MINGGU, 6 NOVEMBER 2016

MAUMERE --- Setiap ada penyambutan tamu penting yang datang dari luar kabupaten Sikka, tarian Hegong merupakan tarian wajib yang akan disuguhkan sebelum sang tamu dikalungi selendang tenun ikat khas Sikka.


“Tarian ini merupakan salah satu tarian kebesaran masyarakat kabupaten Sikka dalam menyambut para tamu yang datang,” ujar Mery Parera. 

Kepada Cendana News, di Maumere, Minggu (6/11/2016) Mery menjelaskan,tarian ini biasanya dimainkan secara berkelompok oleh penari pria dan wanita dengan berpakaian adat dengan diiringi dengan musik Gong Waning.

“Tarian ini cukup terkenal dan sering di tampilkan di berbagai acara seperti acara adat, penyambutan tamu penting, pertunjukan kesenian dan acara penting lainnya, “ ungkapnya.

Menurutnya, tari Hegong awalnya merupakan tarian adat dan sering ditampilkan di ritual adat. Selain itu tarian ini juga dipergunakan sebagai tarian penyambutan tamu terhormat yang datang ke sebuah wilayah.


Tarian Hegong biasanya terdiri dari Hegong Papak, Hegong Sakalele, serta menyuguhkan dilanjutkan dengan menyuguhkan Sirih Pinang atau biasa dikatakan Bitek Wua Ta;a. Sementara tarian laki-laki di atas bambu biasa dinamakan Tua Reta Lo’u.

Berirama Cepat

Rosvita Rensiana, ketua sanggar Wat Bo kepada Cendana news mengisahkan, tari Hegong ini biasanya dimainkan oleh kurang lebih 6 sampai 10 orang penari, baik penari pria maupun wanita.

Dalam tarian ini, para penari dilengkapi dengan ikun, kayu kecil yang diikat dengan potongan kain,tali atau ekor kuda yang dipergunakan di tangan satunya. sementara itu tangan satunya memegang Lesu, sapu tangan.

“Kalau Ikun dipegang di tangan kanan maka Lesu dipegang di tanagn kiri. Selama menari, Ikun dan Lesu digerak-gerakan sesuai keinginan penari, “ ungkapnya.


Sesekali Ikun dan Lesu dikibas-kibaskan di atas kepala membuat gerakan melingkar. Lesu merupakan sejenis sapu tangan yang digunakan sebagai pelengkap gerakan tangan para penari sedangkan Reng adalah sejenis gelang kaki yang dilengkapi dengan giring-giring. 

Biasanya terdapat  babak dalam tarian Hegong. Pada babak pertama, para penari wanita memasuki arena dengan diiringi musik Gong Waning kemudian di ikuti oleh penari pria sambil memegang parang atau golok. Para penari menari dengan irama cepat dengan gerakan Pledong wa’in atau sentakan kaki. 


“Di babak kedua, penari pria dan wanita membentuk lingkaran dimana para penari mengelilingi penari wanita, “ terangnya.

Sementara itu, pada babak ketiga, papar Rensiana, para penari melakukan gerakan bebas. Biasanya dilakukan gerakan kreasi yang dipadukan dengan irama musik Gong Waning. 

Kemudian pada babak terakhir, pemilik sanggar Watu Bo ini, para penari kembali membentuk lingkaran dan sebagai penutup, sering kali salah satu penari diangkat keatas dengan menggunakan sebatang bambu dan telungkup di atasnya.

Semangat Melindungi

Setiap gerakan dan babak yang ditampilkan dalam Tari Hegong ini tentu memiliki arti atau makna tersendiri. Hal tersebut bisa kita lihat dari pertunjukannya dimana babak pertama dibuka dengan gerakan berirama cepat dan sentakan kaki,

Gerakan ini beber Mery, menggambarkan semangat para penari. sementara di babak kedua penari membuat lingkaran dengan penari lelaki mengelilingi penari perempuan,

“Gerakan ini menggambarkan jiwa kaum lelaki dalam mempertahankan dan melindungi kaum perempuan, “ terangnya. 


Selanjutnya  di babak terakhir, salah seorang penari pria diangkat ke atas bambu yang menggambarkan bahwa dia sedang memantau musuh atau lawan dan penari yang dibawah menggambarkan kesiagaan mereka dalam menghadapi serangan. 

Pertunjukan Tari Hegong ini biasanya diiringi oleh musik Gong Waning. Gong Waning, alat musik tradisional yang terdiri dari gendang yang disebut dengan Waning, Wong dan Peli anak. Pada instrument waning sendiri terdiri dari gendang besar dan gendang kecil disebut Dodor. 

Pada instrument gong terdiri dari Gong Ina Wa’a, Gong Ina Depo, Gong Lepe, Gong Higo Hagong, dan Gong Udong. Sedangkan Peli anak sendiri merupakan sepotong bambu yang digunakan untuk menstabilkan irama pukulan Gong Waning. 

Musik Gong Waning ini bisa menghasilkan beberapa jenis irama musik, salah satu irama yang biasa dimainkan untuk mengiringi Tari Hegong adalah irama Badu Blabat.


Dalam menarikan tarian ini, penari wanita menggunakan busana seperti Labu Gate, Utan dan Dong warna-warni. Pada bagian rambut dibuat Legen dan ditambahkan Hegin untuk memperkuat lingkaran rambut serta diberi hiasan Soking. Tidak lupa menggunakan Gelang Gading pada pergelangan tangan mereka. 

Sedangkan untuk penari pria biasanya menggunakan busana seperti Lipa Prenggi atau Lipa Mitan dari tenun ikat khas Sikka. Selain itu pada bagian kepala menggunakan pengikat kepala yang disebut dengan Lesu Widin Telun. 

“Penari lelaki menggunakan baju kaus dalam berwarna putih dan selendang tenun ikat di pakai melingkari badan dari bahu ke pinggang serta memakai gelang gading besar yang disebut Mone Bala, “ pungkasnya.

Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Ebed De Rosary

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: