MINGGU, 20 NOVEMBER 2016

JAKARTA --- Papua, "surga kecil jatuh ke bumi" yang memiliki keanekaragaman kekayaan baik dari segi alam maupun eksotisme wilayah. Salah satu kearifan lokal yang akhirnya berkembang menjadi kekayaan budaya Papua adalah cara berburu dan kebersamaan menikmati hasil buruan masyarakatnya.

Para duta muda budaya Indonesia untuk tari asal Papua (berdiri) dan Maluku (jongkok)
Yopie Reinata Siregar, S.Sn, seorang pelaku seni budaya sekaligus koreografer tari profesional pada 2003 membuat sebuah Tari Kreasi khas Papua yang diberi nama "Tari Berburu". Bagaimana proses masyarakat Papua dalam berburu babi hutan maupun burung untuk kemudian dijadikan bahan pangan divisualisasikan dalam bentuk gerak tari.

Tidak sebatas itu, turut divisualisasikan bagaimana proses bakar sagu yang biasanya dilakukan beramai-ramai untuk kemudian dihidangkan serta disantap bersama-sama. Pesan yang tersimpan dibalik tarian ini sudah jelas, yaitu kebersamaan.

" Untuk melakukan tarian ini dibutuhkan sejumlah lima hingga maksimal 12 orang penari. Semakin banyak semakin baik, akan tetapi diperhitungkan juga dari kebutuhan koreografi tarinya juga," terang Yopie kepada Cendana News.

Dalam event Festival Seni Budaya Nusantara DPN Kermahudatara di Anjungan Sumatera Utara Taman Mini Indonesia Indah (TMII) 19/11/2016 maka Yopie bersama beberapa rekannya mempersiapkan lima hingga enam orang gadis remaja untuk membawakan Tari Berburu sebagai persembahan khusus bagi tamu istimewa selepas mereka membawakan tarian utama untuk festival.

Dengan dilakukan oleh penari remaja maka harapan Yopie adalah ia dapat mengeksplorasi gerakan-gerakan berburu masyarakat Papua seperti naik gunung, melompat dan memanjat pohon atau batu. Cukup sulit untuk melatih mereka namun jika berhasil akan menjadi nilai tambah tersendiri.

" Dalam melatih penari di usia remaja kebawah, hanya satu kuncinya yakni sabar," kata Yopie. Sedangkan untuk kostum, maka Yopie menggunakan kostum adat tradisional Papua pada umumnya lengkap dengan hiasan muka serta penutup kepala bulu burung cendrawasih.

Aksi menarik para remaja binaan Koreografer Yopie Reinata dalam membawakan Tari Berburu khas Papua
Satu hal yang membuat Yopie gembira adalah para penari yang dihimpunnya untuk Tari Berburu khas Papua semuanya adalah bukan orang Papua. Meski demikian, mereka sangat antusias dalam latihan sampai tiba waktunya pementasan. Artinya mereka senang dengan budaya Papua. Menurut Yopie, dimulai dari menyenangi serta mengenal budaya nusantara, maka para remaja kedepannya bisa sampai pada tahapan menyayangi serta mencintai kebudayaan tersebut.

Yopie memang mengkhususkan diri melakukan eksplorasi tari wilayah Indonesia timur, seperti Papua, NTT, Sumba bahkan Bali sampai Kalimantan dan Maluku. Ia dan rekan-rekannya juga amat menghargai bibit-bibit muda pelaku budaya.

" Anak-anak usia remaja kebawah merupakan masa depan seni budaya nusantara. Jadi kami memperlakukan mereka dengan sanghat berhati-hati. Kami ingin mereka menjadi duta-duta budaya Indonesia kelak. Siapa lagi yang akan melestarikan sekaligus mempertahankan budaya nusantara kalau bukan bangsa Indonesia sendiri," pungkas Yopie.

Perwakilan penari tradisional Papua saat menerima piala dan hadiah
Harapan kedepan dari Yopie dan rekan-rekan sesama koreografer tari daerah adalah bisa terus membagikan pengalaman-pengalaman mereka kepada para pelaku budaya muda yang memang sangat butuh bimbingan serta arahan. Regenerasi harus berkesinambungan agar pelestarian budaya bisa terus dilakukan lintas generasi.
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: