KAMIS 10 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA---Temu wicara antara masyarakat tani Dusun Srihardono Kecamatan Pundong Bantul dengan Wakil ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau akrab dipanggil rakyat dengan Titiek Soeharto memiliki sisi lain yang menarik.

 Titiek Soeharto saat berbicara di hadapan warga Dusun Srihardono, Kecamatan Pundong Bantul.
Acara dihadiri sekitar 150 orang dari gabungan beberapa kelompok tani dan wanita tani ditambah warga desa setempat. Panitia tidak membatasi warga yang ingin datang namun karena keadaan tempat dirasa tidak memungkinkan untuk menampung di atas 150 orang, maka panitia terpaksa membatasi jumlah warga yang datang demi kenyamanan acara.

Mintarsih, istri Dukuh (Kepala dusun) Srihardono menceritakan bahwa animo masyarakat untuk menghadiri temu wicara sekaligus melihat Titiek Soeharto dari dekat sudah terlihat sejak satu minggu sebelum acara dilaksanakan.

"Warga begitu antusias untuk bertemu Bu Titiek," ujar Mintarsih saat ditemui Cendana News.

"Jika kami memaksakan semua tumpah ruah kesini juga akan mengurangi kenyamanan karena tempatnya kecil sekali. Jadi dengan berat hati kami memutuskan hanya 150 orang saja dengan diambil dari kelompok-kelompok tani yang ada. Dan menurut kami itu sudah mewakili keseluruhan masyarakat dusun Srihardono," pungkas Mintarsih.

Kiri : Titiek Soeharto dan Kepala Dusun Srihardono sekeluarga.  Kanan : Titiek Soeharto dan anak bungsu Kepala Dusun.
Dialog antara Titiek Soeharto dengan warga berjalan dalam suasana santai. Aroma keluguan warga desa sangat terasa ketika warga menyampaikan keluhan maupun impian mereka agar dusun tempat mereka tinggal bisa lebih maju lagi ke depannya.

Titiek menyimak sekaligus mencatat sendiri semua keluhan warga sampai suatu ketika ia terhenti melakukan hal tersebut kala Tugiyo, Kepala Dusun Srihardono menyampaikan hal yang cukup miris. Tugito menceritakan warga sedang berjuang membangun fasilitas sekolah Taman Kanak kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) secara swadaya. Hal tersebut dilakukan karena begitu berbelitnya birokrasi bantuan dari pemerintah.

Tanpa menunggu Tugiyo menyudahi keluhannya, Titiek langsung menjawab dengan sebuah solusi.
"Nanti saya bantu pembangunan sekolah disini, agar anak-anak bisa mendapatkan pendidikan yang baik dan layak. Jangan lupa, membangun sekolah itu juga adalah ibadah," jawab Titiek kepada Tugiyo.

 Mintarsih mewakili kelompok wanita tani menitipkan buah tangan untuk Titiek berupa kue ringan.
Dalam kesempatan itu juga Titiek Soeharto menghimbau warga untuk menggalakkan lagi budaya kerja bakti yang sekarang ini mulai ditinggalkan masyarakat Indonesia. Kerja bakti selain untuk membersihkan lingkungan beramai-ramai juga bisa menjadi wadah silaturahmi serta akan menjadi kenangan tersendiri suatu saat nanti.

"Ayah saya dulu Ketua RT. Dulu setiap hari minggu kami ikut kerja bakti bersama warga. Saat itu saya bersama teman-teman sepermainan masih kecil. Jadi kami hanya diberi tugas membawa air saja. Saat kami sudah besar, kisah kerja bakti menjadi kenangan tak terlupakan," kenang Titiek di hadapan para hadirin temu wicara.

Apa yang terjadi di Dusun Srihardono memang sangat istimewa. Titiek Soeharto begitu ditunggu masyarakat mampu memberikan solusi pasti di saat yang tepat, sekaligus berperan dalam memberikan buah pikiran kepada warga. Sebagai ungkapan rasa syukur atas kunjungan Titiek, maka kelompok Wanita Tani Dusun Srihardono sempat menitipkan buah tangan berupa kue ringan untuk cemilan di perjalanan.

Jurnalis: Miechell Koagouw/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Miechell Koagouw
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: