KAMIS 24 NOVEMBER 2016

LAMPUNG---Pengabdian guru honorer di Kabupaten Lampung Timur Provinsi Lampung ini bisa menjadi sebuah potret bagi para pengajar di daerah pedalaman. Betapa tidak,berada di wilayah yang cukup jauh dari ibukota Kabupaten Lampung Timur Sukadana dan akses jalan yang cukup sulit tidak menyurutkan seorang guru honorer bernama Lusia Yuli Hastiti di Desa Girimulyo Kecamatan Marga Sekampung yang berada di dekat Register 38 Gunung Balak tak menyurutkan guru honorer tersebut mencerdaskan anak anak bangsa di wilayah tersebut.

Guru Honorer_Lusia Yuli Hastiti berbaju merah terlihat menyiapkan bubur untuk siswa siswa yang belajar di rumah baca Suluh Harapan Insani Kabupaten Lampung Timur.

Lusia Yuli Hastiti yang menjadi guru honorer sejak beberapa tahun lalu dan mengajar di SMP PGRI 3 Marga Sekampung Kabupaten Lampung Timur mengungkapkan dirinya merupakan lulusan jurusan agrotekhnologi Fakultas Pertanian salah satu universitas negeri di Lampung. Meski memiliki jurusan pertanian namun ia mengaku mencintai kegiatan mengajar di sekolah untuk berbagai bidang studi karena keterbatasan tenaga guru di wilayah tersebut ditambah daerah yang cukup jauh dari wilayah lain. Pilihan menjadi guru honorer juga dilakukannya setelah berbagai proses tes CPNS yang diikutinya belum menakdirkannya menjadi tenaga pendidik dengan menyandang status pegawai negeri sipil (PNS).

Aktifitasnya sebagai guru honorer dimulainya dengan mengajar sejak pukul 07:30 hingga pukul 12:15 setiap hari Selasa dan Rabu, selebihnya tugas tambahan sebagai operator sekolah dan staf Tata Usaha (TU) sekolah. Berangkat dan pulang mengajar menggunakan sepeda motor seusai melakukan tugas tugas di sekolah, aktifitas yang dilakukan wanita yang masih lajang ini bukan istirahat melainkan masih harus mengajar puluhan murid murid di desanya yang tergabung dalam rumah belajar Suluh Harapan Insani.

"Itu aktifitas rutin setiap hari sebagai guru honorer di sekolah setelah itu pulang tetap mengajar anak anak di rumah belajar yang saya kelola dan punya waktu libur hanya setiap hari Minggu,"ungkap Lusia Yuli Hastiti saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (24/11/2016).

Selain mengajar di sekolah, Lusia mengaku masih mengajar les tambahan untuk puluhan murid dari tingkat SD hingga SMP mulai dari pukul 12:30 WIB hingga pukul 16:00 WIB sebanyak dua shift dan dilanjutkan malam hari dari pukul 18:30 WIB hingga pukul 21:00 WIB dengan mata pelajaran umum dan sebagian pelajaran sekolah yang diikuti oleh para siswa.

Sebagai guru honorer ia mengaku masih memiliki keinginan untuk mengajar anak anak di desanya karena memiliki keprihatinan terhadap rendahnya minat baca anak di lingkungan tempat tinggalnya. Selain itu penyebab lain diantaranya minimnya fasilitas berupa tempat baca dan ketersediaan sumber buku bacaan yang beragam. Setelah diamati beberapa waktu ia melihat antusiasme anak anak di desanya sangat tinggi untuk mengetahui hal hal yang baru mengenai buku buku bacaan.

Dalam keterbatasan ia mengaku dengan biaya swadaya dan bantuan gotong royong warga sekitar desa untuk membangun rumah baca Suluh Harapan Insani. Upaya membuat rumah baca menurutnya dilakukan  agar anak anak di desanya bisa terbantu terbimbing pola belajarnya mengingat lingkungan Desa Girimulyo masih banyak warga yan kurang mampu membimbing anak anak dalam belajar karena sebagian hanya berprofesi sebagai petani. Selain itu ia mengungkapkan masyarakat Desa Girimulyo hampi 60 persen hanya lulusan SD dan SMP meskipun tingkat ekonomi masyarakt cukup maju pesat dan lingkungan yang subur dengan hasil pertanian.

Ia berharap dengan adanya rumah belajar maka anak anak di desanya memiliki semangat belajar yang tinggi untuk menggapai cita cita mereka dan menempuh pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan para orangtua. Ia mengaku meski menjadi guru honorer dirinya masih memiliki empati terhadap kondisi masyarakat yang ada di desanya khususnya anak anak usia sekolah.

Sebagai guru honorer dengan penghasilan yang belum mencukupi tak menyurutkannya berprofesi sebagai guru baik di sekolahan maupun di desanya. Ia bahkan mengaku mengajar murid murid SMP di sekolah tetap bisa dilakukannya di rumah belajar yang dikelolanya tanpa terbatasi oleh ruang sekolah dan waktu yang telah ditentukan oleh sekolah.

"Awalnya memang berat karena selain mengajar di sekolah saya masih harus mengajar anak anak di desa saya untuk belajar tapi semuanya dibawa santai aja karena berbagi ilmu itu sangat menyenangkan,"ungkap Lusia.

Berada di wilayah yang jauh dari ibukota kabupaten, diakui Lusia merupakan sebuah perjuangannya sebagai guru honorer sebab untuk keluar ke kota Sribawono saja ia harus menempuh perjalanan sekitar 30 kilometer lebih melintasi register 38 dan perkebunan singkong dan sawit. Selain itu akses jalan yang sebagian besar rusak membuatnya mengalami kesulitan saat harus memiliki keperluan berkaitan dengan keperluan pendidikan murid muridnya.

Rumah belajar yang dibuatnya pun saat ini masih berdinding papan, beratapkan asbes serta memiliki lantai semen dengan beberapa bangku dan meja untuk belajar. Sebuah rak buku sederhana menjadi tempat baginya menyimpan buku buku yang sebagian dibelinya dengan uang hasil honor di sekolah dan sebagian merupakan hasil donasi dari berbagai pihak yang mendonasikan buku untuk rumah belajar yang dikelolanya.

Saat ini meski hanya sebagai guru honorer ia mengaku menikmati pekerjaan dan tanggungjawab tersebut sambil menunggu saat adanya waktu jika pemerintah kabupaten setempat membuka formasi untuk pns tenaga pendidik. Meski demikian ia mengaku tetap akan bekerja dengan baik mengajar di SMP sesuai tanggungjawabnya dan bahkan tetap menjadi guru bagi anak anak didik yang belajar di rumah belajar dan rumah baca di desanya.

Guru Honorer_Lusia Yuli Hastiti menerima sumbangan buku dari donatur untuk melengkapi buku buku di rumah baca yang dikelolanya.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: