RABU 2 NOVEMBER 2016
PONOROGO - Puluhan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ponorogo yang tergabung kedalam beberapa organisasi mahasiswa menggelar aksi menuntut pencairan anggaran tahun 2016-2017 didepan lapangan rektorat, Rabu (2/11/2016). 

Aksi teaterikal mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ponorogo
 

Beberapa mahasiswa terlihat melakukan aksi teatrikal mengisahkan kesulitannya saat dana tidak turun. Setelah teatrikal, mahasiswa menggalang tanda tangan untuk mencari pendukung agar dana segera turun.

Koordinator aksi, Rizky Wahyu Danang menjelaskan ada tiga tuntutan yang ingin disampaikan kepada ketua STAIN Ponorogo. Pertama, mahasiswa meminta pihak pimpinan STAIN

Ponorogo agar mendesak pemerintah pusat terkait untuk mencairkan anggaran mahasiswa KBM STAIN Ponorogo. Kedua, mahasiswa meminta pihak pimpinan agar meembuat kebijakan

prioritas kepada organisasi intra yang memiliki agenda mendesak.

"Dan ketiga mahasiswa meminta kepastian kapan pencairan anggaran yang belum terserap pada periode 2016-2017," jelasnya kepada Cendana News.

Ditanya apakah ada indikasi penyelewengan terkait terblokirnya pencairan dana, Rizky menegaskan ini bukan dari pimpinan STAIN, namun kebijakan dari pemerintah pusat.

"Kami akan berkoordinasi dengan pimpinan semoga ada hasil yang memuaskan," ujarnya sembari bergegas bertemu dengan perwakilan pihak rektorat.

Usai menunggu 30 menit, Waka 1 Akademik, Dr. Basuki mengutarakan hasil pertemuan. Yakni memenuhi semua tuntutan mahasiswa terkait anggaran.

"Kami akan segera mencairkan anggaran Rp 20 juta dibagi 4 lembaga, karena 4 lembaga merupakan organisasi inti dan memiliki agenda mendesak," tuturnya.

Basuki menambahkan dari anggaran 100% yang bisa dicairkan hanya 70%, akibat adanya pemblokiran dari pemerintah pusat.

"Perhitungannya 70% dari Rp180 juta, didapatkan Rp126 juta dan baru Januari 2017 baru bisa cair," tegasnya.

Usai mendapatkan kejelasan tersebut puluhan mahasiswa pun membubarkan diri dan kembali melakukan aktifitas perkuliahan seperti biasa.


Jurnalis: Charolin Pebrianti/ Editor: Irvan Sjafari/Foto: Charolin Pebrianti
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: