SELASA, 29 NOVEMBER 2016
MAUMERE---Pengendara sepeda motor dan mobil yang melaju dari arah barat meintasi jalan trans utara Flores dari Kabupaten Ende dan Nagekeo yang hendak menuju ke kota Maumere ibu kota Kabupaten Sikka banyak yang terjebak dan salah arah. Kejadian ini disebabkan akibat papan penunjuk arah yang terpasang di jalan trans utara Flores tepatnya di Desa Magepanda Kecamatan Magepanda dekat pertigaan PLN Magepanda salah memberi petunjuk. Pada papan penunjuk arah tersebut, arah menuju kota Maumere harus berbelok ke arah kanan, padahal seharusnya pengendara berjalan lurus. Bila berbelok ke kanan, maka pengendara akan menuju ke wilayah Desa Magepanda, Kadubewa, dan Done, berakhir di hutan.

Papan penunjuk arah yang perlu perbaikan.
“Banyak pengendara yang dari luar daerah dan baru pertama kali melinatsi jalan ini sering tersesat akibat mengikuti penunjuk arah ini,” ujar Antonius Tenda.

Warga Magepanda yang ditemui Cendana News di lokasi Selasa (29/11/2016) ini mengakui, selain penunjuk arah yang salah, tulisan Kajuwulu juga salah sebab tertulis Kajiwulu. Meski sudah berlangsung lama, kesalahan ini sepertinya dibiarkan saja.

“Kami sudah sampaikan ke pihak desa dan kecamatan agar diperbaiki, namun sejak bertahun-tahun papan penunjuk arah ini tetap terpasang di tempatnya,” ungkapnya kesal.

Seorang warga yang melintas di jalanan dengan papan arah yang kerap membingungkan.
Hal yang sama juga disampaikan Theresia Nuba. Kisah Tres, sapannya, pernah ada mobil travel dari Mbay ibu kota Kabupaten Nagekeo yang mengantar turis ke Maumere, namun berbelok ke kanan arah Done sejauh hampir 500 meter. Untung saja sopirnya sempat menyadari adanya kesalahan dan menanyakan kepada masyarakat sehingga disuruh berbalik arah. Para turis pun turun dari mobil dan sempat berfoto dengan latar belakang sawah serta pegunungan yang gersang.

“Sopirnya pun sempat bersungut-sungut sebab salah jalan. Namun akhirnya maklum saja setelah masyarakat katakan banyak juga pengendara yang baru pertama kali melintas dan salah arah seperti dirinya,” pungkasnya.

Jurnalis: Ebed de Rosary / Editor: Satmoko / Foto: Ebed de Rosary

Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: