RABU, 16 NOVEMBER 2016

MAUMERE---Ritual adat Gren Mahe yang biasa dilaksanakan etnis Tana Ai di wilayah timur Kabupaten Sikka hendaknya dikemas dengan baik sehingga bisa menjadi sebuah wisata adat dan budaya.

Demikian disampaikan Bupati Sikka, Drs. Yoseph Ansar Rera, saat menghadiri ritual adat Gren Mahe di Desa Ilimedo Kecamatan Waiblama, Selasa (15/11/2016), sore.
Para pemuka masyarakat.


Dikatakan Ansar, sapaannya, upacara Gren Mahe yang dilaksanakan lima sampai tujuh tahun sekali merupakan sebuah bentuk mempertahankan tradisi.

"Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada masyarakat Desa Ilimedo Kecamatan Waiblama yang telah menggelar ritual adat ini sebagai bentuk mempertahankan adat dan budaya," ujarnya.

Warisan leluhur ini, tambah mantan Sekda Ende ini, ke depannya perlu dikemas dengan baik sehingga bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal serta wisatawan asing.
Suasana upacara ritual adat Gren Mahe.


Sementara itu, Ketua DPRD Sikka, Rafael Raga, SP, dalam kesempatan tersebut meminta agar ritual adat ini tetap diwariskan kepada anak cucu agar adat dan budaya Tana Ai tetap lestari.

Lebih lanjut, putra Tana Ai ini mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Sikka, khususnya warga Tana Ai agar selalu bergandengan tangan membangun Kabupaten Sikka.
Suasana ritual adat Gren Mahe.

"Mari kita bekerja sama bergandeng tangan menuju satu Sikka yang lebih baik, berbudaya, dan berkarakter," pintanya.

Disaksikan Cendana News, sejak pagi jam 08.00 WITA, seluruh warga delapan suku etnis Tana Ai yang berasal dari Desa Ilimedo Kecamatan Waiblama yang menetap di desa tersebut maupun di beberapa wilayah di Kabupaten Sikka ikut terlibat di acara ini.
Masyarakat berkumpul di lapangan terbuka.

Hadir dalam ritual adat ini pula, anggota DPR RI Komisi V Syahrulan Pua Sawa, anggota DPRD Sikka Yohanes Yudas Gobang, serta Kadis Pariwisata Sikka, Drs.Kensius Didimus. Juga hadir Kabag Humas Sikka, Germanus Goleng, Camat Waiblama Patrisius, para kepala desa se Kecamatan Waiblama, para Ketua BPD se Kecamatan Waiblama, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

Jurnalis: Ebed de Rosary/ Editor: Satmoko/ Foto: Ebed de Rosary








Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: