RABU 9 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA---Sebagai wujud kepedulian bangsa Indonesia terhadap kelestarian Flora dan Fauna, maka pada 1993 Presiden kedua RI, H.M. Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 4 yang menetapkan setiap tanggal 5 November sebagai Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN). Ini merupakan salah satu upaya pemerintah dalam menyadarkan sekaligus mengedukasi masyarakat akan perlunya menjaga kelestarian flora (puspa) dan fauna (Satwa).

Titiek Soeharto mencangkul sendiri lalu menanam pohon mangrove



Dengan mengingat tanggal 5 November sebagai Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional maka masyarakat akan lebih memperhatikan keberadaan puspa dan satwa Indonesia agar tidak punah. Contoh satwa yang terancam punah adalah Bubut Jawa (Centropus Nigrorufous) atau dikenal dalam bahasa inggris dengan sebutan Javan Coucal.

Burung endemik dengan hutan mangrove sebagai salah satu habitat kehidupannya masuk dalam kategori burung yang terancam punah di dunia dengan peluang kepunahan lebih dari 10% dalam 100 tahun ke depan. Adapun salah satu penyebab kepunahan Bubut jawa kedepannya adalah karena perusakan hutan mangrove dan rawa di daerah pesisir akibat pembukaan lahan.

Semangat HCPSN membawa Wakil ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau dikenal akrab rakyat dengan Titiek Soeharto untuk hadir  dalam acara bertajuk 'Tanam Mangrove Bersama' dalam rangka peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) yang jatuh pada 28 November 2016 mendatang sekaligus peringatan Bulan Menanam Pohon yang juga jatuh di bulan November setiap tahunnya.

Acara yang masuk dalam agenda pamungkas kunjungan resmi masa reses Titiek Soeharto ini diadakan di hutan mangrove Wana Tirta, Pasir mendit, Kabupaten Kulon Progo. Dalam kesempatan tersebut Titiek Soeharto didaulat melakukan tanam pohon mangrove.

" Semoga kalian tumbuh subur semua," ucap Titiek sambil menanam bibit pohon mangrove.

Selepas melakukan tanam pohon mangrove, Titiek Soeharto bersama Bupati Kulon Progo dan jajarannya dibawa memutar pesisir hutan mangrove menggunakan speedboat menuju tempat temu wicara dimana sudah menunggu beberapa kelompok tani sektor kehutanan, penyuluh kehutanan, dan warga sekitar kawasan wisata hutan mangrove Wana Tirta.

Titiek Soeharto bersama para penyuluh kehutanan beserta anak sekolah peduli mangrove binaan penyuluh kehutanan.



Dalam pidato mengawali temu wicara, Titiek menyempatkan diri untuk mengajak seluruh elemen masyarakat Kulon Progo dan nasional secara umum agar menyadari betapa penting melestarikan hutan mangrove. Bahwa hutan mangrove juga adalah habitat kehidupan beberapa satwa seperti ikan, kepiting, dan lain-lainnya yang nantinya jika ekosistem tersebut terpelihara dengan baik maka akan menjadi nilai tambah bagi masyarakat.

Masih menurut Titiek, hutan mangrove juga adalah sebagai benteng garis pantai agar terhindar dari abrasi akibat air laut serta sebagai penahan angin maupun gelombang pasang laut. Sehingga dengan melestarikan hutan mangrove maka bangsa Indonesia sama saja sudah mewariskan sesuatu yang kelak sangat berharga bagi generasi berikutnya.

"Selepas pidato saya ini, dalam rangka menunjang usaha pelestarian hutan mangrove berikut satwa didalamnya maka bapak maupun ibu kelompok tani sektor kehutanan maupun penyuluh kehutanan dapat menyampaikan usulan masing-masing," papar Titiek Soeharto dipenghujung pidatonya.

"Uneg-uneg juga boleh, dipersilahkan," pungkas Titiek sambil tersenyum dengan disambut tepuk riuh para hadirin temu wicara.

Titiek Soeharto menerima plakat penghargaan sekaligus batik khas Kulon Progo sebagai cinderamata dari masyarakat.



Selepas pidato, Titiek menerima kenang-kenangan dari masyarakat Kulon Progo berupa plakat dan batik khas Kulon Progo.

" Batik ini saya pakai saja, saya suka," ujar Titiek sambil tak hentinya melepas senyuman saat akan diambil foto oleh awak media.

Jurnalis: Miechell Koagouw/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Miechell Koagouw
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: