JUM'AT, 11 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA---Menyusul semakin seringnya terjadi banjir dan tanah longsor di Sleman, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, mengimbau agar warga lebih memperhatikan saluran air dan kondisi tebing yang berdekatan dengan pemukiman. Pasalnya, banjir dan tanah longsor saat ini lebih sering disebabkan oleh hujan besar yang datang tiba-tiba, sehingga saluran air tak mampu menampung debit air.


Sepanjang pekan ini, di sejumlah tempat di Sleman dan Kota Yogyakarta mengalami longsor dan banjir. Kendati longsor yang selama ini terjadi masih dalam skala kecil, namun kerugian materi yang diakibatkan cukup menjadi beban bagi warga yang rumahnya terkena longsor. 

Terkait hal itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Kunto Riyadi, ditemui di ruang kerjanya, Jumat (11/11/2016) mengatakan, selama ini daerah rawan longsor besar telah dipetakan, terutama di daerah lereng-lereng curam, dan daerah spesifik seperti Prambanan yang memiliki banyak bukit-bukit batu.


Selama ini, kata Kunto, potensi rawan longsor besar yang dikhawatirkan terjadi juga sudah dipetakan dan ada di tiga desa, yaitu Turi, Pakem dan Prambanan yang daerahnya memang berbukit-bukit.

"Namun, ternyata daerah-daerah rawan longsor besar yang sudah terpetakan itu hingga kini belum terjadi longsor. Justru kejadian-kejadian longsor kecil melanda tebing-tebing yang tidak terpetakan seperti tebing-tebing jalan dan lereng sungai seperti yang beberapa hari lalu terjadi di Mlati, Seyegan, Purwomartani dan lainnya", ungkapnya.

Terkait hal itu pun, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman, Makwan menjelaskan, akhir-akhir ini hujan besar justru terjadi di atas atau sebelah utara, sehingga daerah-daerah bawah seperti Kecamatan Depok, Mlati dan kota yang terkena imbasnya berupa kiriman banjir atau meluapnya air sungai.


Sekarang ini, jelas Makwan, pola longsor terjadi karena hujan deras sehingga menimbulkan kerawanan. Limpasan air dari atas mengancam saluran-saluran air yang ada di jalan dan tebing-tebing jalan. Beberapa rumah yang mengalami longsor beberapa hari lalu, katanya, juga disebabkan oleh pembangunan rumah yang berada di pinggir tebing tanpa memperhatikan kondisi talud.

Kerawanan bencana longsor saat ini, jelas Makwan, masih harus diwaspadai hingga  cuaca ekstrim ini berakhir. Cuaca ekstrim, kata Makwan, adalah situasi hujan yang sangat lebat tapi pendek, sehingga sistem atau drainase yang sudah dibangun tidak mampu menampung air karena tingginya curah hujan.

Sebenarnya, lanjut Makwan, tingginya curah hujan saat ini selain diwaspadai juga harus bisa dimanfaatkan sebagai sumber air dengan membangun embung-embung, sumur resapan dan biopori. Sumur resapan yang telah dibangun warga, juga harus dirawat, karena jika terlalu banyak endapan akan mengurangi kemampuan resapan.

"Kami akan menggerakkan warga untuk melakukan itu, sehingga curah hujan yang sangat tinggi ini juga bisa memberi manfaat", pungkasnya.

Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: