SABTU, 19 NOVEMBER 2016
LAMPUNG---Tangan-tangan terampil dengan gesit menghaluskan kayu-kayu jati yang telah dibentuk menjadi furnitur, mebel serupa kursi, kayu, lemari, dan benda-benda seni lain yang terbuat dari kayu jati. Aktivitas harian tersebut digeluti oleh belasan perempuan pada saat jumlah pesanan mebel meningkat. Per hari sekitar 3-5 perempuan dibutuhkan untuk mengerjakan proses penghalusan menggunakan amplas, mendempul, dan membersihkan serabut-serabut pada bagian kayu yang telah terbentuk menjadi dipan, kursi, meja, dan tempat tidur. Salah satu perempuan yang melakukan aktivitas membersihkan kayu jati berbentuk tempat tidur tersebut, di antaranya Wati (34), Yuni (40), dan Asna (30). Mereka sehari-harinya bertugas menghaluskan mebel yang terbuat dari kayu jati. Yuni yang sudah bekerja selama empat tahun di lokasi penjualan dan penyelesaian (finishing) mebel tersebut mengaku, memilih bekerja untuk mengisi kekosongan waktu dan menambah uang dapur bagi keluarganya. Demikian juga dengan dua wanita yang bekerja bersamanya.

Tempat mengerjakan mebel yang telah dibersihkan tersebut, menurut Yuni, dimiliki Riyanto yang merupakan sang bos sekaligus seorang pemborong proyek. Sistem pembersihan dilakukan pada mebel setengah jadi sebelum menjadi mebel siap pakai dan didistribusikan ke pemesan. Yuni yang sekaligus orang kepercayaan sang bos mengaku, pada tahun pertama usaha tersebut, penjualan dilakukan dengan mebel jadi dari Jepara, Jawa Tengah. Namun, akibat barang-barang yang dikirim kerap mengalami kerusakan saat pengiriman dan cacat di beberapa bagian, kerajinan mebel dibeli dengan bahan setengah jadi dan diselesaikan di Dusun Way Baka Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni.

Industri kreatif rumahan berupa mebel masih terus menggeliat di Lampung. 

"Awalnya memang menjual dalam bentuk jadi, namun karena bahannya terkadang cacat, akhirnya bos saya membeli dalam keadaan setengah jadi. Belum diamplas, belum dicat, dan diselesaikan di sini untuk selanjutnya dikirim ke pemesan," ungkap Yati yang mengaku sang bos tengah mengerjakan proses pembuatan talud di proyek Tol Trans Sumatera, Sabtu (19/11/2016).

Beberapa mebel yang banyak dipesan oleh masyarakat untuk keperluan rumah tangga, diakui Yuni di antaranya berupa meja kursi, almari, kursi malas, kursi goyang, tempat tidur, hiasan dinding berupa jam kayu serta berbagai jenis mebel berbahan kayu jati. Sebagian besar proses finishing dilakukan oleh kaum perempuan yang dengan teliti memeriksa setiap bagian sebelum dihaluskan. Sebelum proses penghalusan dilakukan, Yati dibantu dengan dua rekan sesama perempuan yang rata-rata sudah memiliki suami tersebut melakukan proses pendempulan untuk menambal beberapa bagian dan celah yang ada pada kayu. Selanjutnya, setelah dilakukan proses penghalusan akan dilakukan proses pengeringan hingga tahap akhir dilakukan proses pengecatan yang dilakukan oleh pekerja khusus.

Para buruh perempuan yang bekerja di sektor permebelan yang sebelumnya identik sebagai pekerjaan laki-laki.
Harga mebel jadi yang telah dikerjakan di lokasi tersebut, dibanderol dengan harga yang berkisar Rp 5 juta-Rp 15 juta. Harga Rp 5 juta di antaranya untuk seperangkat meja kursi lengkap dan harga Rp15 juta untuk mebel jenis lain, di antaranya almari dan tempat tidur yang dilengkapi dengan ukiran-ukiran yang cukup rumit. Karena memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, Yuni mengungkapkan, pembuatan mebel tersebut sementara belum bisa dikerjakan di tempat itu. Namun, direncanakan, ke depan pemiliknya juga akan memaksimalkan bahan baku kayu jati yang ada di wilayah Lampung untuk dibuat menjadi mebel bermutu dan berkualitas tinggi.

Mereka bekerja dengan alat-alat sederhana, di antaranya mesin penghalus, amplas yang berisiko bisa menghirup debu dan kotoran lain. Dengan menggunakan masker khusus tetap dijalani para perempuan tersebut begitu cekatan. Mendapatkan upah sebesar Rp 35 ribu per hari, seperti yang pernah diterima Asna yang hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia mengaku mengisi waktu luang setelah anak- anaknya berangkat ke sekolah dari pukul 08.00 hingga pukul 17.00 setiap harinya. Asna mengaku tidak memiliki keahlian khusus sehingga akhirnya memutuskan untuk bekerja di tempat tersebut dengan upah sekitar Rp 210.000 untuk waktu kerja selama enam hari. Jumlah yang dirasanya belum cukup, namun bisa digunakannya untuk membantu perekonomian keluarga.

Kesederhanaan dan ketekunan para buruh perempuan sebagai penyokong penting industri kreatif rumahan.
Peran perempuan dalam usaha kreatif tersebut, menurut Kepala Desa Kelawi Syarifudin, merupakan upaya untuk menciptakan lahan kerja baru di tengah proses pembangunan jalan tol Sumatera yang sebagian menggusur lapangan usaha masyarakat. Ia mengaku, kontribusi perempuan dalam usaha ekonomi kreatif akan mendapat dukungan dengan adanya koperasi simpan pinjam dengan sistem mudah bagi kaum perempuan. Selain bagi perempuan-perempuan yang bekerja dalam usaha kreatif pembuatan mebel di desa tersebut, juga terdapat usaha-usaha ekonomi kreatif yang terus mendapat pembinaan.

"Ada usaha pembuatan keripik pisang serta makanan tradisional lain yang memerlukan modal dan mereka mendapat dukungan dalam permodalan, alat usaha, dan bantuan pelatihan dalam kelompok," ungkap Syarifudin.

Usaha permebelan  masih menjadi pilihan alternatif sebagai kesibukan para buruh perempuan di Lampung. 


Ia mengaku, banyak usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang perlu mendapat pembinaan karena masih banyak perempuan yang rentan terhadap masalah ekonomi. Kerap mendapat upah lebih rendah daripada pekerjaan laki-laki, membuat perempuan terus diberdayakan oleh desa dengan membuat pelatihan- pelatihan khusus yang bisa membuat wanita bangkit dan memiliki usaha ekonomi kreatif yang bisa dijual menjadi produk tertentu.  Apalagi Desa Kelawi juga dikenal sebagai salah satu desa khas yang ada di ujung Pulau Sumatera.

Khusus di bidang kerajinan mebel, peran perempuan masih sangat diperlukan. Karena pada dasarnya, perempuan, ungkap Syarifudin, menyukai keindahan dan memiliki kreativitas yang tinggi. Bidang usaha kreatif yang masih memerlukan keterampilan tangan juga masih menjadi usaha pilihan sehingga perempuan tetap menjadi penyokong usaha kreatif tersebut. Saat pesanan cukup banyak, terutama untuk mebel dalam jumlah yang juga banyak, sekitar 9-10 orang perempuan dalam sehari pun ikut membantu melakukan proses pengerjaan mebel di tempat tersebut. Selain berada dekat dengan tempat tinggal sehingga masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus suami dan mengurus anak, lokasi kerja tak harus ditempuh dengan menggunakan kendaraan, sehingga membuat pekerjaan finishing mebel menjadi pilihan.

Seorang buruh perempuan dan displai hasil pekerjaan seputar mebel yang menjadi pilihannya aktivitasnya.


Peran perempuan dalam usaha kreatif lain juga masih diperlukan dalam usaha pembuatan bibit di persemaian permanen. Pantauan Cendana News, usaha kreatif yang memanfaatkan limbah kotoran gajah, sekam, dan sisa sabut kelapa dipadukan dengan media semai cetal (MSC) tersebut, masih mempekerjakan puluhan perempuan. Tangan-tangan terampil yang menyemai ribuan bibit tersebut dengan target tertentu dan jumlah yang harus disemai dalam nampan-nampan khusus pun diberi upah dengan kisaran Rp 30-40 ribu. Sebuah nilai upah yang diberikan bagi kaum perempuan di wilayah Lampung Selatan yang bisa dipergunakan untuk membantu ekonomi keluarga.

Sektor usaha kreatif tersebut, hingga kini dominan disokong kaum perempuan yang ikut membantu peran para suami yang sebagian juga bekerja di bidang yang sama atau bekerja di sektor lain. Meski demikian, sebagian perempuan tersebut ada yang menyibukkan diri dengan melakukan usaha menanam sayuran, buah- buahan, sambil beternak. Basis usaha pertanian yang ada di Kecamatan Ketapang, Kecamatan Penengahan dan sebagian besar wilayah di Lampung Selatan terus memacu kreativitas para perempuan untuk menambah penghasilan bagi keluarganya.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: