KAMIS 24 NOVEMBER 2016

JAKARTA---Film dokumenter Pemenang Terbaik V dari SMAN 1 Surakarta, Provinsi Jawa tengah berjudul " Harmonisasi Kebhinnekaan " Pasar Gede dan Kampung Pecinan di Surakarta menjadi salah satu perhatian Cendana News di Malam Apresiasi LKAS 2016 bertempat di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta.

Tim film dokumenter SMAN 1 Surakarta, dari kiri ke kanan: Novita Tri Hapsari, Ghazy Wira Pradipta dan Sumargono, M.Pd sebagai  guru pembimbing.
Guru Sejarah SMAN 1 Surakarta, Sumargono, M.Pd, sebagai pendamping dan pembimbing tim sinematografi sekolah berhasil ditemui Cendana News di sela-sela malam apresiasi LKAS 2016 tersebut. Semua berawal dari informasi yang didapat anak-anak didiknya lewat media sosial terkait
Lomba Kreasi Audiovisual Sejarah 2016 (LKAS 2016), kemudian didiskusikan bersama Sumargono sebelum kemudian memutuskan mendaftarkan diri ke panitia lomba.

Mengangkat kearifan lokal Pasar Gede, Kampung Sudiroprajan, Surakarta atau dikenal sebagai Pasar Gede Kampung Pecinan. Tema  ini diangkat  mengingat di sana hampir tidak pernah terjadi gesekan terkait  kesukuan, etnis maupun agama.

"Cukup mengejutkan mengingat saat 1998, Solo atau Surakarta merupakan kota kedua terparah setelah Jakarta untuk tragedi nasional 1998 tersebut. Banyak ruko dibakar dan dijarah disana, namun Kampung Sudiroprajan khususnya Pasar Gede aman," kenang Sumargono.

Penyelidikan sejarah sekaligus wawancara segera dilakukan Sumargono bersama anak-anak didiknya sebelum menuangkannya dalam sebuah film dokumenter. Etnis Tionghoa pertama kali masuk ke Surakarta adalah melalui Sungai Bengawan Solo. Kebetulan mereka yang memiliki keadaanekonomi berlebih (menengah ke atas) mendarat di wilayah bernama Ketandan (tondo; bahasa jawa). Sedangkan bagi mereka yang memiliki keadaan ekonomi biasa-biasa saja (menengah ke bawah) kebanyakan melabuhkan diri di daerah Balong, yang dulunya dikenal dengan sebutan "Balung" yang adalah tempat pembuangan tulang sapi dari rumah jagal hewan di zaman kolonial Belanda.

Sebelum adanya Pasar Gede, maka daerah itu sebenarnya sudah menjadi pusat keramaian masyarakat dalam bersosialisasi dengan sesamanya, berdagang dan hal-hal lainnya. Melihat keadaan itu, muncul ide dari Pakubuwono X untuk membangun sebuah pasar tradisional. Beliau berdialog dengan Mengkunegoro yang kemudian mengusulkan kepada Pakubuwono X nama seorang arsitek asal Belanda, Thomas Karsten yang saat itu sedang berada di Kota Semarang. Setelah merasa yakin, maka
dipanggillah Thomas Karsten ke Solo untuk memulai pembangunan Pasar Gede (atau dikenal juga sebagai Pasar Harjonagoro, nama seorang tokoh Tionghoa Sudiroprajan, Surakarta).

"Harjonagoro jadi salah satu tokoh yang diakui pribumi karena memang ia mampu beradaptasi dengan baik dengan warga setempat kala itu sehingga menciptakan sebuah harmonisasi," terang Sumargono melanjutkan.

Pembangunan Pasar Gede dapat dilihat dengan semangat inakuler, yakni penggabungan budaya baru tanpa menghilangkan budaya asli yang dari awal sudah ada. Pasar Gede yang diarsiteki Thomas Karsten mewakili semangat tersebut dengan atap pasar berbentuk Limasan (atap rumah adat Jawa), lantai berundak khas bangunan Jawa juga menjadi bagian dari Pasar Gede.

Jendela-jendela yang ada di Pasar Gede merupakan jendela berongga ornamen Belanda yang mewakili bangunan eropa. Ciri khas kearifan lokal Pasar Gede yang hingga kini menjadi tempat akulturasi yang bisa terjaga erat adalah undakan bagi pedagang maupun masyarakat yang membawa barang dengan cara disunggih (dipanggul). Untuk kaum difabel, maka diambil kebijakan juga memberikan undakan untuk memudahkan mereka beraktifitas masuk-keluar di Pasar Gede

"Di tempat itulah hingga kini terjadi interaksi sekaligus suasana menarik peliputan budaya terkait kearifan lokal Jawa," sambung Sumargono lagi.

Untuk kegiatan budaya, Pasar Gede Kampung Sudiroprajan memiliki ciri khas dimana satu minggu sebelum hari raya imlek diadakan upacara "Grebek Sudiro " dimana rangkaian acaranya menyatukan budaya khas Tionghoa berupa Kue Keranjang dengan hasil bumi tradisional setempat menjadi sebuah " Gunungan " atau semacam tumpeng dan nantinya dinikmati bersama oleh seluruh masyarakat baik pribumi, etnis Tionghoa, maupun etnis Arab yang ada di daerah tersebut.

Kue Keranjang itu sendiri walaupun adalah khas masyarakat Tionghoa, namun di Surakarta khususnya Kampung Sudiroprajan dibuat dari ketan dicampur gula jawa. Kandungan filosofis yang dimiliki adalah bahwa ketan itu perlambang etnis Tionghoa yang memiliki sifat lentur atau cepat beradaptasi dengan daerah sekitarnya. Sedangkan gula Jawa melambangkan manis lembut tutur kata serta kepribadian menghormati sesama dari suku Jawa.

"Jadi ketika kedua bahan utama tersebut dipadukan, maka menghasilkan Kue Keranjang khas Surakarta. Dan ketika gunungan disantap bersama oleh masyarakat lintas suku maupun etnis melambangkan sebuah keharmonisan dimana semuanya mampu membaur menjadi satu," pungkas
Sumargono.

Keharmonisan sejak zaman dahulu kala sampai hari ini, itulah yang coba  diangkat SMAN 1 Surakarta melalui film dokumenter mereka mengenai Pasar Gede, Surakarta. Bahkan menurut Sumargono, keharmonisan paling  mengkristal kuat terjadi di era pemerintahan Presiden kedua RI, H.M.Soeharto yang memang sangat menjaga stabilitas kehidupan bernegara rakyatnya.

Suasana tenang, harmonis penuh rasa saling menghargai tanpa memandang perbedaan yang sudah tertata sejak dahulu salah satunya adalah bagaimana para pendatang mampu menyesuaikan diri dengan adat-budaya setempat dalam hal ini adat-budaya Jawa.

Harapan Sumargono melalui keikutsertaan SMAN 1 Surakarta di ajang LKAS 2016 adalah dapat mengarahkan fungsi dari pendidikan sejarah bukan hanya melulu menyentuh ranah kognitif siswa dengan menghafal saja, akan tetapi bisa menemukan konsep untuk menyentuh sekaligus membangun
karakter para siswa menjadi manusia Indonesia seutuhnya, yakni manusia yang mampu hidup dalam harmoni di tengah perbedaan.

"Dari karakter yang mampu hidup dalam harmoni di tengah perbedaan itulah nantinya terbentuk sekaligus menumbuhkan rasa cinta tanah air serta adat-budaya atau kearifan lokal setempat maupun di tempat lainnya," Sumargono menyudahi kebersamaannya dengan Cendana News.

Sekilas film dokumenter sejarah hasil karya SMAN 1 Surakarta. Pemenang Terbaik V Lomba Kreasi Audiovisual Sejarah 2016 (LKAS 2016)

 Jurnalis: Miechell Koagouw/Editor; Irvan Sjafari/Foto; MIechell Koagouw
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: