RABU, 2 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Selain masalah mata minus yang acapkali tak disadari sejak dini, sakit katarak juga masih menjadi masalah bagi warga di berbagai daerah di Indonesia. Sementara, katarak sebagai efek samping dari ketuaan tak bisa dihindari.


Katarak akan menjadi fokus penting dalam peringatan Hari Kesehatan Nasional di Yogyakarta, karena jumlah penderita katarak di kota tersebut terhitung masih tinggi. Kendati belum ada data valid jumlah penderita katarak di Yogyakarta, namun jumlah penderita katarak di Yogyakarta tahun ini dipastikan menurun drastis.

Ketua Jogja Eye Help, Tri Kirana Muslidatun, yang juga merupakan Ketua Umum Komisi Daerah Lanjut Usia (Komda Lansia) DI Yogyakarta mengungkapkan, pada tujuh tahun lalu ketika diadakan operasi katarak gratis, sebanyak 900 orang mendaftar dan hanya sekitar 250 orang yang dioperasi. Lalu, pada tahun 2015 ketika diadakan operasi katarak gratis lagi, hanya ada 90 peserta yang mendaftar. 

"Pemerintah Daerah DI Yogyakarta telah mencanangkan kota bebas katarak, sehingga jumlah penderita katarak terus menurun", ujarnya, Rabu (2/11/2016).

Namun demikian, Kirana menyatakan, hingga saat ini masih banyak warga yang tidak memahami katarak. Terlebih bagi para orang tua lanjut usia. Mereka para lansia, hanya tahu jika penglihatannya kabur. Karenanya, edukasi katarak bagi masyarakat perlu lebih ditingkatkan.


"Selain ketidak-tahuan, banyak warga juga takut dioperasi serta tidak punya biaya operasi", katanya.

Sementara itu, Staf Departemen Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Univeristas Gajah Mada yang juga Pengurus Bank Mata DI Yogyakarta, Prof. Dr Suhardjo, SU, Sp. M (K) menambahkan, masyarakat perlu memahami jika katarak itu bukan penyakit. Melainkan efek dari ketuaan.

"Maka, semakin tinggi angka harapan hidup, jumlah penderita katarak juga dimungkinkan mengalami peningkatan", jelasnya, sembari mengimbuhkan, jika selain ketuaan, katarak juga bisa dipicu oleh diabetes. 

Masalahnya, kata Suhardjo, banyak penderita katarak tidak mampu secara ekonomi untuk memeriksakan kesehatan mata, terlebih ketika menyadari biaya operasi katarak cukup tinggi. Saat ini, jelasnya, biaya operasi katarak dengan metode jahitan mencapai sekitar Rp. 4 Juta, sedangkan tanpa jahitan bisa mencapai Rp. 10 Juta.

"Dengan tingginya biaya operasi itu, maka perlu adanya aksi nyata untuk menekan jumlah penderita katarak. Pemerintah sudah cukup banyak melakukan berbagai langkah, hanya perlu ada dukungan dari masyarakat, salah satunya dengan kegiatan sosial operasi gratis katarak", ungkapnya.

Dalam operasi katarak gratis di hari kesehatan nasional nanti yang bertempat di Rumah Sakit Happy Land, lanjut Suhardjo, panitia membatasi peserta operasi katarak gratis sebanyak 60 orang. Pembatasan ini dilakukan agar hasil operasi yang dilakukan bisa optimal. Jika terlalu banyak, dokter akan merasa lelah dan bisa saja tidak teliti lagi. Sedangkan warga yang ingin mengikuti operasi katarak gratis, cukup hanya membawa Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga.

"Ada 6 tim dokter dalam operasi katarak yang masing-masing akan menangani 10 pasien, dengan rata-rata sekali penanganan membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Sedangkan untuk pemeriksaan mata bagi anak-anak, akan diterjunkan tujuh orang dokter yang akan menangani sekitar 200 anak", pungkasnya.

Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: