KAMIS 17 NOVEMBER 2016

LAMPUNG---Akvitas perambahan hutan di sekitar kawasan hutan lindung Register 3 Gunung Rajabasa menjadi perhatian masyarakat yang berada di wilayah sekitar gunung tersebut. Kecemasan masyarakat terkait perambahan hutan untuk kegiatan pertanian dan perkebunan bahkan bersamaan dengan musim penghujan yang berpotensi banjir.

Salah satu sudut kawasan hutan Lindung Gunung Rajabasa.


Modus perambahan hutan yang dilakukan oleh para pelaku untuk mengambil kayu besar dengan cara menebang selanjutnya menanam berbagai jenis tanaman palawija meskipun kawasan tersebut merupakan wilayah yang tak boleh dirambah. Akibat peristiwa perambahan tersebut Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung bahkan melakukan peninjauan bersama masyarakat untuk melakukan pengecekan terkait aktivitas perambahan yang berada di atas Desa Kunjir tersebut.

Berdasarkan temuan Walhi dan masyarakat yang berada di kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa memang akan digunakan sebagai lokasi perladangan dengan adanya gubuk gubuk dan beberapa lahan yang telah disiapkan. Salah satu warga Desa Kunjir, Halim, yang kuatir aksi perambahan terulang mengaku perlu adanya peran serta masyarakat mengawasi pemanfaatan hutan. 

Selama ini petugas polisi kehutanan (Polhut) kerap tidak bisa mengawasi aktivitas yang ada di kawasan hutan karena keterbatasan personil. Selain itu Halim mengaku petugas harus lebih tegas dalam melakukan pelarangan kegiatan yang memanfaatkan hutan lindung Rajabasa untuk tidak dipergunakan sebagai lahan pertanian terutama di wilayah yang berada di dalam kawasan.

Kawasan hutan Gunung Rajabasa Lampung Selatan merupakan kawasan yang dikelilingi beberapa Kecamatan meliputi Kecamatan Penengahan, Kecamatan Kalianda, Kecamatan Rajabasa, Kecamatan Bakauheni. Kawasan tersebut berada di bawah Kawasan Hutan Lindung Register 3 Gunung Rajabasa. Ribuan warga melakukan aktivitas keseharian berdampingan dengan kawasan hutan yang dilindungi tersebut.  Selain Desa Kunjir, Desa Way Muli, Desa Tanjung Heran, Desa Totoharjo, Desa Hargo  Pancuran serta beberapa desa di tiga kecamatan seputar Gunung Rajabasa beberapa desa bahkan tepat berada di bawah kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa.

Warga dan pencinta alam ikut menjaga kelstarian hutan.


Salah satu desa yang berada dekat dengan kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa d iantaranya Desa Way Kalam yang langsung berbatasan langsung dengan kawasan hutan Register 3 Gunung Rajabasa. Meski berada dekat dengan kawasan hutan namun warga di Desa Merambung tak pernah tercatat menjadi pelaku perambahan hutan. Warga bahkan rata rata memiliki area perkebunan yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan. Mayoritas penduduk yang bekerja sebagai pekebun jahe merah, kopi coklat, kopi robusta serta tanaman perkebuna lain tersebut dibenarkan oleh Aminudin (38) warga Desa Way Kalam Kecamatan Penengahan.

"Kami di sini rata rata petani pekebun, tidak ada yang punya sawah jadi kami menanamn tanaman kebun untuk dijual dan hasilnya bisa untuk membeli beras," ujar Aminudin salah satu warga Desa  Way Kalam saat ditemui Cendana News di salah satu kebunnya, Kamis (17/11/2016).


Warga Memiliki Kebun dengan Patok Khusus 

Aminudin mengaku aktivitas warga di sekitar Desa Way Kalam memang tak bisa dilepaskan dari Gunung Rajabasa karena sebagian masyarakat memiliki kebun di dekat kawasan yang telah memiliki patok khusus dan batas khusus sehingga masyarakat tidak akan merambah ke wilayah hutan lindung. Sebagian warga bahkan telah melakukan penanaman berbagai jenis tanaman produktif di sekitar hutan diantaranya kopi, damar, kemiri, melinjo serta berbagai jenis tanaman lain. Selain jenis jenis tanaman tersebut, warga mengandalkan hasil kebun berupa tanaman pisang, buah buahan, kelapa, jahe, pinang, kunyit serta tanaman perkebunan lainnya.

Hasil perkebunan warga tersebut menurut Aminudin dijual di beberapa pasar yang ada di Kalianda maupun Penengahan, sementara hasil dalam jumlah besar akan dikirim ke Pulau Jawa. Saat ini buah pinang kering dijualnya dengan harga Rp3.000,- perkilogram, buah kopi Rp20.000- Rp25.000,- perkilogram, kakao Rp20.000- hingga Rp25.000,- perkilogram sementara jahe bisa dijual dengan harga Rp30.000- Rp40.000 perkilogram untuk kebutuhan pabrik jamu.



Hasil kebun milik warga.



Minimnya aktivitas warga yang merambah hutan dibenarkan oleh Aminudin yang saat ini mengaku juga bertugas sebagai Pamswakarsa Kesatuan Penjaga Hutan Lindung (KPHL). Sejak 2011 kawasan hutan di Gunung Rajabasa semakin diperketat pengawasannya dengan dibentuknya tim KPHL yang bertugas melindungi kawasan hutan di Gunung Rajabasa.


Ia mengaku rata rata di setiap desa yang berbatasan dengan hutan lindung Gunung Rajabasa selalu ada beberapa pamswakarsa yang bertugas melakukan pemantauan terkait aktifitas illegal logging atau aksi masyarakat yang masuk kawasan hutan untuk mengambil hasil hutan.

Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh dipilihnya Menteri Kehutanan kala itu Zulkifli Hasan yang lahir dan dibesarkan di kawasan sekitar Gunung Rajabasa. Bahkan pada tahun 2011 juga Kementerian Kehutanan RI menurut Aminudin melakukan upaya melestarikan kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa salah satunya dengan membuat jalan setapak di beberapa titik untuk memudahkan pengawasan Gunung Rajabasa.

"Jalan beton terbuat dari semen sepanjang lebih dari 60 kilometer nyaris mengelilingi kawasan hutan lindung memudahkan petugas melakukan patroli untuk pengawasan kawasan Rajabasa menggunakan kendaraan bermotor,"ungkap Aminudin.

Minimnya masyarakat yang berniat untuk merambah hutan menurut Aminudin salah satu faktor utamanya adalah kesibukan warga mengurus kebun masing masing. Warga bahkan sudah bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mengolah kebun serta mengambil hasil dari perkebunan mereka. Bahkan warga menanam beberapa pohon cepat panen diantaranya Jabon, sengon dan beberapa pohon kayu produksi lainnya.

Aminudin bahkan mengungkapkan warga sudah memiliki sumber penghasilan harian, mingguan, bulanan dan tahunan dari hasil kebunnya. Hasil harian untuk kebutuhan sehari hari diperoleh dari tanaman sayur sayuran, hasil mingguan berasal dari tanaman pisang, hasil bulanan dari tanaman kelapa, hasil tahunan dari tanaman kopi. Selain itu konsep swakelola wilayah di sekitar hutan membuat kawasan tersebut tetap lestari meski masyarakat bergantung dari hutan sepenuhnya.

"Kalau sekedar untuk kebutuhan hidup kami cukup sehingga tidak ada masyarakat yang serakah atau ingin memperoleh lebih dengan merusak kawasan hutan,"ujar Aminudin.

Sesuai kesepakatan dan berdasarkan pengalaman, warga di Desa Way Kalam bahkan lebih takut pada sanksi sosial masyarakat dibandingkan sanksi dari aparat atau petugas kehutanan. Ia bahkan mengisahkan perusak hutan di kawasan tersebut pernah mendapat sanksi diusir dari kampung.

Sanksi tersebut cukup tegas dilakukan kala itu mengingat masyarakat di kawasan tersebut sudah hidup selama ratusan tahun dan bergantung dari Gunung Rajabasa. Masyarakat mengaku mengetahui akibat dari perusakan hutan yang akan terjadi diantaranya debit air yang mengecil.

"Warga kami kan tidak ada yang punya sumur, semuanya dari sumber mata air yang dialirkan melalui pipa pipa, jadi kalau kawasan hutan dirusak kami juga yang susah sebab sumber air bisa mati," ujar Aminudin.

Warga lain yang juga tokoh di desa tersebut, Ali Amin Said bahkan mengungkapkan, kawasan hutan Gunung Rajabasa menjadi sumber beberapa air terjun salah satunya yang ada di desa tersebut yakni Air terjun Way Kalam. Air terjun tersebut  bersumber dari Way Penengahan.  Sungai besar ini mampu mengairi 20 desa di sekitar Gunung Rajabasa. Masyarakat setempat memanfaatkan air bersih itu untuk keperluan sehari-hari dan untuk dikonsumsi juga.

Menurut warga setempat yang sudah lama bermukim, mengatakan Way Penengahan mampu mengairi desa-desa di sekitarnya karena debit airnya yang banyak. Air terjun Way Kalam sendiri menjadi bagian yang dialiri sungai besar ini.

“Airnya bersih dan jernih, makanya banyak warga yang memanfaatkannya untuk kehidupan sehari-hari”, kata dia.

Aminudin dan warga lain berharap cara warga Desa Way Kalam dalam menjaga hutan bisa dicontoh oleh daerah lain. Tak mengherankan kawasan Desa Way Kalam tetap sejuk dan hijau meski musim kemarau dan air tetap mengalir. Warga juga tetap bisa melakukan aktifitas berkebun tanpa menggangu ekosistem hutan Gunung Rajabasa.

Konsep swakelola terhadap pengelolaan hutan tersebut juga mendapat dukungan dari aktifis pemuda pecinta alam (pancala) Lampung Selatan yang memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pengelolaan hutan berbasis kemasyarakatan. Ibnu Khuldun,  Ketua Pancala bahkan menyebut masyarakat yang sejahtera di sekitar hutan merupakan penyokong kelestarian hutan sebab jika masyarakat sekitar hutan tidak sejahtera maka hutan akan menjadi tempat mencari penghasilan sekaligus pilihan terakhir.

"Selama ini kita melakukan edukasi dengan melakukan penamanan tanaman keras sekaligus tanaman produktif yang buahnya bisa diambil untuk penghasilan namun kayunya juga sebagai tanaman reboisasi,"ungkap Ibnu Khuldun.

Pancala bahkan membuat lahan percontohan (demplot area)di Desa Kecapi Kecamatan Kalianda Lampung Selatan. Berbagai tanaman produktif yang akan dikelola oleh masyarakat diantaranya berbagai jenis tanaman berfungsi sebagai tanaman penghijauan sekaligus tanaman multy purpose trees species (MPTS) yang bisa ditanam tanpa mengganggu ekosistem hutan.

Upaya mencegah masyarakat kawasan hutan merambah hutan menurut Ibnu Kholdun bukan hanya sebatas himbauan dari instansi terkait, pemerintah melainkan upaya nyata dengan melakukan penanaman bersama masyarakat. Konsep swakelola yang ditularkan kepada masyarakat sekitar hutan diharapkan mampu menjaga kawasan hutan dari perambahan.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi

Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: