SABTU, 12 NOVEMBER 2016

CATATAN JURNALIS---Kesenian merupakan ekspresi masyarakat sebagai simbol identitas dan kearifan lokal masyarakat setempat. Salah satu kesenian yang masih ditampilkan hingga kini dalam berbagai kegiatan di Lampung adalah seni topeng atau dikenal dengan Tupping bagi masyarakat Lampung pesisir. Sejarah kesenian tuping tak bisa dilepaskan dari nilai nilai heroik masyarakat Lampung dalam memperjuangkan kemerdekaan dari penjajah Belanda yang mencengkeram hampir semua wilayah di Lampung baik di daratan hingga pesisir lautnya. Kesenian tupping menjadi salah satu peninggalan sejarah dalam bentuk seni yang tak bisa dilepaskan dari perjuangan masyarakat Lampung mempertahankan tumpah darahnya. Selain itu makna lain dari keberadaan kesenian tuping juga berhubungan erat dengan rasa syukur masyarakat kepada pencipta atas segala berkah pada kampung halaman, bumi, air dan semua hal yang dianugerahkan pencipta kepada tanah Lampung.


Tuping yang sudah berkembang sejak awal masyarakat Lampung berkembang hingga kini tetap dilestarikan karena tuping menjadi ekspresi seni budaya masyarakat Lampung khususnya di wilayah perkembangan awal masyarakat Lampung diantaranya di wilayah Selaka Brak Lampung Barat, Tanggamus dan Lampung Selatan. Keberagaman akan kesenian tuping tersebut tanpa meninggalkan identitas asli masyarakat Lampung bahkan ditandai dengan sebutan khas untuk topeng di wilayah Lampung Barat yang dikenal dengan sebutan Sekura dan Tupping di Lampung Selatan.

Tarian topeng di wilayah Lampung Barat dikenal dengan Sekura-an yang merupakan kegiatan pesta rakyat yang diselenggarakan setelah menyelesaikan ibadah puasa dan memasuki bulan Syawal dengan berbagai kegiatan yang diikuti seluruh lapisan masyarakat setempat. Dalam pandangan umum pesta Sekura nyaris sama dengan kebudayaan masyarakat di daerah lain di Pulau Jawa yang dikenal dengan ruwatan atau bersih kampung. Selain itu makna lain pesta sekura juga identik dengan simbol kemenangan,kebebasan, kegembiraan jiwa manusia untuk berkreasi dan berekspresi. Secara khusus Sekuraan setelah bulan puasa bermakna simbol kemenangan akan masa puasa yang telah dijalani. Seiring dengan perjalanan waktu pemaknaan akan kemerdekaan Republik Indonesia membuat Sekura sering ditampilkan saat 17 Agustus setiap tahunnya sebagai simbol ungkapan kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan. Pesta sekura bahkan digelar dengan menggunakan topeng sekura sebagai suatu ciri yang khas, topeng sekura juga memiliki dua jenis sebagai simbol perwujudan manusia, kehidupan diantaranya sekura kamak (kotor, jahat,buruk) dan sekura helau/betik (bagus, baik). Sekura kamak sering disimbolkan dengan sekura yang mengenakan pakaian compang camping, kotor,muka jelek lusuh sementara sekura helau/betik digambarakan mengenakan pakaian bersih rapih dan menyenangkan.


Bentuk kesenian topeng yang ada di Lampung Selatan juga memiliki ciri yang berbeda dibandingkan di Lampung Barat. Meski demikian berdasarkan pengamatan jurnalis Cendana News, keeratan kekerabatan daerah yang sangat jauh terpisah gunung dan lautan tersebut masih sangat erat dengan banyaknya nama nama desa/pekon yang sama di kedua wilayah baik di wilayah Lampung Barat, Tanggamus dan Lampung Selatan. Wilayah desa di pesisir Tanggamus memiliki nama Desa Banding yang sama persis dengan Desa Banding di Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan. Demikian halnya dengan Kenali di Lampung Barat yang juga menjadi nama daerah di Lampung Selatan. Kekerabatan yang kuat menyimbolkan saudara muda dan saudara tua yang hingga kini dipertahankan.

Tupping di Lampung Selatan memiliki fungsi berbeda dengan sekura karena tidak terlepas dari nilai historis keberadaan tupping tersebut. Simbol simbol magis tupping yang asli bahkan masih tersimpan rapi di Lamban Balak Kuripan yang merupakan tempat keluarga Raden Inten II hingga kini berada. Tarian tupping di Lampung Selatan merupakan kesenian yang berfungsi dalam satu rangkaian acara dalam ritual (upacara ) adat masyarakat Pesisir Lampung Selatan. Tupping dianggap oleh masyarakat Lampung Selatan sebagai topeng sakral penolak bala pada tiap upacara ritual adat antara lain arak arakan baik dalam upacara adat perkawinan,pengangkatan kepala marga (Bujenong Jaro Marga), ruwatan hasil laut, upacara khitanan dan acara tradisional lain.


Nilai historis Tupping tak bisa dilepaskan dari latar belakang zaman dahulu sebagai pasukan tempur dan pengawal rahasia Radin Inten I (1751-1828), Radin Imba (1828-1834), Radin Inten II (1834-1856). Pasukan prajurit Tupping merupakan pasukan prajurit atau pejuang bagi rakyat Lampung yang berperan mengusir penjajah yang ingin menguasai tanah Lampung yang kala itu dikenal sebagai penghasil rempah lada. Sebagai bagian taktik perang gerilya dengan memakai topeng dimaksudkan untuk menutupi jati diri yang sesungguhnya sebagai pasukan pejuang. Kostum yang digunakan sebagai kamuflase tersebut bahkan didominasi dengan pakaian pakaian yang diambil dari alam diantaranya daun pisang kering (kahar), dedaunan hutan serta penutup dari bahan alam lainnya. Seiring perkembangan zaman, tupping disajikan dalam bentuk tarian dengan jumlah tetap sama sebanyak 12 sebagai simbol ke-12 prajurit pejuang bersama Radin Inten II. Kini tupping digunakan sebagai satu tarian kerakyatan yang dipentaskan dalam berbagai acara ritual adat.

Sejarah ini juga tak lepas dari masyarakat adat pesisir yang tinggal di kawasan Gunung Rajabasa dan berkaitan erat dengan sejarah Keratuan Darah Putih yang hingga kini masih dipertahankan di Desa Kuripan Kecamatan Penengahan. Keratuan Darah Putih merupakan kelompok marga yang hidup di kawasan pesisir Lampung Selatan dan mengelilingi Gunung Rajabasa. Seni tupping kini sudah mulai meninggalkan unsur magis dan mulai dihadirkan dalam kegiatan kegiatan kesenian masyarakat yang kental dengan ritual adat.


Tupping yang merupakan simbol kegagahan dan tak bisa dilepaskan dari perjuangan Raden Inten II pun akan ditampilkan dalam acara Bujenong Batin Khatu yang merupakan kegiatan Haul ke-160 Pahlawan Nasional Raden Inten II yang akan diselenggarakan selama sepekan sejak 10 November hingga 16 November mendatang di Desa Kuripaan sebagai pusat Keratuan darah Putih. Tupping merupakan perwujudan salah satu karakter gagah ksatria yang bersifat selalu melindungi seperti yang tersirat dalam topeng topeng kayu yang ada di Lampung baik sekura maupun topeng lainnya. Kekhasan tupping juga dilihat dari jubah daun pisang dan daun daunan lain yang menutupi seluruh tubuh.

Sebagai ciri khas masyarakat Lampung Selatan, makna tupping juga memiliki nama nama yang khusus yang merupakan kekhasan warisan Keratuan Darah Putih. Sebanyak 12 tupping tersebut bahkan memiliki nama nama berbeda dan menyimbolkan asal pemakai dan tempat tugas tupping yang memiliki ciri khas berbeda diantaranya:

1. Tuping Ikhung tebak (Hidung Melintang) yang menyimbolkan wilayah tugas Gunung Rajabasa (Buai Tumbal) dipakai oleh Kakhya Jaksa (Desa Kuripan).

2. Ikhung Cungak (Hidung Mendongak) yang bertugas di Tanjung Tua (Tupai Tanoh) dipakai oleh Kakhya Khadin Patih (Desa Kuripan).

3. Luah Takhing (Keluar Taring) yang bertugas di Anjak Kekhatuan Mit Matkhani Mati (Barat) dipakai oleh Kakhya Menanti Khatu (Desa Kuripan).

4. Jangguk Khawing (Janggut Panjang) yang bertugas di Way Sekampung dipakai oleh Kakhya Jaga Pati (Desa Kekiling).

5. Banguk Khabit (Mulut Sompel) berugas di Gunung Cukkih Selat Sunda dipakai oleh Kakhya Yuda Negara (Desa Kekiling).

6. Bekhak Banguk (Mulut lebar) bertugas keliling Gunung Rajabasa dipakai oleh Kakhya Jaga Pamuk (Desa Ruang Tengah).

7. Mata Sipit (Mata Sipit) tugas di Batu Payung yang dipakai oleh Temenggung Agung Khaja (Desa Ruang Tengah).

8. Banguk Kicut (Mulut mengot) yang bertugad di Gunung Kakhang yang dipakai oleh Ngabihi Paksi (Desa Ruang Tengah).

9. Pudak Bebai (Muka Perempuan) yang bertugas di Tanjung Selaki dipakai oleh Kakhya Bangsa Saka (Desa Ruang Tengah).

10. Kedugok/Mata Sipit (Mata Ngantuk) yang bertugas anjak Kekhatuan Tugok Matakhani Minjak (Timur) dipakai oleh Kakhya Sanguda (Desa Tetaan).

11. Mata Kicong (Mata Sebelah) yang bertugas di Pulau Tuku Tiga Selat Sunda dipakai oleh Kakhya Kiyai Sebuai (Desa Tetaan).

12. Ikhung Pisek (Hidung Pesek) yang bertugas di Sumokh Kucing dipakai oleh Khaja Temenggung (Desa Tetaan).

Kesenian yang menjadi ciri khas masyarakat Pesisir Lampung Selatan dan tak bisa lepas dari Pahlawan Raden Inten II tersebut kini semakin dikenal. Selain itu momentum kegiatan haul Pahlawan Raden Inten II pada bulan November ini menjadi pengingat akan pentingnya tupping Lampung. Kegiatan "Bujenong Batin Khatu" Keratuan Darah Putih dalam rangka memperingati Hari Pahlawan serta memperingati gugurnya pahlawan nasional Raden Inten Kesuma Ratu II yang ke-160 menjadi sebuah pengingat akan perjuangan pahlawan muda asal Lampung tersebut.

Sebagai ungkapan syukur, terima kasih atas perjuangan pahlawan Raden Inten II (Raden Intan II bahkan rangkaian Bujenong Batin Khatu telah diselenggarakan dengan berbagai kegiatan. Kegiatan tersebut dimulai sejak 9 November dengan kegiatan bersih kampung, bakti sosial donor darah, sunatan masal, pengecatan patung Raden Inten II. Pemasangan bebakhung, dekorasi, khuwah minjak hajat, haul dan tablik albar hingga kegiatan pameran dan Bujenong Batin Khatu yang akan digelar pada puncaknya 16 November mendatang.

Kesenian Tupping, kecintaan masyarakat Lampung akan pahlawan yang telah gugur membela bangsa dan tanah air dari Keratuan Darah Putih menjadi sebuah kearifan lokal yang berpadu dengan semangat nasionalisme dan kebanggaan bahwa masyarakat Lampung juga memiliki andil dalam mengusir penjajah dari bumi Lampung. Tupping, kesenian dan nilai nilai kepahlawanan yang tak pernah lekang oleh waktu dan masih bertahan hingga kini dalam semangat kepahlawanan yang masih dipertahankan dalam kearifan lokal masyarakat Lampung Selatan.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Henk Widi





Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: