SENIN, 7 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Kendati sudah dihentikan, namun Titiek Soeharto masih mengkhawatirkan, perihal adanya import cangkul dari Tiongkok. Alat pertanian tradisional itu, katanya, semestinya bisa diproduksi di dalam negeri. Wakil Ketua Komisi IV DPR RI dari Partai Golongan Karya itu pun mempertanyakan, mengapa hanya cangkul saja BUMN tidak ada yang bisa membuatnya.


Sebelum dihentikan, Pemerintah menargetkan import cangkul dari Tiongkok sebanyak 1,5 Juta Unit guna memenuhi kebutuhan alat pertanian di dalam negeri. Namun, kebijakan impor cangkul itu telah dihentikan sejak Oktober 2016, kemarin, dan import cangkul dikabarkan hanya terealisasi sebanyak 86.190 Unit Cangkul. 

Terkait hal itu, Titiek Soeharto saat ditemui di sela kunjungan kerjanya di Gunungkidul, Yogyakarta, Senin (7/11/2016), menyatakan keprihatinannya. Titiek bahkan mengaku heran, mengapa hanya cangkul saja salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam negeri tidak ada yang bisa memenuhinya.

Ditegaskan Titiek, import cangkul seharusnya tidak terjadi. Kendati kebutuhan cangkul di Indonesia cukup besar, Titiek yakin jika alat pertanian tradisional itu bisa dipenuhi sendiri. Karenanya, Titiek mengingatkan semua pihak untuk menghentikan semua jenis impor apa pun, dan lebih memberdayakan usaha-usaha dalam negeri.

Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: