MINGGU, 20 NOVEMBER 2016

ENDE --- Setiap bulan September tepatnya di awal bulan, komunitas adat Saga yang terletak di desa Saga kecamatan Detusoko menggelar ritual adat Nggua, pesta syukuran pasca panen. Kampung adat Saga berjarak sekitar 23 kilometer arah timur ibukota kabupaten Ende. Dari jalan negara trans Ende-Maumere, kampung adat Saga berjarak sekitar empat kilometer arah selatan dan berada di puncak bukit, ujung perkampungan.

Rumah adat (Sa’o) yang berbentuk rumah panggung
Sa’o atau rumah adat merupakan bangunan yang tidak dimiliki dan ditinggali warga kebanyakan. Membangun rumah adat ini pun penuh dengan upacara. Sebelum pemotongan kayu yang hendak digunakan sebagai bahan bangunan, terlebih dahulu dilaksanakan ritual adat khusus.

Saat seremonial adat sebelum melakukan pemotongan kayu sampai kepada  proses pengerjaannya, hanya mereka yang termasuk jajaran struktur Mosalaki (ketua suku) yang yang terlibat dalam membangun sa’o. Sementara itu, masyarakat adat biasa (faiwalu anakalo) tidak dilibatkan secara langsung dalam proses itu.

Pondasi Batu Ceper

Kampung adat Saga berada di puncak bukit tertinggi di ujung selatan desa Saga. Kampung adat Saga ini dahulunya merupakan perkampungan yang ditinggali penduduk Saga. Struktur tanah di perkampungan ini berbukit-bukit. Rumah-rumah adat (Sa’o) sebanyak sekitar 22 rumah, dibangun di tanah rata bertingkat dimana bagian pinggirnya di susun bebatuan sebagai penahan. Batu ceper disisipkan di celah-celah bebatuan yang berfungsi sebagai anak tangga.

Mosalaki Saga, Gregorius Gato yang ditemui Cendana News di kampung adat Saga Sabtu (19/11/2016) memaparkan, di lokasi kampung adat yang ada saat ini dahulunya merupakan perkampungan dan dihuni orang. Rumah-rumah adat berukuran besar milik suku-suku dibangun dimana sebuah rumah bisa dihuni hingga belasan kepala keluarga.

“Dulunya kampung ini ramai sekali namun setelah terjadi gempa hebat yang melanda Flores tahun 1992, beberapa rumah mengalami kerusakan dan banyak warga yang mengungsi dan membangun rumah di bagian bawah bukit, kampung yang sekarang ada,” ujarnya.

Rumah adat atau struktur rumah asli komunitas adat Saga hampir sama dengan rumah adat etnis Lio lainnya. Struktur atap berbentuk kerucut dengan empat sisi dimana atap terbuat dari ilalang dan diikat memakai ijuk. Tinggi atap bisa mencapai tujuh meter. Seluruh tiang dan lantai serta dinding rumah adat terbuat dari kayu.

Pusat ritual yang berupa tanah lapang yang juga diakai sebagai tempat menari Gawi
Pondasi  rumah ditopang  sembilan batu ceper berukuran besar yang ditanam di dalam tanah cukup untuk menahan beban rumah sehingga tidak perlu melakukan penggalian untuk membuat pondasi. Tinggi batu tersebut dari permukaan tanah sekitar 60 hingga 100 cm sehingga membuat struktur rumah berbentuk rumah panggung.

“Batu-batu ceper ini diambil dari bukit yang jaraknya puuhan kilometer dari kampung. Mengangkutnya menurut penuturan oarng tua dahulu, dilakukan secara magis,” sebutnya.

Lantai rumah adat Saga dan etnis Lio tersusun dari papan-papan yang disusun sejajar satu arah. Desain lantai rumah adat ada dua jenis, yaitu lantai luar dan lantai ruang dalam, kedua lantai ini tidak dipisahkan oleh dinding melainkan dipisahkan oleh perbedaan tinggi lantai.

Lantai ruang luar lebih rendah dibandingkan lantai ruang dalam. Bagian dalam terdapat juga dapur dan saat ritual adat ditempati kaum perempuan. Bagian teras rumah persis setelah tangga pintu rumah dibiarkan lapang tanpa kursi sehingga semua orang bisa duduk bersila saat berkumpul.

Butuh Biaya Besar

Philipus Kami, ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Nusa Bunga yang juga keturunan dari salah satu Mosalaki Saga kepada Cendana News menjelaskan bahwa keseluruhan bentuk bangunan rumah adat menyerupai bagian tubuh manusia. Tiang utama atau diidentikkan dengan leher, kuda-kuda sebagai penopang bubungan ibarat kedua tangan, dinding ibarat rusuk, tiang penyangga ibarat kaki, sedangkan atap ibarat kepala.

“Saat kecil saya merasakan tinggal di dalam Sa’o di kampung adat ini. Ada 12 kepala keluarga yang tinggal di dalamnya dan semua hidup aman dan rukun,” tuturnya mengenang.

Sebelum gempa tahun 1992, lanjut Lipus, perkampungan adat ini sangat ramai dan banyak Sa’o yang ada di tempat ini. Namun saat ini hanya tersisa puluhan saja sebab membangun sebuah Sa’o memiliki biaya besar dan melibatkan banyak orang.

“Rumput ilalang untuk atapnya, harus dibeli dari kabupaten lain seperti Manggarai, Sikka dan Flores Timur. Satu buah rumah adat bisa membuthkan rumput hingga belasan truk,” terangnya.

Tidak semua orang bisa masuk atau tinggal dalam sa’o nggua, dan juga tidak setiap saat digunakan. Yang boleh masuk dan tinggal di dalam sa’o nggua hanya tetua adat (mosalaki) beserta anggota keluarganya. Hak ahli waris diturunkan secara turun-temurun kepada garis keturunan laki-laki (patriarkhi).

Tangga yang terletak di bagian depan dan belakang persis di pintu, dibuat dari kayu atau batu-batu ceper yang ditumpuk bersusun. Setiap tamu dijamu di teras bagian depan baik saat hari biasa atau saat ritual adat.

“Selain sebagai rumah tinggal,Sa’o juga sangat penting saat ritual adat dimana di rumah adat ini segala makanan dan minuman disiapkan oleh para perempuan anggota suku,” pungkasnya.

Rumah adat di kampung adat Saga letaknya ada yang dekat dan ada yang berjauhan. Dalam satu areal tanah rata ada satu atau dua saja Sa’o dimana antara Sa’o yang satu dengan lainnya di bagian atas dihubungkan melalui tangga dari batu ceper.

Gerbang pintu masuk kampung adat Saga
Dinding  pembatas antara satu areal di bagian bawah dengan bagian atas disusun dari batu-batu ceper. Depan Sa’o terdapat kuburan yang ditutup menggunakan batu-batu ceper berukuran besar dimana di bagian pinggirnya disusun bebatuan yang ukurannya lebih kecil.
Jurnalis : Ebed de Rosary / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: