KAMIS, 3 NOVEMBER 2016

MALANG --- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sanggar Minat Universitas Negeri Malang (UM) untuk kedua kalinya kembali mengadakan acara SAMIN Fair. Acara yang diadakan sejak tanggal 1 November 2016 di gedung Sasana Budaya UM ini mengangkat tema 'Every body is an Artist'.


"Tema tersebut sengaja diangkat karena kami beranggapan bahwa semua orang pada hakikatnya adalah seorang seniman. Sejak lahir dalam diri manusia itu sendiri sebenarnya sudah terdapat jiwa seni, bahkan anak kecilpun bisa menciptakan sebuah karya seni," ucap Else Wulandari, salah satu panitia Samin Fair, Kamis (3/11/2016).

Ia menjelaskan, tema Every Body is an Artist berasal dari sebuah kutipan seorang seniman asal Jerman bernama Joseph Beuys dimana dalam kutipan tersebut terkandung makna bahwa setiap manusia tak terbatas oleh usia, status maupun pekerjaan adalah seniman yang berhak menyalurkan ekspresinya melalui seni. 

"Kepekaan dan pengalaman estetis yang ada di tiap diri manusia, yang dengan sentuhannya bisa merubah sesuatu menjadi sebuah seni,"urainya.

Lebih lanjut Else menyampaikan bahwa dalam acara Samin Fair yang kedua ini banyak dipamerkan karya-karya seni berupa seni lukisan maupun seni instalasi dari para anggota Sanggar Minat UM dan UKM seni lainnya di luar UM.

Selain itu, dalam kegiatan ini juga dimeriahkan dengan acara workshop ilustrasi, sarasehan mengenai permasalahan seni rupa di Indonesia, performen art serta stan bazar dan komunitas diantaranya Gubuk Baca Lentera Negeri (GBLN), Serikat Mural Surabaya, Pena Hitam dan Perakit Komik.

"Tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah sebagai ajang silaturahmi bagi komunitas seni yang ada di dalam maupun di luar UM, sehingga nantinya bisa terjalin kerjasama antar komunitas seni,"ungkapnya.

Sementara itu, dari berbagai karya seni yang ada, terdapat karya seni dari Else dan kelima temannya (Wulan, Dicky, Athiyah, Vivi dan Anisa) yang turut dipamerkan, yang diberi judul Malapetaka. Karya mereka tersebut terbuat dari bahan botol bekas, koran dan kawat.


Menurut Else, karya berjudul 'Malapetaka' ini menggambarkan bahwa kebanyakan manusia sekarang sudah tidak lagi peduli dengan lingkungannya. Bahkan mereka dengan seenaknya membuang sampahnya di sembarang tempat. Padahal dari sampah-sampah yang mereka buang itu nantinya justru bisa menyebabkan bencana atau malapetaka bagi manusianya sendiri.

"Intinya, manusia yang berbuat, manusia juga yang akan menanggung akibatnya,"pungkasnya.
Jurnalis : Agus Nurchaliq / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Agus Nurchaliq
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: