SELASA 8 NOVEMBER 2016

LAMPUNG---Belajarlah dari petani seperti Slamet. Karena banyak ilmu yang bisa Anda dapatkan dari warga Dusun Jati Sari Desa Pasuruan Lampung Selatan ini.  Di tangan Slamet kotoran kambing dan sisa hasil pertanian bisa dibuat pupuk organik. Murah, efesien sekaligus Slamet menyelamatkan kelangsungan tanah secara alamiah. Pemilik lahan pertanian sayuran diantaranya bayam,sawi, kangkung cabut, kemangi dan tanaman sayuran lain mengaku menggunakan pupuk organik dengan potensi ternak kambing yang dimilikinya. 

Slamet di tengah sawah dengan pupuk buatannya.

Proses pembuatan kotoran kambing menjadi pupuk juga terbilang sederhana dengan cara proses pengeringan, pencampuran tanah dan mencacah daundaun, pelepah pisang dan juga serbuk gergaji, serabut kelapa yang didiamkan selama satu bulan. Setelah didiamkan dan sudah siap digunakan pupuk tersebut diaplikasikan di lahan pertanian sebagai dasar untuk media tanam dan digunakan selama proses penyiraman.

Slamet bahkan mengaku sebagian penjual sayur memilih membeli sayur dari hasil pertanian yang ia budidayakan karena lebih aman dari bahan kimia.

"Saya memiliki sebanyak sepuluh ekor ternak kambing dan saya manfaatkan kotoran ternak tersebut untuk dijadikan pupuk,"ungkap Slamet.

Kandang kambing milik petani Salmet. Kotorannya diolah menjadi pupuk.

Petani cerdas lainnya ialah Wagiyo. Pak Tani ini  menggunakan kotoran sapi dan kerbau yang dicampur dengan potongan pelepah, gedebok (batang) tanaman pisang yang dicacah cacah pada lahan pertanian. Ia juga mengaku menggunakan pestisida alami dari daun mindi dan daun daun lain untuk mengusir organisme pengganggu tanaman (OPT) sehingga meminimalisir penggunaan pestisida berbahan kimia. Jenis tanaman padi organik yang dibudidayakan dengan harga beras mencapai Rp15 ribu menjadi salah satufaktor dirinya tidak menggunakan pupuk kimia.

Wagiyo  mengakui kendala dalam pemanfaatan pupuk organik di kalangan petani karena proses pembuatannya yang dianggap memakan waktu lama, perlu kesabaran dan tidak sesuai dengan jumlah kebutuhan pupuk pada lahan pertanian. Bagi petani yang memiliki lahan pertanian luas dengan kebutuhan pupuk mencapai beberapa ton pupuk kimia yang lebih praktis dan dijual di pasaran menjadi pilihan meski pupuk kimia tetap memiliki dampak yang buruk bagi lahan pertanian terutama tanah.

Pengunaan Pupuk Organik Masih Redah 

Penggunaan akan pupuk organik masih cukup rendah di kalangan petani di Lampung Selatan meski pupuk tersebut diklaim sebagai pupuk yang aman. Selain penggunaan yang rendah ketergantungan pada pupuk anorganik (kimia) yang berada di pasaran menjadikan kebutuhan akan pupuk organik masih cukup rendah. 

Hal tersebut diungkapkan oleh Syarifudin, salah satu penyuluh pertanian dari balai penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan (BP3K) Kecamatan Penengahan. Ia mengungkapkan berdasarkan pantauan di beberapa toko pertanian pupuk organik masih sebatas digunakan untuk penanaman tanaman pertanian skala kecil diantaranya menanam dalam polybag atau pekarangan dan belum banyak diaplikasikan dalam lahan pertanian skala besar. Pupuk organik yang dijual diantaranya berbahan kompos, kotoran ternak serta bahan bahan campuran lain yang bisa digunakan untuk pendukung pupuk anorganik yang digunakan oleh petani terutama lahan sawah.

Syarifudin  bahkan mengungkapkan kecenderungan petani menggunakan pupuk kimia atau pupuk anorganik karena sebagian petani masih berpedoman kondisi tanaman padi yang bagus jika dalam keadaan tumbuh hijau berarti subur. Karenanya petani lebih memilih menggunakan pupuk kimia di antaranya jenis urea, NPK dengan takaran yang melebihi ketentuan. Padahal dari segi manfaat, pupuk organik juga tidak kalah dari pupuk kimia bahkan jauh lebih aman untuk menjaga unsur hara dalam tanah.

"Kalaupun ada yang menggunakan masih cukup sedikit padahal di beberapa toko penjualan pupuk organik tersebut sudah cukup marak namun masih sebatas digunakan untuk tanaman sayuran, palawija dan dalam skala yang kecil,"ungkap Syarifudin saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (8/11/2016).

Ia juga mengaku penggunaan pupuk kimia yang saat ini disubsidi oleh pemerintah dengan sistem rayonisasi dalam pendistribusian dan penjualan membuat petani lebih mudah memperoleh pupuk. Selain itu sebagian petani yang hendak membeli pupuk harus terdaftar dalam kelompok kelompok tani (Poktan) yang memiliki rencana definitif kebutuhan kelompok tani (RDKK) dalam hal kebutuhan pupuk sehingga kebutuhan setiap petani dipenuhi dengan cara bergabung dengan kelompok tani. Sementara untuk kebutuhan pupukorganik petani tidak perlu tergantung pada kuota kebutuhan dan juga bergabung dengan kelompok tani tersebut.

Jurnalis Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: