SELASA, 22 NOVEMBER 2016
LAMPUNG---Hujan deras yang mengguyur sebagian besar wilayah Lampung mengakibatkan banjir di beberapa sungai dan saluran irigasi. Akibat banjir bahkan sejumlah saluran irigasi sempat jebol akibat terjangan aliran air yang membawa material sampah dari perkampungan milik warga seperti yang terjadi di saluran irigasi Desa Klaten Kecamatan Penengahan. Material sampah yang terdiri dari ranting kayu, sampah plastik sebagian berasal dari sampah rumah tangga dan akibat aktivitas buang sampah sembarangan membuat saluran irigasi tersumbat. Salah satu anggota perkumpulan petani pemakai air (P3A) Desa Klaten, Sobri (34) mengungkapkan, sampah-sampah yang ikut terbawa air mengakibatkan saluran irigasi tersumbat bahkan jebol akibat lubang saluran yang tak kuat menyangga material sampah yang membludak.

Sobri mengungkapkan, beberapa saluran irigasi yang dibangun oleh P3A tersebut di antaranya rusak pada bagian pondasi akibat tergerus air. Sementara, akibat banjir yang terjadi pada malam hari membuat material sampah naik ke lahan pertanian sawah milik warga yang berada di sepanjang bantaran sungai dan saluran irigasi. Dampaknya petani dipastikan akan kesulitan melakukan pengolahan lahan pertanian karena harus melakukan pembersihan sampah yang sebagian terdiri dari pecahan botol, botol air minum, plastik, dan bahkan di antaranya kayu-kayu besar yang terbawa arus.

"Hujan lebat selama semalaman membuat kami tidak bisa meninjau sawah baru pada pagi harinya. Banyak sampah berada di sawah, saluran irigasi jebol," ungkap Sobri saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa, (22/11/2016).

Tumpukan sampah yang membahayakan saluran irigasi.
Peristiwa tersebut bukan kali pertama terjadi menimpa lahan persawahan warga yang ada di sepanjang aliran sungai, saluran irigasi. Bahkan sebelumnya warga yang sudah menanam padi dan memasuki masa panen harus rela padi yang mereka tanam roboh diterjang banjir ditambah dengan sampah-sampah yang ikut terbawa dengan dominasi sampah rumah tangga dari bagian hulu. Sobri memastikan sampah-sampah tersebut merupakan sampah buangan warga yang tinggal di bagian hulu sungai dan terbawa air saat banjir. Volume sampah yang terbawa dan tertimbun di sekitar areal sawah bahkan bisa mencapai beberapa ton.

Selain Sobri, petani pengguna air yang ada di wilayah tersebut dan tergabung dalam gabungan kelompok tani (Gapoktan) Maju Sejahtera, Usuludin (45) sangat menyayangkan aktivitas masyarakat yang membuang sampah sembarangan di sungai. Selain berpotensi mengakibatkan penyakit, sampah yang terbawa banjir dipastikan mengakibatkan penyumbatan saluran irigasi dan membuat kerusakan saluran irigasi yang dibangun dengan biaya tidak sedikit tersebut.

"Terlihat sederhana, namun dampaknya sangat besar bagi kami para petani pemakai air yang menggantungkan dari saluran irigasi. Sementara kalau saluran irigasi rusak kami susah mendapat air," terang Usuludin.

Tumpukan sampah yang menyumbang besar terhadap kerusakan sarana irigasi.
Ia berharap, pemerintah kecamatan dan desa bisa menerbitkan aturan terkait pembuangan sampah dengan menerbitkan peraturan desa (Perdes) sistem denda atau hukuman. Sebab aktivitas pembuangan sampah di pedesaan saat ini sudah sangat mengkhawatirkan terutama pembuangan sampah di sungai yang dilakukan oleh warga. Secara langsung warga yang membuang sampah sembarangan di sungai tidak merasakan dampaknya, namun imbas justru sangat dirasakan oleh petani serta masyarakat yang tinggal di hilir sungai.

"Kalau tidak ada sampah sebetulnya air mengalir lancar namun ini sampahnya sebut saja menggunung di saluran air dan sebagian sudah dibersihkan, bahkan mengakibatkan saluran irigasi rusak," keluh Usuludin.

Seorang warga berinisiatif membersihkan saluran irigasi supaya tidak merusak sarana irigasi.
Ia berharap dengan adanya plang larangan membuang sampah sembarangan di sejumlah lokasi serta penyediaan tempat pembuangan akhir (TPA) akan meminimalisir aktivitas pembuangan sampah yang dilakukan warga. Selain itu berbagai kegiatan pembuangan sampah yang masih kerap dilakukan warga di sungai harus diberi sangsi tegas agar aktivitas tersebut dihentikan.

Camat Kewalahan Larang Warga Buang Sampah Sembarangan

Keluhan warga khususnya petani yang menerima kerusakan saluran irigasi akibat sampah yang dibuang masyarakat tersebut juga sempat menjadi perhatian serius Camat Kecamatan Penengahan, Lukman Hakim. Betapa tidak kewalahan, aktivitas membuang sampah di perbatasan Desa Banjarmasin dan Desa Pasuruan di Kecamatan Penengahan yang dilakukan di jembatan aliran sungai Way Pisang dan Way Bomati, membuat aroma sampah busuk menyengat saat pengendara melintas. Selain itu tulisan larangan membuang sampah sembarangan dengan tulisan merah pun tidak digubris.

Membuang sampah di sekitar sarana irigasi masih menjadi budaya laten yang perlu segera dikikis. 
Langkah melakukan larangan yang hingga kini tidak digubris tersebut mengakibatkan masyarakat masih terus melakukan aktivitas membuang sampah di pinggir sungai yang mengakibatkan banjir saat hujan. Aktivitas warga tersebut tentu saja tidak dirasakan secara langsung karena yang terkena imbasnya masyarakat yang ada di hilir sungai. Terutama saat hujan besar dan banjir membawa material sampah rumah tangga yang menyumbat sungai dan saluran irigasi.

"Sudah berkali-kali kita koordinasi dengan dinas kebersihan dan dibersihkan, memasang larangan, dipagar, tapi tetap saja banyak masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan," ungkap Lukman Hakim.

Cara berbeda justru dilakukan dengan tegas oleh Desa Hatta yang dipimpin Tumenggung Lekok. Gerah dengan masyarakatnya yang membuang sampah di pinggir jalan dan sungai, Desa Hatta membuat peraturan desa dengan menerapkan sistem denda bagi warga yang membuang sampah sembarangan dan tertangkap tangan membuang sampah sembarangan di tepi jalan. Ia bahkan memerintahkan aparat desa melakukan penanaman pohon pisang di lokasi pembuangan sampah. Sementara warga yang tetap kedapatan membuang sampah sembarangan akan dipanggil ke kantor desa dengan dilakukan penindakan. Proses pertama peringatan, proses kedua peringatan, dan tindakan tegas dilakukan dengan denda yang dirapatkan oleh aparat desa.
Sampah rumah tangga yang bisa masuk area persawahan akibat tersumbatnya sarana irigasi.
Tumenggung Lekok mengaku masalah sampah kembali kepada kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan. Ia bahkan sepakat menganjurkan warganya melakukan pembuatan bak sampah dan kotak sampah di masing-masing rumah dan melakukan penunjukan petugas sampah yang selanjutnya akan mengangkut sampah dari rumah warga dengan sistem membayar iuran bulanan. Tanggung jawab dan kesadaran masyarakat menurutnya  menjadi kunci bagi penghentian aktivitas menbuang sampah sembarangan terutama di sungai dan jalan.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: