RABU, 30 NOVEMBER 2016
LAMPUNG---Kepedulian para relawan literasi Pustaka Bergerak yang mengunjungi Pulau Rimau Balak dengan membawa ratusan buku tak hanya mempedulikan tentang pendidikan anak bangsa di pulau terluar. Selain membawa ratusan buku untuk dibaca bagi anak anak usia Sekolah Dasar (SD) para relawan Pustaka Bergerak yang terdiri dari Pustaka Bergerak Kuda Pustaka, Motor Pustaka, Onthel Pustaka dan Perahu Pustaka juga melakukan kegiatan konservasi pantai di Pulau Rimau Balak dengan melakukan penanaman beberapa pohon mangrove. Penanaman bibit mangrove dilakukan bersama warga masyarakat Pulau Rimau Balak yang masuk ke Desa Sumur Kecamatan Ketapang Lampung Selatan.

Relawan Pustaka Bergerak melakukan penanaman mangrove.
Penggagas Pustaka Bergerak, Nirwan Ahmad Arsuka, yang secara langsung memimpin penanaman mangrove di sekitar dermaga Pulau Rimau Balak yang hanya terbuat dari batang kayu semi permanen mengungkapkan, perlu ada kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan. Kepedulian kepada masyarakat dilakukan dengan memberikan bantuan buku-buku yang akan selalu dibaca oleh masyarakat khususnya bagi para anak usia sekolah dengan secara berkelanjutan mengunjungi Pulau Rimau Balak untuk membawa buku bacaan.

"Keberlanjutan pada lingkungan juga kita lakukan sebagai bentuk kepedulian relawan literasi dari Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Lampung untuk menanam mangrove sebagai tanaman konservasi berkelanjutan dalam menjaga pantai dari abrasi air laut dan angin," terang pelopor Pustaka Bergerak Indonesia, Nirwan Ahmad Arsuka kepada Cendana News di Pulau Rimau Balak, Rabu (30/11/2016).

Para relawan literasi Pustaka Bergerak bersama anak-anak.
Setelah meninggalkan beberapa buku yang akan dibaca oleh puluhan anak yang bersekolah di SDN 5 Sumur dan akan kembali lagi untuk mengganti buku bacaan dengan tema yang lain, para relawan juga sempat meninggalkan pohon-pohon mangrove yang akan tumbuh subur di sekitar perumahan warga. Tanaman mangrove yang secara inisiatif ditanam warga sebagai sabuk hijau (green belt) pantai ditanam secara berjajar dan terbukti efektif bisa digunakan sebagai penahan angin, penahan gelombang dan abrasi dari gelombang laut di Selat Sunda. Selain itu daun-daun mangrove digunakan warga sebagai bahan makanan bagi ternak kambing.

Salah satu warga, Burhan (45), mengaku sebagian masyarakat sengaja menanam mangrove sabagai bahan pangan bagi ternak kambing namun saat besar tanaman mangrove bisa digunakan sebagai bahan kayu bakar, bahan bangunan. Namun selama tanaman mangrove hidup, Burhan mengaku, memiliki banyak manfaat untuk kehidupan ikan-ikan, kepiting bakau, dan kerang yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan bagi masyarakat sekitar pulau.

"Awalanya, lahan ini menjadi lahan tambak yang terbengkelai dan kami tanami sebagian dengan pohon bakau sebagai penahan abrasi agar masyarakat tidak terancam bencana," ungkap Burhan.

Wilayah tersebut sebagian memang dalam kondisi gersang akibat terkikis ombak pantai. Sebagian masyarakat sengaja menanam tanaman jenis sagu, mangrove, dan pohon kelapa di sepanjang pesisir yang didominasi lumpur dan batu karang tersebut. Tumbuh suburnya pohon-pohon bakau di wilayah Pulau Rimau Balak juga mempengaruhi kehidupan biota laut di sekitar wilayah tersebut di antaranya berkembangnya karang-karang dan koral yang tumbuh subur dan digunakan sebagai spot menyelam para penghobi menyelam (diving) dengan banyak ikan hias di antara karang.

Burhan mengungkapkan, ada sekitar puluhan hektar lahan mangrove yang sengaja dirawat masyarakat. Sementara sebagian besar vegetasi mangrove di wilayah tersebut tumbuh secara liar dan menjadi benteng alami bagi puluhan warga yang tinggal di pulau Selat Sunda tersebut. Dalam kondisi air pasang warga tak perlu khawatir tergenang air laut karena sebagian besar mangrove yang memiliki akar tinggi dan menjadi semacam pagar tersebut ikut membantu dalam menahan pergerakan air laut dan bisa menjadi habitat alami berbagai jenis ikan.

Penggagas Perahu Pustaka, Radmiadi, mengaku akan sering mengunjungi Pulau Rimau Balak untuk membawa buku bagi anak-anak usia sekolah dasar di wilayah tersebut. Selain itu jika ada relawan yang bersedia ikut untuk kunjungan selanjutnya maka penanaman pohon mangrove akan lebih digencarkan lagi mengajak masyarakat untuk menghijaukan Pulau Rimau Balak di bagian pesisir pantai.

"Kunjungan kita sebagai Perahu Pustaka tidak akan sekali saja namun masih akan tetap berlanjut dengan bergiliran di beberapa pulau dan perhatian terhadap rehabilitasi pantai dan konservasi akan kita agendakan," ungkap Radmiadi.

Menyesuaikan kehidupan di Pulau Rimau Balak, selain buku bacaan anak-anak, beberapa buku bacaan kaum dewasa dan orang tua pun disiapkan di antaranya tentang tata kelola pesisir pantai, budidaya ikan dalam keramba, bercocok tanam sayur mayur, serta konservasi batu karang. Buku-buku tersebut merupakan sumbangan dari para donatur dan sebagian dibeli secara pribadi oleh Radmiadi untuk menambah ilmu pengetahuan masyarakat di Pulau Rimau Balak. Ia bahkan mengaku kedatangan para relawan literasi dari seluruh Indonesia mewakili simpul Pustaka Bergerak sangat mendorongnya untuk mengembangkan Pustaka Bergerak dan ikut serta dalam melestarikan Pulau Rimau Balak melalui penanaman pohon bakau.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: