulai dari kelapa yang dijual utuh, dijual dalam bentuk kopra atau dijual dalam bentuk briket, tapi saat cuaca hujan kami harus bersabar,"terang Sodikin.

Imbas Cuaca Komoditas Pertanian Naik di Lampung

Kondisi cuaca, kurangnya pasokan komoditas pertanian tersebut berimbas bagi penjualan harga komoditas perkebunan dan pertanian di Lampung. Kondisi tersebut dibenarkan oleh agen komoditas pertanian di pasar Inpres Kalianda, Lampung Selatan. Ansori (48) agen pengepul hasil bumi di wilayah tersebut mengakui faktor cuaca dan ketersediaan pasokan berimbas pada kenaikan harga yang secara ekonomis menguntungkan para petani dan pekebun.

Ansori mengakui pengepul harus rela "mengalah" menaikkan harga khususnya untuk komditas kakao dan cengkeh meski tidak begitu tinggi begitu juga dengan lada. Permintaan ekspor yang stagnan membuat pasokan dari petani harus tetap dijaga meski kondisi cuaca yang sedang tak bersahabat.

Ia bahkan menyebut dari para petani yang menjual kakao dengan kualitas yang telah ditetapkan sebelumnya ia mengaku membeli dengan harga Rp36.000/kilogram dari sebelumnya hanya Rp33.000/kilogram. Meskipun kondisi cuaca berimbas pada rendahnya kualitas kakao milik petani namun pengepul tetap melakukan proses pembelian untuk kebutuhan ekspor dan permintaan pabrik.

Selain kakao, harga komoditas pertanian yang meningkat diantaranya Cengkeh yang semula Rp90.000/perkilogram kini mencapai harga Rp110.000/perkilogram.  Sementara harga kopra diangka Rp10.500/kilogram dari harga sebelumnya hanya Rp7.500/kilogram. Kopi robusta saat ini yang semula seharga Rp17.000/kilogram naik menjadi Rp21.000/kilogram. Sementara harga lada hitam yang semula Rp105.000/kilogram dijual kini dengan harga Rp110.000/kilogram. Lada putih yang semula Rp150.000/kilogram kini menjadi Rp160.000 perkilogram.

Ansori sebagai agen pengepul komoditas pertanian mengakui bisa memaklumi kondisi harga yang saat ini berubah. Selain hasil pertanian yang saat ini sedang mengalami penurunan sebagian terpengaruh oleh cuaca sehingga proses pengeringan terhambat. Meski demikian sebagian petani sengaja memilih menjual komoditas pertanian yang sengaja disimpan untuk dijual menunggu harga tinggi.

Pengrajin kopra menjemur kelapa dengan kondisi cuaca mendung.

 Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi






Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: