RABU 23 NOVEMBER 2016

MAUMERE---Para petani dampingan Wahana Tani Mandiri (WTM) kembali melakukan kunjungan belajar ke kebun kakao milik petani kakao sukses Eduardus di Dusun Gedo Desa Wolokoli kecamatan Bola kabupaten Sikka. Demikian disampaikan Hery Naif, Kordinator Advokasi dan Pengelolaan Lingkungan dan Hasil WTM kepada Cendana News di kantornya, Rabu (23/11/2016).

Suasana para petani dampingan Wahana Tani Mandiri (WTM) ketika melakukan kunjungan belajar ke kebun kakao milik petani kakao sukses Eduardus di Dusun Gedo Desa.

Dikatakan Hery, kunjungan belajar ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kapasitas para petani dan kader tani dampingan WTM guna mempelajari tentang budidaya tanaman kakao dan pengolahan hasil kakao setelah dipanen.

“Kami harapkan dengan melihat langsung kakao di kebun dan belajar di lapangan para petani bisa langsung memahami dan mempraktekannya di kebun mereka setelah kembali nanti,” ungkapnya.

Kegiatan ini beber Hery berlangsung pada 21 November 2016 dengan dipimpin oleh Dedy Alexander yang dihadiri oleh dirinya dan beberapa pegawai dari BPK Bola. Kegiatan belajar ini diawali dengan  memberikan materi Analisa Usaha Budidaya Tanaman Kakao yang dibawakan Eduardus. Sebelum melakukan budidaya tanaman kakao petani lanjutnya perlu membuat analisi usaha tani secara ekonomi dengan membandingkan tanaman yang lain.

Dengan pemanfaatan lahan yang sedikit bisa menghasilkan produksi yang tinggi, dimana secara ekonomi menguntungkan untuk pemenuhan kebutuhan.

“Tanaman kakao mampu menghasilkan selama 25 tahun, dimana tanaman yang sudah berproduksi bisa menghasilkan minimal 1 kilogram per pohon,” terangnya.

Hery berasumsi, apabila petani memilik lahan 1 hektar dengan jarak tanam 3x3 meter maka populasi per hektar bisa mencapai seribu pohon. Jadi secara analisa dapat menghasilkan 1 ton biji kakao dimana dengan harga jual Rp30 ribu, petani bisa mengantongi uang Rp30 juta sebulan.

“Oleh karena itu,  petani harus sadar dan mulai berfikir tentang cita-cita di masa yang akan datang,”  ujar Hery mengutip pernyataan Eduardus.

Petani juga sambung mantan Direktur Walhi NTT ini dibekali dengan persiapan bibit yang terdiri atas 2 pilihan yaitu bibit dari biji atau dengan cara sambung pucuk. Selain itu, untuk lahan baru dilakukan pemetaan lahan dan terasering dengan tujuan untuk mendapatkan jarak tanam sesuai.

Jarak tanam yang ideal ungkap Hery, seperti dikatakan Eduardus adalah  3x3 meter, 3x4 meter atau 4x4 meter tergantung keinginan petani. Selain itu dilakukan penanaman pohon pelindung seperti pisang,pepaya, dadap,gamal. Sedangkan untuk lahan yg sudah ada tanaman dilakukan peremajaan dan penyisipan.

“Perawatan dan pemupukan harus dilakukan secara teratur dengan melihat kondisi fisik tanaman dan melihat musim. Pemupukan dengan cara menabur pupuk bokasi di sekeliling tanaman kakao, “ terangnya.

Apabila kakao itu sudah mengalami produksi yang menurun papar Hery, maka perlu dilakukan pemangkasan. Ada empat teknik pemangkasan yakni pemangkasan bentuk, pemeliharaan, produksi dan peremajaan.

Pemangkasan bentuk dilakukan saat tanaman berumur 1,5 tahun saat munculnya jourget tanaman sehingga terbentuk kerangka tanaman yang ideal sehingga cabang cabang  tumbuh seimbang.Pemangkasan pemeliharaan dan produksi dilakukan dengan membuang tunas-tunas air/wiwilan, tunas tertier, cabang balik, cabang yang berimpitan/tindis.

“Pemangkasan bertujuan agar tanaman memperoleh sinar yang cukup saat proses pertumbuhan bunga dan buah sehingga dapat meningkatkan produksi tanaman,” pungkasnya.

Jurnalis: Ebed de Rosary/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Ebed de Rosary
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: