RABU 9 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA---Jika berbicara tentang tempe, maka rakyat Indonesia akan mengingat pencanangan program makanan '4 sehat 5 sempurna' oleh Presiden kedua RI, H.M. Soeharto di era keemasan pemerintahannya. Yang dimaksud sebagai '5 sempurna' adalah tahu dan tempe. Bahkan Presiden Soeharto sendiri sangat merekomendasikan tempe dan tahu sebagai satu kesatuan makanan untuk memenuhi asupan gizi yang baik bagi rakyat.

Titiek Soeharto meninjau Pabrik Tempe Higienis Super Dangsul di Bantul

Pada 1982, Presiden Soeharto atau akrab disapa rakyat dengan Pak Harto mencanangkan program Intensifikasi Khusus (Insus) kedelai yang merupakan bahan baku tempe. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada 1992, Indonesia berhasil melakukan swasembada kedelai dengan hasil produksi petani mencapai dua juta ton sementara kebutuhan dalam negeri masih di bawah dua juta ton.

Belajar dari keberhasilan swasembada pangan khususnya padi dan kedelai di era pemerintahan Pak Harto, maka putri beliau yakni Siti Hediati Soeharto yang saat ini duduk sebagai Wakil Ketua Komisi IV DPR RI membidangi pertanian sudah mencanangkan program ketahanan pangan nasional Pajale (Padi-jagung-kedelai) dari jauh-jauh hari.

Oleh karena itu, selepas melakukan kunjungan kerja ke daerah pertanian Gunung kidul, Wonosari, dan Sleman, maka Siti Hediati Soeharto atau akrab disapa Titiek Soeharto melanjutkan perjalanan menuju Bantul. Tempat pertama yang disinggahinya adalah Pabrik Tempe Higienis Super Dangsul, Banguntapan, Bantul.

Pabrik yang dikelola oleh pasangan suami istri Fiska dan Nia ini sudah berdiri sejak 1998 atau delapan belas tahun yang lalu berawal dari pabrik tempe tradisionil dengan produksi sebesar 20 kilogram per hari bermodal mesin giling. Namun dalam perkembangannya, hingga hari ini Super Dangsul sudah mampu mampu menghasilkan kurang lebih dua  ton per hari dari produksi 1,2 ton dengan peralatan modern serta proses higienis melewati dua kali perendaman dan dua kali perebusan sebelum menjadi tempe konsumsi.

Titiek Soeharto ikut melakukan pengemasan kedelai yang siap difermentasi menjadi tempe.

Titiek Soeharto terlihat begitu antusias dalam peninjauan pabrik tempe higienis Super Dangsul. Ia mengikuti setiap keterangan proses produksi yang dipaparkan Fiska dan Nia dengan seksama sebelum akhirnya ikut bersama-sama karyawan bagian produksi pabrik untuk mengemas kedelai yang siap difermentasi menjadi tempe.

" Selama ini oleh sebagian masyarakat, tempe dipandang sebagai produksi rumahan yang kebersihan proses pembuatannya kurang diperhatikan. Akan tetapi pabrik tempe higienis Super Dangsul berhasil merubah semua itu," puji Titiek Soeharto.

Namun satu yang menjadi perhatian Titiek adalah sebagian besar kedelai sebagai bahan baku pembuatan tempe di Pabrik Super Dangsul adalah kedelai impor dari Amerika Serikat. Hal ini menurut Titiek harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Bukan dilihat dari sisi mengapa masyarakat mengimpor kedelai, akan tetapi bagaimana pemerintah harus segera mengoptimalkan produksi para petani kedelai untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat khususnya tempe sebagai makanan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Jika produksi petani kedelai dapat terus ditingkatkan maka pemenuhan kebutuhan dalam negeri akan kedelai dapat terpenuhi. Jangan memikirkan untuk menggenjot ekspor kedelai, akan tetapi penuhi kebutuhan pangan masyarakat terlebih dahulu baru dipikirkan bagaimana meningkatkan produksi demi melakukan ekspansi ekspor.

" Indikator keberhasilan swasembada pangan adalah mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Atas dasar itulah maka kami dari Komisi IV DPR RI akan terus berjuang memperkuat para petani kedelai demi meningkatkan produksi mereka untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Jika hal itu bisa kami lakukan maka program ketahanan pangan nasional Pajale (Padi Jagung Kedele) bisa segera tercapai," ucap Titiek.

Di tengah perkembangan pabrik tempe higienis Super Dangsul yang begitu pesat saat ini, maka manajemen pabrik sudah mulai melakukan terobosan mengkonversi limbah kedelai menjadi Bio Gas untuk bahan pupuk cair yang nantinya dapat dimanfaatkan masyarakat petani di sekitar pabrik.

" Program tersebut sudah mulai berjalan dalam tahap persiapan peralatan berikut sumber daya manusianya. Sudah mendekati final, dan jika sudah mulai berjalan maka siapapun masyarakat yang ingin memanfaatkannya bisa datang mengambil langsung disini," terang Fiska, pemilik Super Dangsul.

Titiek Soeharto mengapresiasi apa yang dilakukan Super Dangsul selama ini. Mulai dari usaha merubah persepsi sebagian masyarakat yang masih meragukan kebersihan proses pembuatan tempe, sampai inisiatif pasangan Fiska dan Nia untuk berbuat sesuatu bagi petani dengan melakukan konversi limbah kedelai menjadi Bio Gas.

Dengan adanya kemudahan bagi petani untuk mendapatkan pupuk maka itu bisa menjadi suntikan moral bagi petani untuk terus melakukan inovasi dalam bercocok tanam. Dengan begitu, bukan tidak mungkin kedepannya para petani kedelai di daerah Bantul maupun Yogyakarta secara umum bisa terpacu menambah produksi kedelai demi memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat akan tempe sebagai bagian dari makanan empat sehat lima sempurna..

Jurnalis: Miechell Koagouw/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Miechell Koagouw
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: