RABU, 30 NOVEMBER 2016

MAUMERE --- Pipa air minum jenis PE (polyethylene) sepanjang sekitar 1,5 kilometer di desa Magepanda kecamatan Magepanda kabupaten Sikka hilang. Warga diduga melakukan aksi ini akibat kesal proyek pembangunan air bersih di wilayah ini tidak selesai. Demikian disampaikan kepala desa Magepanda Silvanus Abson saat ditemui Cendana News di kantor desa, Selasa (29/11/2016).

Pipa PE proyek Pansimas yang diambil warga dan dipakai mengalirkan air ke kebun
Dikatakan Silvanus,  proyek Pansimas yang diselenggarakan sekitar tahun 2014 ini awalnya berjalan lancar setelah pelaksana pekerjaan memasang jaringan pipa dari mata air ke bak penampung dan ke dusun Liba.

“Masyarakat mau buka kebun dan bakar lahan sehingga pipa air jenis PE yang masih belum ditanam di dalam tanah sepanjang 2,5 kilometer terbakar semua,” ujarnya.

Kejadian ini lanjut sekertaris desa Magepanda ini, membuat pekerjaan terbengkelai sebab kontraktor juga tentu tidak mau mengganti pipa tersebut. Namun setelah dinas PU Sikka dalam hal ini Pansimas ingin melanjutkan kembali pekerjaannya tahun 2016, jaringan pipa air yang sudah terpasang dan tidak terbakar, hilang.

“Malam ini saya akan kumpulkan masyarakat dan meminta agar pipa-pipa yang diambil dan disimpan masyarakat agar bisa dikembalikan,” tuturnya.

Pemasangan jaringan pipa air ini ungkap Silvanus, juga merupakan swadaya masyarakat. Setiap kepala keluarga mengumpulkan uang sebanyak 100 ribu rupiah dan juga ikut bekerja memasang jaringan pipa air.

Hal serupa juga disampaikan Sentianus Martinus Mau, masyarakat desa Magependa yang bertugas memasang jaringan pipa air ini saat ditemui di rumahnya. Dipaparkan Senti sapaannya,  jaringan pipa air dari mata air ke Liba sejauh sekitar tiga kilometer masih terpasang sampai sekarang dan masyarakat masih menikmati air bersihnya.

Kepala Desa Magepanda kecamatan Magepanda, Silvanus Abson
Sementara itu, sambungnya, pipa tersebut juga sudah dipasangnya dari Liba ke bak reservoar atau penampung dan belum ditanam di dalam tanah karena pihak pelaksana katakan setelah uji coba dan berfungsi baru pipa ditanam agar tidak kerja dua kali.

“Kalau sudah ditanam dan bermasalah tentu akan menggali kembali dan mengecek kembali. Namun sebelum di lakukan pengecekan pipa tersebut sudah terbakar sehingga proyek pun macet,” terangnya.

Senti pun mengamini bahwa pipa yang terbakar merupakan pipa PE sepanjang 2,5 kilometer atau 4 rol berukuran 2 inch. Yang masih bisa diselamatkan sekitar 300 meter saja dan itu pun juga sudah tidak diketahui keberadaannya.

Dari bak penampung ke perkampungan pun sudah terpasang dan ditanam di dalam tanah pipa PVC (polyvinyl chloride) ukuran 2 inch. Namun otomatis pipa-pipa ini pun tidak bisa dipergunakan sebab jaringan pipa dari mata air ke bak penampung belum terpasang.

“Banyak pipa yang juga sudah dipotong-potong masyarakat sesuai kebutuhan mereka padahal panjang satu pipa berukuran 100 meter. Kalau mau dilanjutkan proyeknya tentu pipa-pipa yang hilang harus dikembalikan,” pungkasnya.

Disaksikan Cendana News, saat melintasi areal persawahan di Magepanda di sekitar bak penampung, banyak pipa PE ukuran 2 inch yang berada di areal persawahan dan ada yang tergeletak di jalan dan kebun dan dipergunakan untuk menyalurkan air dari pompa air ke sawah atau kebun.

Beberapa pipa sudah terpotong berukuran panjang sekitar 30 meter dan ada yang 50 meter serta masih utuh 100 meter. Pipa-pipa tersebut juga berada jauh dari tempatnya semula akibat diambil masyarakat. Bahkan masyarakat diduga menggergajinya atau melepasnya dari sambungannya.
Jurnalis : Ebed de Rosary / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: