SABTU, 26 NOVEMBER 2016

OLEH HENK WIDI

CATATAN JURNALIS, LAMPUNG---Paska dirazia dan ditertibkan beberapa bulan lalu, keberadaan kendaraan jasa penumpang berupa kendaraan travel-travel berplat hitam mulai hilang dari pelabuhan Bakauheni. Namun upaya  Dinas Perhubungan Lampung Selatan dan instansi terkait di Pelabuhan Bakauheni menertibkan travel gelap atau tanpa izin, agaknya harus dilakukan dengan tegas. Pasalnya, selama ini bukan menjadi rahasia umum bahwa  travel gelap  atau yang berplat hitam  dan bukan merupakan travel resmi yang beroperasi di jalur trayek Bakauheni Bandarlampung lebih lihai memainkan peran.

Meskipun berkali-kali dirazia namun terkadang razia yang dilakukan oleh pihak terkait sudah disiasati sebelumnya oleh para sopir travel gelap bahkan sebagian bocor dengan tidak beroperasinya travel tak resmi tersebut saat dilakukan razia. Baik di Bandarlampung maupun di Bakauheni. Meskipun berdasarkan aturan, jelas-jelas travel resmi dipasangi stiker nama perusahaan travel dan memiliki ciri angkutan umum dengan berplat kuning. Namun plat hitam atau travel gelap lebih pandai dalam mencari sasaran penumpang di sepanjang Jalinsum arah Bakauheni Bandarlampung.

Penertiban travel yang sudah dilakukan aparat berwenang beberapa waktu lalu.
Keberadaan travel gelap tersebut memang seperti mata rantai. Karena seperti yang ditelusuri oleh wartawan Lampung Media di Pelabuhan Bakauheni, banyak pihak yang ikut berperan. Sebut saja Andi, salah seorang pencari penumpang.  Ia akan menunggu di pintu turun dari Gangway Pelabuhan Bakauheni untuk mencari penumpang yang  turun dari kapal ferry. Selanjutnya penumpang yang akan naik travel gelap tersebut biasanya akan diantarkan oleh tukang ojek yang juga sudah biasa mengantarkan penumpang tersebut ke pangkalan travel gelap yang ada di luar Pelabuhan.

Sopir travel gelap yang biasanya beroperasi  akan memberikan fee kepada para pengojek yang berperan sebagai pencari penumpang atau dikenal dengan "penyengget" yang telah mendapatkan penumpang. Seperti halnya Panji, tukang ojek yang biasanya mendapat tips dari sang sopir berdasarkan jumlah penumpang yang bisa diperoleh. Biasanya dengan sistem per penumpang sebesar Rp 5.000 atau lebih saat kondisi ramai terutama musim liburan. Dalam menjalankan operasinya, para sopir travel gelap memang  lebih lihai karena mereka menunggu penumpang yang keluar dari Pelabuhan Bakauheni dengan menunggu di tempat-tempat yang strategis di luar Pelabuhan seperti di SPBU Bakauheni. Travel gelap yang beroperasi di jalur Lintas Sumatera bahkan secara terang-terangan beroperasi baik siang maupun malam hari.

“Kita tahu sama tahu aja, ga pernah mematok harus memberi berapa. Yang terpenting saling menguntungkan, saya dapat penumpang tukang ojek juga kebagian rejeki, “ ujar Anwar, sopir travel yang biasa mangkal di samping Bank Lampung Cabang Bakauheni, Sabtu sore (26/11/2016).

Sementara itu, hadirnya travel gelap ini sudah pasti menimbulkan kecemburuan dengan sopir travel resmi, juga sopir bus. Kecemburuan tersebut terjadi akibat para pemilik perusahaan travel resmi atau bus yang mangkal di area Pelabuhan Bakauheni sudah menunggu berjam-jam namun sebagian besar penumpang memilih keluar dan dicarikan kendaraan travel gelap oleh para penyengget. Meskipun tidak secara frontal namun persaingan tersebut muncul  saat mencari penumpang. Akibatnya sering terjadi tarik menarik antar pencari penumpang resmi atau tak resmi. Bahkan pernah dijumpai Cendana News, dua orang pencari penumpang harus adu mulut dan bersitegang saat berebut penumpang.

Para sopir travel resmi  atau travel berplat kuning merasa kesal karena jatah penumpang mereka berkurang. Demikian juga sopir bus.  Joni, salah seorang sopir travel resmi mengatakan, keberadaan travel gelap yang operasinya tidak disertai izin dari Dinas Perhubungan ini merugikan travel resmi lainnya. Karena  travel berplat kuning harus membayar izin dan ada uji KIR-nya secara berkala.

Travel tak resmi yang ada di pintu keluar pelabuhan.
Sementara, sopir bis kesal karena dalam perjalanan arah Bandar lampung atau sebaliknya, penumpang yang  menunggu sudah dioper oleh para penyengget atau pencari penumpang kepada para sopir travel gelap. Biasanya bis mematok ongkos yang sudah ditetapkan kisaran Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu per penumpang. Sedangkan travel pun mematok ongkos Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu. Namun semuanya tergantung dari kemauan para penumpang. Tetapi pada kenyataannya travel bisa mematok harga hingga Rp 50 per orang atau lebih, sesuai jaraknya.

Faktor keinginan penumpang untuk lebih memilih travel gelap agaknya menjadi penyumbang utama keberadaan travel gelap. Sebagian besar mengaku karena memburu waktu sehingga terlalu lama menunggu bus atau travel resmi.  Sedangkan titik-titik travel resmi biasanya mangkal di perempatan  Gayam, perempatan Blambangan, perempatan Tugu Raden Intan dan di dekat Samsat Kalianda. Sedangkan sopir travel gelap pandai mengambil celah untuk mengambil penumpang tanpa harus berhenti berlama-lama di titik-titik tersebut.

“Kalau saya tidak peduli itu travel gelap atau bukan. Yang terpenting saya mau ke Bandarlampung cepat sampai dan ongkosnya juga tak terlalu selisih banyak dengan bus,“ ungkap Sonia yang seminggu sekali  menggunakan jasa travel.

Deretan travel tak resmi yang ada di pintu keluar pelabuhan.
Meskipun dalam beberapa waktu sering dilakukan razia dan penertiban travel di Bakauheni namun masyarakat pesimis hal tersebut akan mengurangi keberadaan travel gelap. Bahkan masyarakat apatis karena bukan rahasia umum bahwa travel-travel gelap tersebut lebih pintar menghindari operasi dengan beristirahat saat razia atau tetap berjalan dengan alasan penumpang yang dibawa merupakan anggota keluarga.

Bahkan Ucok, yang pernah menjadi sopir taksi di Jakarta dan kini menjadi sopir travel resmi mengatakan, keberadaan travel gelap tak akan berhasil jika  masyarakat masih lebih senang menggunakan travel gelap dibanding travel resmi.  Padahal sudah sering terjadi ada aksi kejahatan yang terjadi di dalam travel gelap, sehingga tak bisa dilacak keberadaan travel tersebut.


Travel tak resmi menunggu penumpang tak jauh dari pintu keluar pelabuhan.
“Kalau travel resmi kan ada nomor telepon kantornya sehingga jika terjadi apa-apa bisa di-complain. Sedangkan travel gelap kan tidak ada, jika ada kejadian tak diinginkan kita sulit untuk meminta pertanggungjawaban seperti halnya pada perusahaan travel resmi," terang Ucok.

Travel-travel yang beroperasi di jalur Bakauheni Bandar lampung memang makin banyak jumlahnya, baik yang resmi atau tidak.  Jika operasi penertiban yang dilakukan oleh Dishub dan KSKP Bakauheni berhasil, kemungkinan akan berkurang keberadaan sopir gelap. Namun jika pengawasan berkurang, operasi  travel gelap tersebut masih akan tetap ada.  Selama operasi penertipan atau razia, mereka mungkin tak beraktivitas. Namun saat razia tak ada, travel gelap pun akan tetap beroperasi.

Meski pihak PT ASDP Bakauheni telah menerapkan sistem tiket elektronik sehingga travel tak resmi tak bisa beroperasi di sekitar area pelabuhan, namun sebagian besar travel gelap menunggu penumpang di luar pelabuhan. Sebagian bahkan memanfaatkan jasa ojek dan penyengget untuk bisa menggaet penumpang dan menunggu di pom bensin terdekat menunggu penumpang penuh dan akan diantar ke beberapa tujuan di wilayah Lampung.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: