JUMAT, 25 NOVEMBER 2016

SURABAYA --- Untuk menjadi anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), bukanlah hal yang mudah. Kontribusi besar bidang penelitian bagi masyarakat menjadi kunci utama untuk bisa dipertimbangkan menjadi anggota. AIPI sendiri dibentuk oleh Prof. BJ Habibie sebagai wadah atau komunitas bagi para pakar professional dari berbagai bidang dan berbagai kalangan di seluruh Indonesia. Ada beberapa komisi di dalamnya, yakni Komisi Bidang Imu Pengetahuan Dasar, Komisi Bidang Ilmu Rekayasa, Komisi Bidang Ilmu Sosial, dan Komisi Bidang Kebudayaan.

Prof Dr I Ketut Aria Pria Utama (kiri) menerima simbol pengukuhkan sebagai anggota AIPI oleh Sekjen AIPI Dr Budhi M Suyitno
Menjadi kebanggaan tersendiri karena salah satu sivitas akademika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof. Dr. I Ketut Aria Pria Utama M.Sc PhD CEng FRINA, guru besar Bidang Hidrodinamika Teknik Perkapalan dipercaya menjadi salah satu anggota Komisi Bidang Ilmu Rekayasa Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI).

Keanggotaannya secara resmi dikukuhkan oleh Ketua AIPI, Prof. dr. Sangkot Marzuki PhD DSc, dan Rektor ITS, Prof. Ir. Joni Hermana MScES PhD, dalam perhelatan Kuliah Inaugurasi di Rektorat ITS, Jumat (25/11/2016). Hal ini merupakan sebuah prestasi yang membanggakan, sebab ini merupakan kali pertamanya dosen ITS masuk menjadi anggota AIPI yang dibentuk oleh Prof. BJ Habibie tahun 1990 silam.

“Status keanggotaan di AIPI ini sifatnya seumur hidup,” ujar dosen Departemen Teknik Perkapalan ITS ini.

Disebutkan, pria yang akrab disapa Prof. Ikap ini menceritakan, pengalamannya bersama AIPI dimulai sejak roadshow AIPI pada tahun 2010 silam. Saat itu ia bersama dengan Prof. Gamantyo, salah satu dosen ITS juga, membawakan potensi kemaritiman yang ternyata cukup berpotensi diaplikasikan dalam industri kemaritiman Indonesia.

“Saat itu mereka (AIPI, red) terkagum-kagum dengan kemajuan ilmu kemaritiman di ITS,” tuturnya.

Pemilihan anggota AIPI ini menurutnya cukup menarik. Sebab ia tidak mencalonkan diri, melainkan direkomendasikan oleh rekan-rekan penelitinya. Pada tahun 2014, ia kemudian dikontak kembali oleh pihak AIPI agar mengirimkan Curriculum Vitae (CV) untuk dievaluasi. Hingga akhirnya, ia dinyatakan lolos sebagai anggota salah satu komisi di AIPI yang disahkan dalam rapat paripurna di rumah Prof. BJ Habibie.

Prof. Ikap memiliki ketertarikan besar dalam bidang ketahanan dan tenaga kapal, perancangan kapal, pendidikan maritim, serta hukum maritim. Berbagai prestasipun ia capai dalam bidang kemaritiman dan perkapalan. Selain bekerja sebagai dosen pengajar di ITS, pria kelahiran Denpasar itu menduduki beberapa posisi strategis seperti menjadi Honorary Secretary The Royal Institution of Naval Architecture (RINA) dan menjadi Co-Founder RINA Indonesia pada tahun 2005.

2006, ia menjadi Fellow Council Member RINA. Ia merupakan orang Indonesia pertama pada posisi prestisius tersebut dan pada tahun 2013, ia menjadi wakil Asia pada asosiasi profesi kemaritiman terbesar di dunia.

Prof Dr I Ketut Aria Pria Utama menyampaikan kuliah inaugurasi
Dalam perjalanan karirnya di bidang teknik perkapalan, Prof. Ikap telah meraih berbagai penghargaan nasional dan internasional. Pada 2013 ia menerima Satya Lencana Karya Satya 20 Tahun dari Presiden Republik Indonesia. Ia juga menjadi Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi bidang Kemaritiman sejak tahun 2014, serta menjadi anggota Komite Teknik Biro Klasifikasi Indonesia bidang struktur sejak tahun 2014.

Dalam lingkup internasional, ia dianugerahi PMI-2 Award for Higher Education Development oleh The British Council pada tahun 2010. Ia juga mengantongi Distinction Medal Award For the Outstanding Paper serta Certificate of Appreciation dari RINA.

Ia juga berhasil mengembangkan berbagai kolaborasi riset internasional yang sangat bermanfaat bagi peningkatan kualitas riset dan pengembangan iptek seperti kerjasama dengan Newcastle University dan mendapatkan pendanaan riset dari The British Council. Pun demikian, ia bahkan membangun kerjasama riset dengan Australia Indonesia Centre (AIC) serta membangun kolaborasi riset yang cukup besar dengan mendapatkan dana dari Newton Fund yang melibatkan enam institusi dari tiga benua serta empat negara.

Sebagai dosen di ITS, Ikap sangat berbangga menjadi bagian dari AIPI. Ia berharap mampu meningkatkan atmosfer penelitian di kampus serta mendorong dan merekomendasikan dosen-dosen ITS lainnya menjadi anggota AIPI di masa masa mendatang.

“Saya yakin, dosen-dosen ITS sangat berpotensi. Semoga dengan keanggotaan saya di AIPI, ITS semakin dipandang dengan prestasi prestasi risetnya yang prestisius,” pungkasnya.
Jurnalis : Nanang WP / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Nanang WP
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: