SELASA, 8 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Demi melihat pabrik tempe skala rumahan dengan jumlah produksi sehari 1,2 Ton, Titiek Hediati Soeharto merasa salut sekaligus prihatin. Pasalnya, pabrik tempe dengan kebutuhan kedelai cukup tinggi setiap harinya itu masih mengandalkan kedelai impor. Hanya tempe saja, kata Wakil Ketua Komisi IV DPR RI itu, Indonesia masih harus mengimpor bahan bakunya.


Pabrik tempe dangsul di Desa Banguntapan, Bantul, dalam sehari membutuhkan pasokan kedelai sebanyak 1,2 Ton. Kedelai tersebut terpaksa didatangkan dari luar negeri, karena petani lokal tak sanggup menyediakan kedelai dalam jumlah besar secara kontinyu.

"Selain itu, harga kedelai lokal selalu lebih tinggi dari harga kedelai impor, meski kualitas dan rasanya diakui lebih unggul", jelas pemilik pabrik tempe dangsul, Viska Syahrul Muharromi, saat menerima kunjungan kerja Titiek Hediati Soeharto di pabriknya, Selasa (8/11/2016).


Sejak berdirinya pada tahun 1998 hanya dengan jumlah produksi sebanyak 20 Kilogram dan menjualnya dari pintu ke pintu bersama isterinya, Yuri Kurniasih, Syahrul mengaku terpaksa menggunakan kedelai impor karena ketersediaannya selalu terjamin dan harganya lebih murah 50 Persen dibanding kedelai lokal.

Kini, pabrik tempe Syahrul sudah beromset 1,2 Ton dengan jumlah karyawan 50 orang. Dengan inovasinya sendiri, Syahrul menciptakan alat uap dan cara kerja yang higienis sehingga produk tempenya memiliki kelebihan tersendiri. Antara lain, tempenya yang lebih kering sehingga tidak terlalu banyak menyerap minyak saat digoreng. Sayangnya, Syahrul masih harus menggunakan kedelai impor.


Terhadap kenyataan itu, Titiek Hediati Soeharto kepada sejumlah awak media menyatakan, sangat menyayangkan jika hanya untuk membuat tempe masih harus impor kedelai. Diakuinya, Pemerintah memang sudah menggalakkan swasembada pangan, namun ternyata masih belum mampu mencukupi kebutuhan.


"Saya meminta Pemerintah untuk segera membenahi tata kelola produksi kedelai lokal ini. Minimal di Jawa yang penduduknya banyak makan tempe bisa swasembada kedelai", tegasnya.

Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: