SABTU, 12 NOVEMBER 2016

PEGUNUNGAN BINTANG --- Tentara Nasonal Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) temukan kampung yang tak ada dalam peta dan catatan Negara Indonesia. Kampung tersebut diberi nama Digi oleh sesepuh adat setempat.

Prajurit Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Raider 700WYC berpose bersama warga Kampung Digi
Penemuan kampung ini tanpa disengaja saat prajurit TNI AD dari Satuan Tugas (Satgas) Pengaman Perbatasan (Pamtas) RI-PNG Yonif Raider 700 Wira Yudha Cakti melakukan patroli patok batas Meredian Monumen (MM) 7.2 yang tak jauh dari kampung Digi tersebut.

Kampung Digi dengan luas 500 meter persegi ini berjumlah lima kepala keluarga (KK) dengan total keseluruhan lebih dari 30-an jiwa ini, sebelumnya dihuni lebih dari 100 jiwa. Lantaran tak mengetahui mereka berada dibawah naungan Negara Indonesia (RI) atau Papua New Guinea (PNG). Tak jarang mereka selalu menyeberang kewilayah Negara PNG.

Rumah penduduk yang keseluruhannya terbuat dari bahan tradisional yakni kayu dan daun sagu, dengan jarak antar rumah kurang lebih 10 hingga 20 meter. Suku yang mendiami kampung Digi ini adalah suku Digibin.

Kepala Suku Kampung, Terry Digibin mengaku hingga saat ini kampung mereka belum pernah dikunjungi Pemerintah Indonesia. Kampung ini, lanjutnya tak ada dalam daftar administrasi pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang, sehingga ia bersama penduduk setempat bingung harus mengadu kemana, setiap persoalan yang ada ditengah-tengah mereka.

“Kampung ini kami beri nama Digi diambil dari fam (marga) kami Digibin,” kata Terry ke Cendana News belum lama ini.

Masyarakat disini, dikatakan Terry keseharian berkebun dan berburu untuk menyambung hidup sehari-hari. Pendidikan? mereka belum memiliki fasilitas pendidikan sama sekali, lantaran tak ada pemerintah dari Indonesia aupun PNG yang menyediakan fasilitas tersebut dikampung yang terisolir ini. 

“Untuk makan kami sehari-hari makan keladi, sagu, petatas dan hasil buruan kami dihutan,” ujarnya.

Hutan sejuta obat, itulah dasar pengobatan masyarakat setempat untuk mengobati warga yang sakit secara tradisional dan kepercayaan mereka. Bahasa sehari-hari mereka gunakan bahasa daerah Dumnye, sebagian besar penduduk setempat tak dapat berbahasa Indonesia.

“Warga disini hanya bisa bahasa Dumnye dan bahasa Fiji asal PNG. Bahasa Indonesia sangat susah digunakan,” diungkapkannya.

Ditempat terpisah, Komandan Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Raider 700/WYC, Letkol Horas Sitinjak mengakui adanya kampung di wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang belum terdaftar dalam adminstrasi pemerintahan.

“Ia benar, anggota saya saat melakukan patroli patok batas, temukan satu  kampung yang sama sekali belum tersentuh pemerintah. Di dalam peta tak ada, tapi ternyata  disana ada kampung. Ini sudah kami laporkan ke pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang,” kata Letkol Inf Horas Sitinjak, Sabtu (12/11/2016).

Dirinya juga mengaku sebagian besar masyarakat dikampung Digi tak tahu sebenarnya mereka warga Negara Indonesia atau PNG. Namun yang pasti dikatakan Horas, kampung tersebut masuk wilayah Indonesia. “Kampung ini masuk wilayah Indonesia, dan berada pada titik koordinat 9732-2580,” ujarnya.
Jembatan tradisional milik menuju kampung Digi
Penemuan kampung Digi ini menjadi satu contoh dari sekian banyak kampung di Tanah Air Indonesia yang kemungkinan besar belum terjamah oleh pemerintah setempat secara umum pemerintah Indonesia. Semoga kedepan semakin banyak tim-tim dari pemerintah melakukan investigasi maupun survey secara langsung ke pelosok-pelosok kampung, terlebih yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga.
Jurnalis : Indrayadi T Hatta / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Indrayadi T Hatta
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: