MINGGU, 13 NOVEMBER 2016

LAMPUNG --- Akhir pekan menjadi kesempatan bagi keluarga yang memiliki kesempatan memperkenalkan pendidikan sambil berekreasi kepada anak salah satunya mengenal satwa langka dan dilindungi diantaranya Gajah Sumatera (Elephas maximus Sumatranus). Salah satu tempat menyaksikan dari dekat satwa langka jenis gajah ada di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) yang berada  di Kabupaten Lampung Timur Lampung. 


Pengunjung yang akan mengunjungi lokasi ini bisa memulainya dari ibukota Provinsi Lampung Bandarlampung dilanjutkan dengan menempuh jalur darat melalui Natar-Metro-Way Jepara dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam dengan jarak tempuh sekitar 100 kilometer. Sementara bagi yang berangkat dari Pelabuhan Bakauheni melalui jalur darat Jalan Lintas Timur (Jalintim) bisa mengambil rute Bakauheni-Labuhan Maringgai-Way Jepara-Way Kambas dengan jarak 170 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 3 jam.

Salah satu sajian yang ditawarkan bagi pengunjung di Taman Nasional Way Kambas yang paling sering diminati oleh wisatawan diantaranya berkeliling taman nasional dengan naik di punggung gajah bersama sang pawang, berfoto bersama gajah, ikut memandikan gajah atau melihat atraksi gajah bermain bola serta kegiatan sirkus lainnya. Keberadaan pawang  gajah (mahout) yang akan mengarahkan gajah untuk duduk, jongkok serta aktifitas lain membuat pengunjung akan dengan mudah naik ke atas punggung gajah dan jika berkesempatan berada di pusat pelatihan gajah (PLG) tersebut hingga sore hari maka pengunjung bisa ikut memandikan gajah.


"Momen yang paling ditunggu oleh para pengunjung dengan sensasi yang tak pernah dirasakan sebelumnya adalah memandikan gajah, sebab kalau hanya foto foto semua orang bisa melakukannya, sementara memandikan gajah hanya saat tertentu khususnya sore menggunakan selang air atau kalau mau ikut berendam di danau,"ungkap Andi salah seorang mahout di Taman Nasional Way Kambas Lampung Timur kepada Cendana News, Minggu (13/11/2016).


Ia mengaku jumlah kunjungan wisatawan yang ingin melihat gajah akhir akhir ini meningkat terutama para rombongan anak sekolah, mahasiswa, komunitas fotografi serta masyarakat yang belum pernah melihat gajah dari jarak dekat terutama di habitat aslinya di Pulau Sumatera yang masih alami. Selain wisatawan domestik wisatawan dari luar negeri juga banyak mengabadikan momen berkunjung ke TNWK sengaja memilih bermalam di lokasi dengan adanya penginapan (homestay) untuk melihat kegiatan para mahout merawat gajah baik gajah dewasa hingga anak anak dari pagi hingga malam hari.

Sensasi bermain dengan gajah Sumatera tersebut ungkap Andi, mahout diantara puluhan mahout yang ada di tempat tersebut pun bisa dilakukan dengan kunjungan singkat selama sehari. Apalagi saat ini kemudahan fasilitas diberikan dengan menyediakan armada bus khusus yang berangkat dari terminal Rajabasa Bandarlampung setiap hari dengan rute tetap sehingga pengunjung tak perlu khawatir dengan sarana transportasi yang selama ini dikeluhkan pengunjung untuk menuju kawasan konservasi tersebut.


Lokasi kandang gajah yang diberikan tempat khusus bahkan menjadi tempat favorit bagi wisatawan karena sebagian besar gajah gajah jinak yang sudah terlatih ditempatkan di lokasi khusus dengan bak bak air untuk minum dan mandi. Keberadaan para pawang gajah membuat pengunjung tak perlu takut dan ragu berfoto dekat dengan gajah atau naik di punggung gajah bersama sama dengan para pengunjung lainnya karena bersama mahout seekor gajah bisa membawa sebanyak tiga hingga empat orang pengunjung untuk berkeliling di sekitar lokasi tersebut dengan tak lupa mengabadikan momen tersebut menggunakan kamera.

"Pengunjung tak perlu kuatir selama ada sang pawang karena para gajah yang sudah jinak tetap berada di bawah kendali sang pawang tapi jangan coba coba mendekati gajah yang tak berada dekat dengan pawang untuk menghindari hal hal yang tak diinginkan karena gajah binatang yang peka,"ungkap Andi.


Salah satu pengunjung dari Jakarta, Liona (34) mengaku baru pertama kali mengunjungi Taman Nasional Way Kambas untuk melihat satwa dilindungi tersebut dari dekat. Ia yang berkesempatan mengunjungi TNWK bersama komunitas para bloger dan fotografer tersebut mengaku bisa merasakan dari dekat sensasi menyentuh gading gajah, bagian tubuh gajah diantaranya telinga, kulit bahkan bulu bulu gajah yang selama ini tak pernah dilakukannya. Ia bahkan pertama kali merasakan naik gajah meski hanya berjalan bersama gajah selama sekitar 30 menit berkeliling bersama mahout dan kawan kawannya di sekitar kandang gajah. Berbagai pengalaman selama dua hari bersama gajah termasuk ikut memandikan gajah akan ditulisnya dalam blog perjalanan yang akan ditulisnya.

"Sangat menyenangkan dan pengalaman yang menakjubkan karena selama ini bahkan di kebun binatang pun saya belum pernah memegang gajah tapi setelah di sini ternyata jinak gajahnya,"ungkap Liona.

Selain berbagai sensasi bersama satwa gajah tersebut, jumlah wisatawan yang mengunjungi Taman Nasional Way Kambas juga seiring dengan kegiatan TNWK menyelenggarakan Festival Way Kambas 2016 yang diisi dengan berbagai kegiatan. Kegiatan tersebut diantaranya lomba lari 10 kilometer,trail adventure, lomba foto serta berbagai kegiatan lain yang diselenggarakan hingga Minggu (13/11) malam. Liona sebagai salah satu peserta lomba fotografi mengaku sangat menyukai berada di Taman Nasional Way Kambas namun ia sangat kecewa dengan fasilitas pendukung yang belum memadai di lokasi tersebut.

Setidaknya ia mengaku kekurangan tempat tersebut diantaranya fasilitas pendukung jalan yang kurang bagus, fasilitas toilet yang terbatas dan paling pokok ia bahkan kecewa dengan fasilitas internet yang tak bisa diakses termasuk jaringan komunikasi seluler yang nyaris tak ada. Ia bahkan mengaku terpaksa harus kembali ke homestay yang berjarak sekitar 8 kilometer dari lokasi taman nasional  akibat keterbatasan sinyal. Meski demikian ia berharap berbagai kegiatan serupa akan dilakukan tahun selanjutnya dengan berbagai perbaikan infrastruktur dan perbaikan fasilitas penunjang agar pengunjung lebih nyaman bukan hanya bersifat seremonial semata.


Sejarah Keberadaan TNWK Lampung Timur

Taman Nasional Way Kambas di Kabupaten Lampung Timur berdasarkan informasi yang dihimpun Cendana News merupakan satu dari dua kawasan konservasi yang berbentuk taman nasional di Provinsi Lampung selain Taman Nasional Bukit Barisan (TNBBS) yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 670/Kpts-II/1999 tanggal 26 Agustus 1999, Kawasan TNWK memiliki luas lebih kurang 125,631.31 hektar. Secara geografis TNWK berada di bagian Tenggara Pulau Sumatera di wilayah Provinsi Lampung dan masuk wilayah administratif Kabupaten Lampung Timur. Tahun 1924 kawasan hutan Way Kambas (Lampung Timur) dan Cabang (Lampung Tengah) disisihkan sebagian sebagai daerah hutan lindung bersama sama dengan beberapa daerah hutan yang tergabung di dalamnya.

Perkembangan selanjutnya dengan beberapa kali mengalami perubahan hingga akhirnya pada tahun 1991 atas dasar Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor 144/Kpts/II/1991 tanggal 13 Maret 1991 dinyatakan sebagai Taman Nasional Way Kambas dimana pengelolaannya oleh Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam Way Kambas yang bertanggungjawab langsung kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam II Tanjung Karang. Dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 185/Kpts-II/1997 tanggal 13 Maret 1997 Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam Way Kambas dinyatakan sebagai Balai Taman Nasional Way Kambas.

Berdasarkan data di dalam TNWK terdapat sebanyak 50 jenis mamalia, 406 jenis burung serta ratusan ekor gajah termasuk sebanyak 290 ekor gajah yang sudah berhasil dijinakkan. Gajah gajah liar yang dilatih tersebut kini bisa menjadi gajah tunggang, melakukan atraksi dan membantu manusia untuk mengangkut kayu. Sebagai salah satu pusat latihan gajah, pengunjung bahkan bisa melihat atraksi gajah diantaranya bermain bola, menari,berjabat tangan, mengalungkan bunga, tarik tambang, berenang dan berbagai atraksi lainnya. Pusat latihan gjah yang sudah ada sejak tahun 1985 tersebut kini mampu menjinakkan sebanyak 290 ekor gajah.

Selain lokasi tersebut, objek menarik yang bisa dikunjungi di TNWK diantaranya kegiatan berkemah di Way Kanan, melihat dari dekat penelitian dan penangkaran Badak Sumatera dengan fasilitas laboratorium alam dan wisma peneliti. Rawa kali biru, rawa gajah, Kuala Kambas dengan aktifitas menyusuri sungai Way Kambas dan melakukan kegiatan bird watching (pengamatan burung) diantaranya  pengamatan satwa, bebek hutan, kuntul, rusa, burung migran serta berbagai kegiatan lain di taman nasional tersebut.
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: