SABTU, 19 NOVEMBER 2016
SOLO---Ribuan warga rela berdesak-desakan, bahkan terinjak-injak, dalam tradisi sebaran apem Yaqowiyyu di Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Sekitar lima ton kue apem hasil swadaya  masyarakat sekitar disebar dalam puncak perayaan Yaqowiyyu tersebut.

Salah satu panitia, Muhamad Daryanto mengatakan, tradisi Yaqowiyyu telah turun temurun digelar sejak ratusan tahun silam. Tradisi ini dimulai oleh Kanjeng Kyai Ageng Gribig, salah satu ulama ternama penyebar agama Islam di wilayah lereng Gunung Merapi.

“Tradisi ini sudah berlangsung sangat lama. Inti dari perayaan ini adalah bagaimana mewujudkan syukur kepada Tuhan dengan makan kue apem bersama,” ujarnya kepada awak media, Sabtu (19/11/2016).


Muhamad Daryanto, salah seorang panitia acara tradisi sebaran apem di Klaten.

Diceritakan, konon, usai menjalankan ibadah suci di Mekkah, Kyai Ageng Gribig mengajak warga membuat makanan bernama kue apem. Kue tersebut selanjutnya dibagikan kepada masyarakat dan dinikmati bersama-sama “Kue apem sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Arab, yakni affun yang artinya pengampun. Sedangkan Yaqowiyyu sendiri juga berasal dari Asmaul Husna, yakni Ya Qowiyyun yang artinya Yang Maha Kuat,” urainya.

Tradisi Yaqowiyyu yang tetap mempunyai daya tarik dan dirayakan dengan penuh kebahagiaan oleh warga Klaten.   

Prosesi tradisi ini diawali dengan mengarak kue apem dari Masjid Besar Jatinom, menuju lapangan Plampeyan atau oro-oro agar diperebutkan warga. “Dalam tradisi ini, banyak sekali makna filosofi keislaman yang kita lestarikan hingga saat ini,” tandasnya.

Keriuhan masyarakat Klaten begitu sabar menunggu apem yang disebar dari podium.

Dalam tradisi sebaran apem ini, ribuan, bahkan belasan ribu orang membaur di lokasi yang digunakan untuk prosesi sebaran apem. Tanpa menghiraukan keselamatan, ribuan warga saling berebut kue apem yang dilemparkan dari podium dan menara.

Gunungan tempat makanan yang diperebutkan secara terbuka.
Tua-muda, laki-laki dan perempuan, larut dalam puncak tradisi yang digelar setiap bulan Safar dalam penanggalan Jawa. Mereka yang datang bukan hanya warga setempat, tapi juga dari luar kota Klaten. Warga meyakini, kue apem yang didapat bakal mendatangkan berkah.

“Hanya dapat satu. Tapi, ini akan saya tanam. Mudah-mudahan dapat memberikan berkah, dengan hasil panen yang melimpah,” kata Watik, salah satu warga Boyolali, yang mengaku setiap tahun mengikuti tradisi sebaran apem tersebut.

Jurnalis: Harun Alrosid/ Editor: Satmoko / Foto: Harun Alrosid
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: