JUMAT, 18 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Masyarakat Desa Ambarketawang, Gamping, Sleman, kembali menggelar upacara adat saparan bekakak, Jumat (18/11/2016), sore. Upacara adat mengenang jasa abdi dalem Sultan Hamengku Buwono I yang diawali kirab puluhan bregodo dan belasan ogoh-ogoh itu memacetkan ruas Jalan Raya Wates-Yogyakarta lebih dari dua jam lamanya.
Gerimis hujan yang turun sejak awal dimulainya upacara adat saparan bekakak pada sekitar pukul 15.00 WIB, tak menyurutkan ribuan warga berbagai daerah untuk menyaksikan gelaran upacara adat saparan bekakak. Demikian pula berjubelnya ribuan warga, tak membuat warga lainnya dari anak hingga dewasa dan tua beringsut dari jalur kirab bregodo.

Sebuah prosesi dalam upacara bekakak yang memperlihatkan adanya boneka pengantis khas adat Jawa.

Ketua Panitia Kirab Bekakak 2016, Tri Ongko, ditemui di sela jalannya kirab mengatakan, sebanyak 37 bregodo ikut meramaikan kirab saparan bekakak yang telah turun temurun dilangsungkan pada setiap hari Jumat minggu ketiga Bulan Sapar. Kirab diberangkatkan dari Balai Desa Ambarketawang, melintasi ruas Jalan Raya Wates-Yogyakarta menuju Gunung Gong dan Gunung Kliling di Pedukuhan Gamping Lor dan Tlogo, menempuh jarak kurang lebih enam kilometer.
"Dari sebanyak 37 bregodo itu, 29 di antaranya merupakan bregodo dari 13 pedukuhan di Desa Ambarketawang, dan sisanya merupakan bredodo dari desa lain yang turut berpartisipasi", ujarnya.
Upacara Adat Saparan Bekakak digelar untuk memperingati jasa besar Ki Wirosuto dan isterinya, sepasang abdi dalem setia Sultan HB I di tahun 1755 Masehi. Ki Wirosuto, kata Tri Ongko, merupakan abdi dalem songsong atau pembawa payung kebesaran raja, yang setia mengikuti Sultan HB I sejak sebelum menjadi raja.

Arak-arakan pengusung sesajian sebagai bagian upacara bekakak.

"Ki Wirosuto selalu membawa songsong atau payung kebesaran yang memayungi Sultan HB I ke mana pun pergi, termasuk ketika sedang berperang," ujarnya.
Ki Wirosuto menjadi abdi dalem terkasih dan terpercaya. Ketika Sultan HB I tengah mempersiapkan pembangunan Kerajaan Kesultanan Yogyakarta, Ki Wirosuto ditugaskan menyuplai batu gamping dari Gunung Gamping yang saat ini berada di dua pedukuhan, Gamping Lor dan Tlogo.
Di Gunung Gamping itu, Ki Wirosuto tinggal bersama isterinya. Selayaknya orang biasa di desa, Ki Wirosuto juga memiliki beberapa binatang peliharaan seperti burung merpati, landak, puyuh dan sebagainya. Suatu ketika, Ki Wirosuto dan isterinya serta segenap harta bendanya hilang secara misterius.
"Untuk mengenang jasa dan kesetiaan sang abdi dalem itu, maka diadakan upacara adat saparan dengan membuat dua pasang boneka pengantin yang disebut bekakak. Dua pasang pengantin itu dikirab menuju Gunung Gamping untuk disembelih sebagai simbol pengorbanan Ki Wirosuto," jelas Tri Ongko.
Boneka pengantin yang disebut bekakak, lanjut Tri Ongko, dibuat dari beras ketan merah dan Jawa. Di dalamnya terdapat air gula merah, yang ketika boneka pengantin itu disembelih air gula merah mengalir selayaknya darah.

Gunungan dalam upacara bekakak yang berisi buah-buahan dan makanan lainnya yang diperebutkan kepada masyarakat.

"Penyembelihan dua pasang pengantin bekakak ini merupakan puncak acara saparan bekakak," jelas Tri Ongko.
Dalam setiap pelaksanaannya, upacara adat saparan bekakak selalu dipadati ribuan warga berbagai daerah. Mereka masih mempercayai, potongan daging boneka bekakak bisa menjadi berkah. Sementara itu, gunungan hasil bumi dan buah-buahan juga tak luput dari serbuan warga.

Jurnalis: Koko Triarko/ Editor: Satmoko / Foto : Koko Triarko

Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: