KAMIS 24 NOVEMBER 2016

JAKARTA---Malam Apresiasi Lomba Kreasi Audiovisual Sejarah 2016 (LKAS 2016) bertempat di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta dihadiri oleh Dirjen Kebudayaan Kemdikbud RI Hilmar Farid, Direktur Direktorat  Sejarah Kemdikbud RI Triana Wulandari, seluruh jajaran Direktorat  Sejarah Kemdikbud RI, serta para undangan dari elemen-elemen  masyarakat perfilman dan mahasiswa seluruh Jakarta.

Pemenang Terbaik I dari SMAN 2 Palu, Provinsi Sulawesi Tengah  dalam film dokumenter sejarah yang berjudul " Baliku Parigiku ", Miniatur Bali di Parigi Selatan. (kiri ke kanan; Amir Lagandeng sebagai guru pembimbing, M.Fahmi Sauptra dan Febitriana.

Selesai memberikan hadiah kepada lima pemenang utama LKAS 2016, Dirjen Kebudayaan Kemdikbud RI, Hilmar Farid menekankan bahwa aroma kompetisi dalam perhelatan ini sangat ketat. Esensinya adalah bagaimana kreatifitas dari para generasi muda bangsa sebagai cikal bakal sineas muda tanah air maupun peneliti-peneliti sejarah bangsa kedepannya  dapat mengemuka.

"Buat saya pribadi, kelima nominator yang sudah mendapatkan posisi sebagai juara merupakan juara terbaik bersama-sama," ujar Hilmar Farid  di hadapan para pemenang LKAS 2016.

Hilmar Farid mengungkapkan lomba film dokumenter  ini contoh kecil bagaimana menanamkan semangat kebhinnekaan kepada generasi penerus bangsa. Melanjutkan  sambutannya, Farid juga secara langsung memerintahkan seluruh jajaran Direktorat Kebudayaan di Kemdikbud RI untuk segera melakukan konsolidasi promosi terkait lima hasil karya dokumenter sejarah milik para pemenang LKAS 2016.

Gandeng Perusahaan Transportasi Umum dan Museum

Pihak-pihak yang akan digandeng kemitraannya nanti dalam mempromosikan film dokumenter buah karya lima pemenang LKAS 2016 adalah dari seluruh  jawatan transportasi milik pemerintah maupun BUMN seperti Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia, Kereta Api Indonesia dan Moda Transportasi Umum darat perkotaan lainnya yang tentunya sudah memiliki sistem pelayanan secara digital. Tidak ketinggalan juga turut  menggandeng seluruh Museum di Indonesia baik yang sudah menggunakan sistem pembelajaran dan pemanduan pengunjung secara digital maupun belum menggunakannya.

"Intinya, hasil karya mereka ini harus dinikmati masyarakat, bukan  sebatas seremonial malam ini saja. Esensi kebhinnekaan dari anak-anak muda ini harus sampai dan mengkristal kepada masyarakat melalui  program maupun proses promosi gencar dan kuat dari seluruh jajaran  Kemdikbud RI khususnya Direktorat Kebudayaan," pungkas Hilmar.
 
Menanggapi perintah sekaligus keinginan kuat Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, maka Direktur Direktorat Sejarah Kemdikbud RI, Triana Wulandari menyikapinya dengan sangat antusias dalam konferensi pers, Rabu malam, 23/11/2016, di Gedung Perfilman Usmar Ismail, Jakarta.

"Sangat positif, dan tadi sudah langsung ditindaklanjuti di tempat  ini dengan membuka pembicaraan kepada pihak-pihak terkait. Mulai besok, akan digagas bagaimana proses menggandeng mereka mempromosikan hasil-hasil karya para pemenang LKAS 2016 secara nasional," terang Triana dalam konferensi pers, Rabu malam.

Langkah promosi secara nasional yang akan diambil oleh Direktorat Sejarah Kemdikbud RI turut didukung oleh Direktur PPFN (dulu dikenal sebagai Pusat Produksi Film Negara, sekarang menjadi Perum PFN),  Muhammad Abduh Aziz.

"Langkah itu cocok dengan kebijakan-kebijakan terbaru PPFN saat ini, yaitu membuat terobosan film dokumenter mengenai seni, budaya dan sejarah kebangsaan. Semua untuk menguatkan rasa kebhinnekaan yang mulai memudar dewasa ini," beber Abduh dalam konferensi pers.

Suatu langkah besar akan diambil demi menyelamatkan mentalitas bangsa yang sudah memudar terhadap kebhinnekaan dewasa ini. Langkah positif ini harus didukung seluruh elemen masyarakat secara nasional untuk mengembalikan keadaan bangsa sekaligus menyelamatkan peradaban Indonesia, yakni peradaban hasil penyatuan ratusan suku bangsa yang ada di dalamnya.

Kiri: (dari kiri ke kanan) Direktur PPFN Muhammad Abduh Aziz,  Dirjen Kebudayaan Kemdikbud RI Hilmar Farid dan Direktur Direktorat Sejarah Kemdikbud RI  Triana Wulandari. Kanan: Logo resmi nasional Lomba Kreasi Audiovisual Sejarah 2016 (LKAS 2016)

Jurnalis: Miechell Koagouw/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Miechell Koagouw

Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: