MINGGU, 13 NOVEMBER 2016

LARANTUKA --- Bicara Meko, orang pasti mengaitkannya dengan sebuah pulau berpasir putih sepanjang sekitar 250 meter dengan lebar sekitar 50 meter. Gundukan pasir putih ini akan tertutup bila air laut sedang pasang. Meski demikian bentangan pasir putih yang tersisa masih luas buat 'dicumbui'. Saat air pasang pulau Meko hanya tersisa sekitar 20 meter saja namun gundukan pasir di area pulau yang tetap terihat bisa setinggi 50 sentimeter.


Kamilus Tupen Jumat, seorang teman warga Witihama kepada Cendana News di pulau Adonara, Sabtu (12/11/2016) menyebutkan, pulau Meko lebih sering disambangi wisatawan asing. Beberapa turis asing dengan kapal pesiar pribadi sering menepi dan bermalam di pulau ini dengan mendirikan tenda. Bulan Juli dan Agustus menjadi waktu teramai pulau ini dikunjungi wisatawan asing.

“Kalau hari biasa, pulau ini hanya disinggahi satu dua wisatawan asing saja. Bila mau melihat dan menikmati seluruh pulau harus maksimal jam delapan pagi sudah ada di sini,“sebutnya.

Pulau pasir putih Meko dan beberapa gugusan pulau kecil di sekitarnya masuk dalam wilayah desa Pledo kecamatan Witihama kabupaten Flores Timur. Jika ingin ke pulau ini wisatawa bisa menggunakan kapal motor.

Ada dua rute bila ingin ke Meko yakni menggunakan kapal carteran atau kapal motor umum. Kapal motor carteran bisa melewati dua rute yakni melalui barat dari Tajo Gemo (Tanjung Gemuk)  hingga ke ujung timur atau lewat timur daerah Sagu baru ke Meko.

Jika membawa sepeda motor. maka dari dermaga Larantuka menyebrang ke Waiwerang lalu turun di dermaga ini dan melaju ke timur arah Witihama hingga tiba di dusun Meko 3 desa Pledo.


Kisah Mama Nogo

Kata Meko dituturkan Bernard Nara Gere, warga Witihma lainnya, berasal dari kata Beko yang dalam bahasa Adonara berarti “ mengambil dari dalam “. Nama ini penuh arti sejarah, dimana dulunya sebelum banyak dihuni penduduk, di pantai Meko terdapat sebuah batu berlubang yang selalu disambangi seorang mama tua asal desa Sandosi bernama Nogo.

Mama Nogo kisah Bernard, sering datang ke lubang batu tersebutguna mengambil ikan yang terperangkap di dalamnya saat air surut. Ikan berjumlah banyak tersebut oleh mama Nogo dibawa ke pasar untuk dibarter dengan jagung titi, singkong dan bahan makanan lainnya.

Suatu ketika sambungnya, mama Nogo mendatangi lubang batu tersebut hendak mengambil ikan seperti kebiasaan yang kerap dilakoni selama ini. Saat tangannya hendak mengeuarkan ikan dari dalam lubang tersebut, tangannya tersangkut dan tidak bisa dikeluarkan. 

Mendengar teriakan mama Nogo, orang kampung berdatangan dan berusaha menolong namun semua usaha sia – sia dan tangan mama Nogo tetap tak bisa dikeluarkan. Akhirnya penduduk desa pun membiarkan keadaan mama Nogo dan meninggalkannya sendirian di tempat tersebut.

Keesokan paginya saat air laut surut dan disambangi di tempat tersebut, mama Nogo tidak ditemukan meski penduduk kampung sudah mencarinya kemana–mana. Beko tersebut dalam bahasa sastra Adonara jelas Bernard disebut “Nogo Soron Lima“. 

“Kata Beko bila diucapkan dirasakan tidak etis sehingga diplesetkan menjadi Meko dan nama tersebut terbawa hingga kini. Kepercayaan masyarakat kami, bila mengambil atau menikmati sesuatu terus menerus dan tanpa membuat ritual pengucapan syukur maka akan ada petaka,“bebernya.

Pulau pasir putih Meko termasuk 10 pulau berpasir putih terbaik di Indonesia. Meski demikian. Pulau Meko lebih akrab di telinga wisatawan mancanegara. Hampir saban minggu ada saja penikmat wisata asing tersebut mampir sekedar berfoto, menyelam, bermalam bahkan melakukan sesi foto pre wedding di pulau mungil ini. 
Jurnalis : Ebed de Rosary / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: