SABTU, 5 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Warga dibantu TNI gabungan dari Komando Distrik Militer 0732 Sleman, bahu-membahu mengevakuasi tembok makam Kampung Blunyahgde, Sinduadi, Malti, Sleman, yang longsor akibat didera hujan, Sabtu (5/11/2016). Evakuasi difokuskan untuk meruntuhkan sisa tembok makam yang menganga, dan mengevakuasi enam jenazah yang hingga kini masih tertimbun longsoran.


Setelah terjadi longsor siang kemarin, hari ini puluhan warga Kampung Blunyahgede dibantu 1 Pleton TNI AD dari sejumlah Komando Rayon Militer di bawah Komando Distrik Militer 0732 Sleman, mulai melakukan evakuasi sementara. Sembari menunggu penanganan dari Satuan Tagana, sebanyak 36 personil TNI dan puluhan warga mengevakuasi sisa reruntuhan tembok makam dan tanah.


Komandan Rayon Militer 12/Mlati, Sleman, Mayor Infanteri Yakhobus Yoyok, ditemui di lokasi mengatakan, hari ini evakuasi difokuskan untuk merobohkan sisa tembok makam yang menggantung akibat tanah di bawahnya longsor. Evakuasi sisa reruntuhan diipandang urgen untuk segera diatasi, karena bisa runtuh sewaktu-waktu dan membahayakan.

"Kita akan mengevakuasi reruntuhan terlebh dahulu. Setelah itu baru mencari enam jenazah yang masih terpendam reruntuhan tanah dan tembok makam", jelasnya.

Komplek Makam Umum Kampung Blunyahgedhe berada di bantaran Sungai Code yang melintasi kampung tersebut. Letak makam berada di ketinggian sekitar 4 meter, sehingga membuatnya seperti tebing. Sebelum longsor akibat hujan besar pada Jumat 4 November 2016, kemarin, warga sebenarnya sudah menduga jika makam itu bisa longsor.


Kepala Dukuh Blunyahgedhe, Muhammad Supriyanto, menjelaskan, makam seluas 400 meter persegi itu sejak lama mengalami keretakan. Namun, karena makam yang berada di dua wilayah desa yang berbeda itu, membuat koordinasi di antara pemelihara makam atau juru kunci kurang terjalin baik. Namun demikian, Supriyanto memaklumi hal itu, karena juru kunci merupakan pekerjaan sosial. 

Kendati berada di dua dusun berbeda yaitu, Petinggen dan Blunyahgede di Sleman, katanya, namun pengelolaan makam secara administratif merupakan tanggung-jawab kota. Karenanya, penanganan longsor membutuhkan koordinasi lintas wilayah.


"Akibat longsor itu, dua rumah warga kini terancam logsoran. Sementara delapan jenazah yang terbawa longsor, dua di antaranya sudah dievakuasi dan dikuburkan kembali. Bau mayat sempat menyebat ke pemukiman warga, karena itu evakuasi sementara hari ini fokus membersihkan sisa reruntuhan dan segera mengevakuasi jenazah yang masih tertimbun", pungkasnya.

Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: