KAMIS, 10 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Warga Dusun Pasir Mendit, Jangkaran, Temon, Kulonprogo, sejak tahun 2009 secara swadaya telah menjaga, merawat dan melestarikan keberadaan Hutan Mangrove yang berada di sepanjang pesisir selatan Pantai Congot dan bantaran Sungai Bogowonto yang melintasi pedusunan itu. 


Hutan mangrove di kawasan pesisir selatan Pantai Congot yang kini terkenal sebagai obyek wisata alam Hutan dan Gua Mangrove, sudah ada sejak puluhan tahun silam. Namun, keberadaannya sempat terbengkalai karena tak ada yang merawatnya. Lalu, warga dusun setempat berinisiatif menjaga dan memelihara hutan mangrove tersebut, karena fungsinya yang penting sebagai pelindung dari abrasi dan keseimbangan ekosistem.


Ketua Lembaga Pelestari Hutan Mangrove Dan Pesisir Wanatirta, Warso Suwito, di sela kunjungan Titiek Hediati Soeharto dalam peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional, Rabu (9/11/2016), mengatakan, penanaman pohon mangrove sudah dilakukan beberapa kali sejak tahun 1989. 


Seiring perkembangannya yang mengalami pasang surut, lanjut Warso, hutan mangrove pernah hampir punah karena tidak terawat dengan baik dan mengalami endapan sampah kiriman dari daerah hulu. Lalu pada tahun 2009, warga tergerak untuk melestarikannya dan diibentuklah Lembaga Pelestari Hutan Mangrove Dan Pesisir Wana Tirta.

Menurut Warso, dibutuhkan waktu 5 tahun untuk pohon mangrove bisa setinggi sekitar 2 meter. Karenanya, menjaga kelestariannya cukup penting, mengingat ditbutuhkan waktu panjang untuk menumbuhkannya. 


Kini, selain fungsi utama menjaga keseimbangan ekosistem, penahan abrasi pantai dan resapan air, hutan mangrove sejak awal tahun ini dikelola sebagai obyek wisata alam. Tak kurang dari 100-200 pengunjung datang setiap harinya, dan memberikan pemasukan serta lapangan pekerjaan bagi 17 warga pengelola tetap.

Terhadap prestasi tersebut, Titiek Hediati Soeharto memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada Warso dan warga sekitar yang telah sukarela melestarikan hutan mangrove. Wakil Komisi IV DPR RI itu juga mengatakan, pelestarian hutan mangrove sangat penting tidak hanya untuk warga sekitar, namun juga seluruh masyarakat.

Titiek juga menyambut baik gagasan tentang perlunya dibangun gedung belajar tentang mangrove, yang diusulkan oleh Warso saat jaring aspirasi berlangsung. Titiek menjelaskan, bahwa dalam hal pengembangan pariwisata, warga diminta untuk lebih memanfaatkan Dana Keistimewaan (Danais) DIY yang jumlahnya  besar, namun penyerapannya masih kecil.


Hutan Mangrove menjadi obyek wisata baru di kawasan pesisir selatan Kulonprogo. Daya tarik obyek tersebut adalah kerimbunan pohonnya yang tertata apik, sementara jembatan-jembatan bambu dibuat sebagai jalan pengunjung menikmati keindahan pantai di tengah rimbunnya pohon mangrove. Warga pun memberikan sentuhan-sentuhan dekorasi pada jembatan, sehingga menjadi lokasi spot foto yang disukai para muda.

Mengingat pentingnya hutan mangrove itu,  Penjabat Sementara Bupati Kulonprogo, Budi Antono, yang turut hadir dalam acara peringatan hari menanam pohon itu mengatakan, membudidayakan dan memelihara pohon, adalah upaya membangun eksositem yang baik guna menyangga kehidupan. Gerakan menanam pohon bukan hanya tanggung-jawab  Pemerintah, namun juga tanggung-jawab bersama bangsa dan negara.

Budi berharap, pohon-pohon mangrove yang ditanam memberikan kemanfaatan kelestarian lingkungan dan manfaat yang lebih besar lagi bagi semua. Pasalnya, menurut Budi, pohon mangrove setidaknya mempunyai lima fungsi pokok.


Pertama, fungsi fisik, yaitu menjaga garis pantai agar stabil dan kokoh dari abrasi, melindungi tebing pantai, menahan tiupan angin kencang dari laut ke darat di malam hari, menahan sedimentasi dan rembesan air atau menjadi filter air asin sehingga menjadi tawar.

Fungsi kedua, kimia, yaitu mampu mendaur ulang limbah dan menghasilkan oksigen dan pengolah bahan limbah industri. Fungsi ketiga, biologis, yaitu menjadi tempat berkembangnya satwa, sumber plasma nutfah dan habitat alami biota darat dan laut.

Fungsi keempat, ekonomi, yaitu bisa menghasilkan bahan baku industri sebagai tekstil dan makanan, udang, kerang dan telur burung serta madu. Fungsi kelima, wisata, yaitu menjadi kawasan wisata alam, dan sumber belajar, lahan konservasi dan penelitian.

"Selain fungsi-fungsi tersebut, penanaman pohon mangrove juga memungkinkan munculnya sumber air baru bawah tanah. Hal ini penting, karena jumlah penduduk yang semakin bertambah, membuat lahan kian sempit dan diam-diam air laut menipis setiap tahun", pungkasnya.

Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: