SELASA, 1 NOVEMBER 2016

SURABYA --- Dalam lawatanya ke Kota Surabaya, Prof. (em). Paul Connett, PhD seorang pejuang zero waste asal Amerika Serikat ditemani Froilan Grate seorang pegiat zero waste asal Asia. Lawatannya tersebut dalam rangka kegiatan yang bertajuk 'Zero Waste Hero Tour' yang telah berlangsung sejak 22 Oktober lalu hingga 4 November mendatang. Di Surabaya, Paul dan Froilan bertemu dengan Walikota Surabaya untuk mendiskusikan masalah strategi pengelolaan sampah dan circular economy.


Selanjutnya, mereka berdua mendapat undangan untuk mengisi kuliah umum di Kampus Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya yang bertajuk 'Mengatasi persoalan sampah Kota Surabaya dengan strategi circular economy dan visi Zero Waste' pada, Senin (31/10/2016).

Dalam memberikan materi, Prof. Paul Connett menjelaskan, paradigma pengolahan sampah yang hanya menekankan aspek sanitasi dan pengolahan hilir, harus dirubah menjadi pengolahan sumberdaya yang berkelanjutan. Pola-pola konsumsi dan produksi pada abad ke- 21 harus disesuaikan degan ketersediaan sumber daya alam, penghematan energi serta menghindari bencana ekologis akibat perubahan iklim dan polusi bahan toksik.

"Untuk itu, sistem ekonomi perlu diubah dari pola ekonomi linier manjadi ekonomi melingkar (circular economy), dengan desain produk yang lebih bersahabat dengan lingkungan, melakukan pengomposan, mendaur ulang dan menggunakan ulang," ujanya. Selain itu, lanjutnya, agar ekonomi dapat bersiklus, pemerintah kota perlu mengembangkan sistem edukasi, kelembagaan serta berbagai aspek kepemerintahan lainnya yang dapat memajukan ekonomi melingkar. 

Sementara itu, Froilan Grate menjelaskan mengenai Model Zero Waste. Model ini, Dia menerangkan, menitikberatkan pada pengelolaan sampah sejak dari sumber. Sampah sudah dipisahkan sejak awal dan kemudian dikelola oleh kelurahan.

Dia mencontohkan, undang-undang pengelolaan sampah di Filipina mengharuskan setiap kelurahan menjalankan sistem pengumpulan sampah terpilah dan sarana pemulihan material (Material Recovery Facillity atau MRF). Pemerintah kota bertanggungjawab untuk mengangkut material residu, sampah yang tidak dapat dikomposkan atau didaur ulang. Konsep tersebut dapat dijalankan dalam waktu singkat, mengurangi sampah yang harus dikirim ke TPA lebih dari 80 persen. 

"Ini dapat meningkatkan kesejahteraan petugas pengumpul sampah dan menghemat pengangkutan sampah dan tipping fee TPA secara signifikan," tegasnya. 

Jurnalis : Nanang Wp / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Nanang Wp
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: