SENIN 21 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Kasus dugaan kekerasan pada anak yang menimpa bocah lelaki usia 1,5 tahun berinisial JM, terus berlanjut. Hari ini, Senin (21/11/2016), kuasa hukum orangtua korban memenuhi panggilan penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Kepolisian Daerah DI Yogyakarta, guna melengkapi keterangan saksi-saksi dan alat bukti lainnya.

Kepala Sub Direktorat IV Kekerasan Anak dan Wanita (Renakta) Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda DIY, Ajun Komisaris Besar Polisi Beja,


Unit PPA Polda DIY hari ini memeriksa sejumlah saksi dari pihak korban kekerasan pada anak yang menimpa JM, guna melengkapi dan memperkuat berkas perkara yang diperlukan. Terlihat datang memenuhi pemeriksaan, kedua orangtua Sartini (36), ibu dari JM dan anak kedua Sartini yang masih berusia 13 tahun berinisial DL.

Didampingi kuasa hukum korban, Taufiqurrahman, ketiganya datang memenuhi panggilan UPPA Polda DIY untuk memberikan keterangan. Taufiq mengatakan, anak kedua Sartini, yakni DL turut dipanggil sebagai saksi karena pernah melihat perilaku kekerasan yang dilakukan terlapor berinisial AC.

"DL ini pernah melihat AC saat mengangkat kaki JM dan melempar atau menjatuhkannya begitu saja di atas lantai beralas karpet. Kejadian ini terjadi pada 31 Desember 2015, malam hari, saat AC sedang mabuk", ujarnya.

Didampingi Taufiq, usai memberikan kesaksiaan kepada petugas, DL pun mengatakan, jika ia melihat perilaku kekerasan saat AC masih berumah di Klaten, Jawa Tengah. Waktu itu, kata DL, kejadiannya di ruang tamu dan AC sedang mabuk karena di atas meja ada botol minuman keras.

"Waktu itu kebetulan saja saya sedang main ke rumah AC untuk menemui ibu saya", ucapnya.

Dugaan kekerasan pada anak yang menimpa JM, anak dari Sartini yang merupakan warga Kampung Pucangsawit, Jebres, Solo, Jawa Tengah, menjadi perhatian luas karena berdasarkan keterangan saksi korban, kekerasan dan penyiksaan dilakukan sangat keji.

Seperti diberitakan sebelumnya, penyiksaan yang dilakukan antara lain, dengan memasukkan korban ke dalam kulkas, kemaluannya disiram kopi panas, perutnya ditempeli besi panas dan seterusnya, sehingga korban mengalami luka fisik dan traumatik.

"Atas kekejiannya itu, kami sangat prihatin dan sangat peduli pada kasus ini. Ada 100 advokat dari Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN) DI Yogyakarta yang akan mengawal kasus ini", ujar Taufiq.

Sementara itu, terkait kelanjutan kasusnya sendiri, Taufiq mengatakan jika saat ini memang masih dalam tahap pengumpulan bukti-bukti, antara lain dengan mengumpulkan kesaksian dari para saksi. Menurutnya, sudah ada 5 orang saksi yang dimintai keterangan.

"Kita juga masih menunggu hasil visum, yang akan menjadi alat bukit pelengkap", ujarnya.

Sementara itu, Kepala Sub Direktorat IV Kekerasan Anak dan Wanita (Renakta) Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda DIY, Ajun Komisaris Besar Polisi Beja, ditemui di tempat yang sama menjelaskan, sejauh ini pihaknya belum melayangkan panggilan terhadap Terlapor berinisiasl AC.

"Kami masih mengumpulkan keterangan dan alat bukti lain di antaranya hasil visum. Minimal ada dua alat bukti yang kuat, baru kita akan panggil terlapor", jelasnya.

Kendati secara sekilas pihaknya telah mengetahui hasil visum, namun secara formil hasil visum harus ada untuk dievaluasi dan dicocokkan dengan keterangan saksi-saksi.

"Sebaiknya meski kami belum melayangkan panggilan, terlapor diharap beritikad baik datang memberi keterangan. Tapi, nanti kita ada upaya hukum jika memang sudah cukup bukti, akan kita panggil", pungkasnya.

Jurnalis: Koko Triarko/Editor: Irvan Sjafari/Foto Koko Triarko
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: