SELASA 29 NOVEMBER 2016

BALIKPAPAN --- Sebanyak 175 orang meninggal akibat penyakit HIV/AIDS hingga Agustus 2016. Kasus penderita HIV/AIDS setiap tahun terus mengalami peningkatan, bahkan apabila dihitung secara akumulasi hingga Oktober 2016 telah mencapai 1.302 penderita. Meningkatnya jumlah kasus penderita HIV/AIDS ini seperti fenomena gunung es yang tak bisa hilang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan Balerina JPP
"Kasus meningkat juga tim Dinas Kesehatan yang melakukan edukasi melalui penyuluhan pada masyarakat yang beresiko, sehingga kesadaran muncul untuk memeriksakannya ke Voluntary Counsuling Test (VCT)," jelas Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan Balerina, didampingi Dr.Esther Vonny K, MMR selaku Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Selasa (29/11/2016).

Berdasarkan data DKK tahun 2016 ditemukan kasus baru HIV/AIDS sebanyak 173 penderita, tahun 2015 mencapai 222 penderita, dan 2014 sebanyak 158 penderita. Adapun penderita yang meninggal dunia tahun 2016 terdapat 6 orang, tahun 2015 sebanyak 8 orang, dan 2014 mencapai 7 orang.

Balerina mengatakan penularan HIV masih didominasi dari pengguna narkoba baik dari jarum suntik maupun hubungan seksual. Namun diakui penderita HIV berasal dari kalangan yang memiliki resiko seks.

"Kebanyakan dari pengguna narkoba yakni pada jarum suntik. Dari kalangan LGBT ada tapi berapa persennya saya nggak tahu,” tandasnya.

Vony merincikan bahwa HIV ini memiliki gelombang penularan penyakit dari homoseksual, lalu penyalahgunaan obat-obatan, wanita atau pria tuna susila, pelanggan WTS, pelanggan yang membawa pulang penyakit lalu terkena istri atau suami atau pacararnya, dan anak-anak.

Sekarang itu menurut Vonny sudah di era anak-anak. Dari 173 kasus (sampai Oktober)  itu ada 36 kasus perempuan, dan 137 laki-laki. Lalu usia kurang 4 tahun ada 5 kasus, kurang  dari usia 15  tahun ada  2 kasus. Usia 15-19 tahun terdapat 3 kasus. Usia 20-24 tahun ada 14 kasus,   usia usia 25-49 tahun ada 64  kasus dan  Lebih dari 50 tahun terdapat 3 kasus,” rincinya.

"Makin muda makin banyak, gelombang itu cocok anak-anak yang tidak tahu apa-apa kena dampaknya," sambung Vonny.

Untuk menekan angka penularan penyakit HIV/AIDS itu, pihaknya terus melakukan penyuluhan pencegahan dengan menjangkau warga binaan dan konseling pada warga yang beresiko, pencegahan juga dilakukan pada ibu hamil dengan melakukan pemeriksaan atau screening.

"Dalam pencegahan ini seperti penyuluhan tidak hanya pada yang beresiko, tapi edukasi ke warga lainnya bentuk-bentuk penularannya agar jika ditemukan positif tidak langsung diskriminasi," tambahnya.

Selain itu, anggaran untuk pencegahan terhadap HIV/AIDS pada tahun ini sebesar Rp200 juta. Anggaran itu turun dari tahun sebelumnya.

Jurnalis: Ferry Cahyanti/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Ferry Cahyanti


Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: