SABTU, 26 NOVEMBER 2016
LAMPUNG---Berada di dataran rendah tak menghalangi petani di wilayah Desa Tajimalela Kecamatan Kalianda untuk melakukan budidaya tanaman bawang daun (allium fistulosum) yang selama ini banyak dibudidayakan di dataran tinggi. Salah satu petani yang menekuni usaha budidaya bawang daun di antaranya Juansah (45) yang sejak bertahun-tahun membudidayakan tanaman bawang daun dengan banyaknya permintaan dari pengepul untuk dijual ke luar daerah dan juga pedagang lokal, serta pemilik restoran dan rumah makan. Permintaan yang cukup tinggi dari budidaya tanaman bawang daun, diungkapkan Juansah, karena bawang daun banyak digunakan untuk penyedap masakan khas di Indonesia.

Lahan seluas setengah hektar tempat membudidayakan bawang daun yang selama ini ditekuni oleh Juansah merupakan lahan pertanian subur yang sebelumnya merupakan lahan pertanian padi. Akibat musim kemarau yang berkepanjangan dan sulit memperoleh air, ia mengaku, menanam bawang daun memiliki kebutuhan air cukup minim. Kondisi tanah yang panas, kering, dan lembab pada dataran rendah, menurut Juansah, menjadi lokasi tepat untuk budidaya bawang daun dan pemasaran bawang daun pun cukup mudah di Lampung Selatan.

Proses membersihkan rumput tanaman bawang daun.
"Awalnya, menanam beberapa petak, namun karena permintaan yang cukup banyak, membuat saya menambah lahan penanaman pada musim selanjutnya. Pemeliharaannya juga cukup mudah, tanpa harus banyak mengonsumsi air," terang Juansah, saat ditemui Cendana News di lahan pertanian bawang daun miliknya, Sabtu pagi (26/11/2016).

Tanaman bawang daun atau bawang prei yang ditanam di dataran rendah menurutnya ditanam karena banyak dikonsumsi masyarakat dalam pembuatan kuliner atau masakan tradisional di Lampung. Ia bahkan mengakui, justru konsumen tetapnya yang paling banyak membeli hasil budidaya bawang daun miliknya adalah pemilik usaha martabak telur, pemilik warung soto, warung bakso, dan usaha kuliner lain yang menggunakan bawang daun sebagai bumbu tabur. Selain mempercantik dan membuat makanan menjadi lezat dengan rasanya yang segar dan khas, bawang daun juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

Tanaman bawang daun.
Meski demikian, ia mengakui, masih banyak petani yang belum memanfaatkan peluang tersebut dan memilih tetap menanam padi. Ia bahkan mengaku, mengubah sawah miliknya menjadi lahan budidaya bawang daun jenis fragrant karena tanaman bawang daun tersebut memiliki beberapa keunggulan di antaranya sangat cocok ditanam di dataran rendah 100-300 MDPL. Selain itu, tanaman bawang daun fragrant memiliki percabangan dan jumlah anakan yang banyak sehingga per rumpun bisa menghasilkan 600 gram, jenis tanaman bawang daun fragrant juga memiliki pertumbuhan yang seragam dan kompak, tahan penyakit, dan mudah perawatannya. Di samping itu juga mudah dalam penjualan dan sudah bisa diterima pasar.

Proses Budidaya Bawang Daun

Proses budidaya tanaman bawang daun, diungkapkan Juansah, juga cukup mudah. Mulai dari mulai penyiapan lahan dengan jenis tanah yang gembur dicampur dengan pupuk kompos dari kotoran kambing. Proses penyiapan lahan bahkan telah dilakukan 15-30 hari sebelum ditanam sembari menunggu waktu pemindahan bibit. Ia mengakui, masa tanam terbaik dilakukan pada bulan Oktober, bukan Maret. Proses perawatan dilakukan dengan pembubunan dan pemangkasan tunas yang tua untuk merangsang tunas karena konsumen menyukai bawang daun yang segar.

Proses pemupukan juga sangat perlu dilakukan saat tanaman berumur 25-30 hari setelah masa tanam. Penggunaan pupuk organik selama proses budidaya pun diterapkan Juansah. Dirinya juga mengakui tak pernah menggunakan pupuk kimia. Meski merupakan tanaman yang selalu dirawat dengan baik, ia mengakui, saat ini tetap banyak hama yang berpotensi menyerang di antaranya ulat bawang, ulat tanah, kutu loncat, bercak ungu, serta hama lainnya.

Juansah sedang bergiat merawat tanaman bawang daunnya.
"Gejalanya terlihat dengan ujung daun bawang daun yang mengalami perubahan warna menjadi kekuning- kuningan seperti akan kering, sehingga terpaksa saya gunakan penyemprot hama dan juga melakukan pencabutan tanaman yang sakit," terangnya.

Proses selanjutnya, setelah bawang daun siap dipanen, maka dilakukan proses pencabutan. Bawang daun yang telah dipanen disimpan di tempat teduh dan dicuci sampai bersih dengan air mengalir dan ditiriskan. Penyortiran sangat diperlukan untuk penjualan bawang daun yang akan dijual ke luar daerah dan yang akan dijual ke pasar lokal. Meski demikian, ia mengaku, setiap ikatan bawang daun ditimbang dengan berat rata- rata sekitar 25 kilogram.

Ia mengakui, prospek budidaya bawang daun yang ditekuninya mampu menghasilkan sekitar 5 kuintal untuk sebanyak 20 petak tanam dengan rumpun yang banyak. Saat ini, menurutnya, harga 1 kilogram bawang daun yang dibudidayakannya mencapai harga Rp15 ribu dengan perkiraan satu kuintal bisa menghasilkan sebanyak Rp1.500.000. Jika diglobal dalam masa satu kali panen umur sekitar 130 hari, dirinya bisa memperoleh penghasilan bersih sekitar Rp 3.000.000 dipotong biaya pembelian bibit, pengolahan, membeli obat-obatan, dan perawatan.

"Pembeli biasanya datang langsung menggunakan mobil saat masa panen tiba, karena sebagian sebagai pengepul akan menjualnya ke luar daerah. Sementara pembeli lokal cukup menggunakan kendaraan motor," terang Juansah.

Ia mengaku optimis tetap membudidayakan bawang daun karena kebutuhan akan bawang daun saat ini tidak akan ada habisnya. Bahkan mayoritas kebutuhan akan bumbu masakan tradisional masih menggunakan bawang daun. Ia juga menegaskan, saat ini budidaya bawang daun selain di lokasi pertanian bisa dikembangkan masyarakat menggunakan media tanam dalam pot atau polybag. Terutama bagi yang tidak memiliki lahan luas. Selain bisa digunakan untuk mempercantik halaman dan pekarangan, kaum ibu rumah tangga juga bisa mempergunakan bawang daun segar sewaktu-waktu dibutuhkan.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: