KAMIS, 17 NOVEMBER 2016

SOLO---Intensitas hujan yang masih tinggi membuat wilayah lereng gunung Lawu, yang masuk Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menjadi labil. Akibatnya, tanah di permukiman warga menjadi bergerak dan bencana longsor pun mengancam warga. Kepala Dusun Pokoh, Aris Mujono mengatakan, setidaknya terdapat 26 rumah di Desa Seloromo, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, terimbas rekahan tanah yang terus membesar. Sebab, awalnya tanah hanya bergerak beberapa centimeter saja.

Sejumlah warga desa yang was-was dengan fenomena alam berupa tanah bergerak.
“Tapi, setelah tiga hari diguyur  hujan terus menerus, membuat rekahan semakin tinggi.  Sudah ada tiga rumah yang sudah terkena dampak langsung akibat tanah labil tersebut,” ucap Aris kepada Cendana News, Rabu sore (16/11/16).
Bahkan, akibat tanah bergerak yang mulai terjadi pada Senin (14/11) kemarin, satu keluarga sudah mengungsi karena rumahnya tak aman untuk tempat tinggal. “Untungnya, rumahnya terbuat dari papan, jika terbuat dari semen mesti sudah roboh, rata dengan tanah,” lanjutnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Selasa sore juga terjun ke lokasi untuk mengecek kondisi rekahan tersebut. Disebutkan, tinggi rekahan dari kondisi sebelumnya sudah mencapai satu meter lebih.

“Hampir setiap hari rekahan semakin tinggi, dan saat ini sudah lebih dari setinggi dada orang dewasa. Kami harapkan, untuk warga terus waspada, terutama saat hujan turun,” terang Prabowo, salah satu anggota BPBD Karanganyar. 

Menurutnya, radius rekahan tanah gerak di dusun pokoh tersebut mencapai 300 meter lebih. “Bentuknya, rekahan tanah seperti tapal kuda. Kondisi tanah yang labil membuat ancaman longsor dapat terjadi kapan saja,” imbuhnya. 

Oleh pihak aparat desa setempat, sudah menginstruksi jika hujan deras turun, warga diminta untuk mengungsi ke mushola yang tak jauh dari lokasi warga.  



Jurnalis/ Harun Alrosid/ Editor: Satmoko/ Foto: Harun Alrosid
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: