SABTU, 5 NOVEMBER 2016

CATATAN KUSUS --- Berbagai tempat memiliki landmark atau ikon tertentu untuk menunjukkan identitas kewilayahan yang bersumber dari kearifan lokal tertentu, ciri khas suatu daerah,rasa nasionalisme sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pontianak dengan tugu Khatulistiwa, Bukittinggi dengan jam Gadang, Jakarta dengan Monas dan beberapa tempat lain yang memiliki ciri khas bangunan tertentu salah satunya di Lampung dengan Menara Siger yang berada di Kecamatan Bakauheni dan berada di titik nol Pulau Sumatera pada bagian Selatan. Menara Siger yang terlihat dari jarak 4 mil di Selat Sunda oleh penumpang kapal roll on roll Off (Roro) dengan ciri khas berwarna kuning emas dan menyala pada malam hari pada awal masa berdirinya tersebut masih terlihat cantik dari kejauhan meski di beberapa bagian sudah rapuh dan bahkan memprihatinkan. Kondisi Menara yang terlihat cantik dari kejauhan tersebut akan terlihat menyedihkan saat didekati terutama di bagian bagian dalam bangunan. 


* Sejarah dan Bagian Bagian Menara Siger

Keberadaan Menara Siger tak lepas dari peran sang arsitek bangunan tersebut yakni Ir.H.Anshori Djausal M.T yang membuat bangunan tersebut dengan tekhnik khusus sehingga tahan guncangan dan terpaan angin. Tekhnik yang dikenal dengan ferrocement ini adalah sistem konstruksi dengan rangka mirip jejaring laba laba yang kokoh. Ornamen interior dan eksterior bangunan banyak mengadaptasi bentuk bentuk dalam motif kain tapis yang juga menjadi ciri khas, identitas kearifan lokal masyarakat Lampung.


Terletak di bukit gamping Menara Siger memiliki bentuk yang unik dengan menyerupai mahkota wanita Lampung yang memiliki sembilan kerucut berwarna kuning keemasan yang berderet memanjang. Pada beberapa bagian dilengkapi lampu sehingga menyala pada saat malam hari dengan tetap memunculkan simbol Siger meski berupa frame dan lampu sorot pada bagian kanan dan kiri. Bentuk yang mengadaptasi bentuk mahkota pengantin wanita (siger) tersebut merupakan pengingat akan budaya Lampung. Sementara kerucut atau pucuk bangunan berjumlah sembilan merupakan perwujudan simbol sembilan bahasa yang ada dalam masyarakat Lampung. Kerucut pada bagian tengah berukuran lebih besar dan lebih tinggi menjadi puncak bangunan tersebut yang pada bagian dalam menjadi lokasi untuk melihat view Selat Sunda dari dalam kaca dari lantai 6 yang merupakan lantai tertinggi bangunan tersebut.



Selain warna merah dan kuning yang menjadi ciri khas bangunan mewakili warna emas dari topi adat pengantin wanita sebagian besar bangunan juga didominasi corak kain tapis khas Lampung. Bangunan tersebut juga menyimbolkan arti data asta gatra yaitu trigatra mencakup letak geografis,demografis dan kekayaan sumber daya alam (SDA). berikutnya panca gatra yaitu berisi ideologi dan hankam. Sementara keberadaan payung tiga warna putih-kuning-merah yang menandai puncak Menara Siger menjadi simbol tatanan sosial. Dalam bangunan utama Menara Siger juga terdapat Prasasti Kayu Are sebagai simbol pohon kehidupan. Sebagai sebuah bangunan fisik bangunan tersebut mencerminkan budaya masyarakat dan identitas masyarakat lampung sesuai dengan filosofi fan bertindak sesuai visi misi mewujudkan Lampung yang unggul dan berdaya saing.


Berada pada ketinggian 110 meter dari permukaan laut membuat setiap orang yang masuk ke atas bangunan setinggi 32 meter tersebut bisa melihat Pulau Jawa dalam jarak yang sangat dekat. Kapal kapal kargo, tanker dari luar negeri yang akan menuju ke Australia, Afrika dan daerah lain serta kapal kapal komersil bahkan dengan jelas bisa terlihat dari atas Menara Siger. Sebagai simbol gerbang Sumatera sekaligus titik nol Pulau Sumatera di Selatan ini diresmikan oleh Gubernur Lampung Sjahroedin ZP pada tanggal 30 April 2008.

Beberapa fasilitas yang ada di area Menara Siger diantaranya, bangunan inti Menara berbentuk Siger,tugu titik nol Sumatera di ujung Selatan (Zero Sumatera), jam Matahari, lapangan futsal, amphiteaater dan panggung pertunjukan, gubuk gubuk santai menghadap Selat Sunda, lokasi pemancingan,
flyng Fox, jogging Track, helypad, lapangan Parkir, teropong Pengamatan serta fasilitas bagi pengunjung untuk menikmati makanan dan minuman ringan berupa warung warung yang dibuat khusus oleh para pedagang.


* Kondisi Terkini Menara Siger

Berdasarkan pantauan kerusakan yang masif terjadi pada bagian bagian kawasan wisata Menara Siger diantaranya mulai dari pintu masuk dengan kondis jalan menggunakan paving blok yang sudah rusak di sebagian besar tempat. Masuk ke pintu gerbang suguhan kerusakan terjadi pada bagian paving blok dengan sebagian pecah dan terkelupas. Selanjutnya mendekati bangunan utama menara yang terlihat kokoh tersebut pada bagian dasar bangunan pondasi terlihat retakan retakan yang terlihat dengan jelas oleh mata telanjang. Kerusakan yang terjadi tersebut diantaranya meliputi kerusakan pada bagian luar area bangunan dan area dalam bangunan. Meski dirancang sebagai bangunan dengan konstruksi yang cukup kuat namun kondisi alam yang terus menerus menerpa Menara Siger bisa menjadi faktor kerusakan semakin parah.

Kerusakan pada bagian luar diantaranya cat cat yang pudar dan sebagian mengelupas bahkan menjadi pemandangan yang cukup biasa pada beberapa bagian terutama pada bagian luar bangunan dengan dominan cat warna merah dan kuning tersebut. Lantai lantai keramik yang menjadi akses jalan bagi pengunjung bahkan di beberapa bagian sudah terlepas dari tempatnya. Kerusakan pada bangunan utama diantaranya juga terjadi pada bagian sayap gedung luar bagian kiri yang mengalami kerusakan dengan beberapa bagian penangkal petir sudah terlepas dari bangunan. Kerusakan juga terjadi pada beberapa bagian dengan besi besi penyangga yang sudah rusak dan hilang oleh aksi tangan tangan jahil dan tak bertanggungjawab. 

Menapaki tangga demi tangga untuk menuju lantai paling atas Menara Siger,sebagian besar dinding bangunan dipenuhi dengan ulah tangan tangan jahil yang menorehkan coretan coretan dalam aksi vandalisme yang membuat warna dinding bangunan menjadi rusak. Aksi mencoret dinding sebagian dilakukan oleh anak muda yang naik ke bagian dalam bangunan untuk melihat Selat Sunda dan Pulau Jawa dari lantai teratas Menara Siger tersebut. Pada bagian puncak pun beberapa bagian kaca yang menjadi tempat pandang pengunjung sebagian besar sudah pecah dan terlepas dari bingkainya. Kerusakan sekitar 30 persen pada bagian dalam bangunan selain disebabkan oleh kondisi alam diantaranya terpaan angin, kondisi cuaca hujan dan panas bahkan lebih banyak dirusak oleh tangan tangan jahil yang berkunjung ke bagian dalam menara tersebut.

Kerusakan pada fasilitas penunjang selain bangunan utama Menara Siger juga terjadi pada bagian luar diantaranya keberadaan jam matahari yang sudah tak berfungsi dengan baik berdekatan dengan lokasi lapangan futsal, amphiteater dengan kondisi pagar besi dan tangga yang sebagian sudah rusak. Selain itu fasilitas jogging track untuk kegiatan olahraga dengan pagar pagar besi pun telah lenyap. Kondisi serupa juga terjadi pada tugu Zero Sumatera yang sudah dipenuhi dengan aksi vandalisme dan lampu lampu penerang yang sudah lenyap karena mengalami kerusakan. Giant letter bertuliskan LAMPUNG yang berada menghadap selat sunda berukuran lebih dari 10 meter bahkan tinggal kenangan karena roboh akibat faktor alam dan dimakan usia. Kerusakan di berbagai tempat tanpa ada penanganan lanjutan tersebut seolah menjadi tanda ketidakpedulian untuk menjaga aset milik Lampung yang sempat terjadi tarik ulur kepemilikan antara pihak Pemerintah Provinsi Lampung dan PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Cabang Bakauheni tersebut. Terlepas dari status kepemilikan dalam keberadaan Menara Siger, landamark yang merupakan simbol identitas provinsi Lampung tersebut harus diselamatkan dengan melakukan perbaikan pada beberapa bagian yang rusak dengan cara revitalisasi dan juga membenahi area Menara Siger.


* Cara Penyelamatan Menara Siger

Berbagai kerusakan yang terjadi pada Menara Siger yang dibangun dengan menghabiskan biaya Rp15 Milyar tersebut seharusnya menjadi perhatian bersama oleh pihak pihak yang ingin menjaga kondisi Menara Siger tetap baik dengan berbagai kerusakan yang sudah terjadi pada beberapa bagian. Status kepemilikan yang sempat tarik ulur antara pihak PT ASDP dan Pemrov Lampung berkaitan dengan pengelolaan membuat seolah tempat tersebut mangkrak dan kurang mendapat perhatian meski setiap hari kunjungan wisatawan ke Menara Siger tak pernah kurang dari 200 orang perhari terutama pada hari hari besar, liburan panjang dan acara acara khusus yang menggunakan Menara Siger sebagai tempat kegiatan. Upaya yang perlu dilakukan diantaranya dengan melakukan pendataan kerusakan di berbagai bagian dan menganggarkan ke Pemerintah Provinsi Lampung, PT ASDP atau pihak ketiga yang berniat mengelola tempat wisata tersebut. Berbagai wacana untuk menyerahkan pengelolaan kepada pihak ketiga untuk pengelolaan tempat wisata tersebut pun hingga kini masih sebatas wacana meski kerusakan terus menerus terjadi pada beberapa bagian.

Sebagai sebuah bangunan fisik bangunan tersebut mencerminkan budaya masyarakat dan identitas masyarakat lampung dan harus diselamatkan. Identitas yang dikenal dalam bangunan yang menjadi kebanggaan bagi masyarakat Lampung pada umumnya. Penyelamatan Menara Siger terlepas dari kepentingan apapun, politis serta kepentingan lain yang menghambat dalam upaya menjaga Menara simbol kebanggan masyarakat Lampung tersebut dan menjadikan Menara Siger sebagai lokasi destinasi wisata sekaligus simbol budaya. Langkah yang perlu menjadi catatan bagi pemangku kepentingan terutama pemerintah daerah serta pihak pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan Menara Siger kebanggaan masyarakat Lampung tersebut. Upaya penyelamatan dengan revitalisasi atau perbaikan diharapkan mampu mengembalikan kejayaan Menara Siger yang selalu digadang gadang sebagai simbol gerbang Sumatera. Setidaknya dengan melakukan perbaikan pada kerusakan kerusakan bagian kecil Menara Siger untuk menjaga aspek keselamatan pengunjung, menjaga estetika dan bisa menjadi warisan bagi generasi mendatang.


Jurnalis : Henk Widi / Editor : Rayvan Lesilolo
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: