KAMIS, 24 NOVEMBER 2016
JAKARTA---Sekitar tahun 1800-an, pemerintah kolonial Belanda menghancurkan Kerajaan Buleleng di Bali. Sisa-sisa penghancuran yang masih menyatakan sumpah setia terhadap Kerajaan Buleleng dianggap pembangkang oleh Belanda lalu dibuang ke Banda Neira, sebuah pulau di Maluku Tengah.

Dari Banda Neira Maluku Tengah, entah apa penyebabnya, para buangan tersebut dipindahkan kembali dan akhirnya masuk sebanyak 12 Kepala Keluarga (KK) di Kawasan Parigi Selatan, Palu, Sulawesi Tengah. Parigi yang kala itu merupakan daerah hutan belantara benar-benar menjadi tantangan bagi para buangan dari Bali tersebut untuk bertahan hidup.

Perlahan tapi pasti, kawasan hutan dibuka, lalu para imigran dari Bali tersebut juga menyatukan diri dengan masyarakat adat setempat agar bisa terbuka jalinan sosialisasi yang baik di tanah rantau. Rencana awal kolonial Belanda dengan membuang mereka ke hutan belantara di Parigi selatan adalah sebagai langkah membunuh secara perlahan, namun ternyata mereka bisa bertahan bahkan semakin bertambah jumlahnya seiring berjalannya waktu.

Potongan adegan dalam film dokumenter mengenai Bali di Parigi selatan.
Pada 1930, para penduduk buangan dari Buleleng Bali tersebut mendapat pengampunan dari pemerintah kolonial Belanda. Mereka diberi dua pilihan apakah akan menetap atau kembali ke Bali. Akhirnya sebagian memilih menetap dan sebagian lagi memilih pulang ke kampung halamannya di Bali.

Seiring berjalannya waktu, maka keadaan maupun keberhasilan orang Bali yang berada di Parigi selatan tersiar luas di Bali. Akhirnya, perlahan-lahan mulai berdatangan orang Bali lainnya untuk ikut menetap di Parigi. Penyebab kedatangan mereka sangat beragam, ada yang disebabkan pernikahan berbeda kasta sehingga harus meninggalkan Bali, ada karena pernikahan berbeda agama sehingga salah satu harus melepas agama yang dianut dan hal-hal lain seperti keadaan ekonomi. Akhirnya membawa orang Bali bermigrasi perlahan ke Parigi menyusul yang sudah lebih dahulu ada di sana.

Suatu ketika pernah muncul kekhawatiran masyarakat setempat tentang keberadaan para pendatang yang semakin beragam di Parigi, khususnya Parigi selatan. Selain suku Bali yang lebih dahulu ada, mulai berdatangan juga suku lainnya dengan tujuan menetap disana. Namun Raja Parigi kala itu menanggapi kegelisahan dengan arif dan bijaksana Beliau mengatakan kepada seluruh penduduk asli Parigi bahwa semua pendatang di wilayah mereka harus dianggap saudara atau disebut juga Anuntaloko.

Keriuhan malam penghargaan film yang akhirnya memenangkan lakon Baliku Parigiku, Miniatur Bali di Parigi Selatan sebagai Pemenang Terbaik I LKAS 2016.
Saat era Orde Baru, kala program transmigrasi digalakkan pemerintah, maka Parigi selatan semakin berkembang pula. Baik dari Bali maupun suku lainnya dari Jawa dan Sulawesi datang ke Parigi ikut program  transmigrasi. Pembauran adat-budaya dan agama terjadi. Dan khususnya bagi masyarakat Parigi selatan yang sebagian besar ditempati suku  Bali, sudah terjadi pembauran agama yang cukup signifikan, yakni Hindu, Islam, dan Kristen.

Demikian papar Amir Lagandeng, guru sejarah, pembimbing sekaligus pendamping para siswa SMAN 2 Palu di Malam Apresiasi Lomba Kreasi Audiovisual Sejarah 2016 (LKAS 2016), mengisahkan sedikit sejarah miniatur Bali di Parigi selatan kepada Cendana News. Bahkan film dokumenter sejarah mereka berjudul Baliku Parigiku, Miniatur Bali di Parigi Selatan akhirnya terpilih sebagai Pemenang Terbaik I LKAS 2016.

Satu hal unik menurut Amir adalah bahwa Parigi selatan sebenarnya berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Poso. Namun saat pecah kerusuhan Poso tahun 1998 maka wilayah Parigi selatan ternyata aman dari pergesekan baik suku maupun agama seperti yang terjadi di Poso.

"Masyarakat Palu sebenarnya terbuka dengan perbedaan. Terbukti dengan kearifan Raja Parigi zaman dahulu yang menganggap semua pendatang ke wilayahnya sebagai saudara. Dan melalui film dokumenter ini maka dapat dipastikan bahwa semangat kebhinnekaan sudah ada sejak dahulu sehingga hal itu seharusnya menjadi guru bagi generasi selanjutnya," ungkap Amir kepada Cendana News.

Jika berbicara mengenai menyalurkan ide-ide kreatif anak didiknya di SMAN 2 Palu, maka Amir Lagandeng memastikan sepulang dari Jakarta ia akan memprakarsai pendirian unit kegiatan siswa di bidang sinematografi untuk membuat film-film dokumenter sejarah sebagai bahan pembelajaran sejarah di sekolahnya.

Namun bukan berarti jika berbicara mengenai sinematografi maka harus memakan biaya besar, tidak seperti itu juga. Bagaimana dengan biaya yang secukupnya bisa menghasilkan buah karya besar maka itulah esensi dari sebuah karya film dokumenter untuk tingkatan SMA atau SMK.

Menanggapi hal itu, Amir mengamininya. Bahkan ia mengatakan bersama pihak sekolah nantinya akan menggunakan hadiah berupa uang pembinaan dari ajang LKAS 2016 ini sepenuhnya untuk kegiatan siswa baik untuk unit kegiatan pembuatan film dokumenter maupun untuk kemajuan kegiatan lainnya.

"Sebelum acara LKAS 2016, impian saya dan anak-anak adalah bagaimana jika karya kami menang. Namun setelah malam ini (Rabu, 23/11/2016 maka impian saya dan anak-anak sudah masuk tahapan yang lain lagi," pungkasnya.

Jurnalis: Miechell Koagouw/ Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: