RABU, 23 NOVEMBER 2016

NGANJUK --- Wardoyo, pria yang sehari-hari sibuk menjadi tukang servis elektronik panggilan ini ternyata punya jiwa kreativitas yang tinggi. Di tanggannya, tumpukan sampah plastik bekas bungkus minuman sachet disulap menjadi aneka kerajinan tas yang unik. 

Tas Hasil kreasi dari memanfaatkan bahan bekas
Pria yang tinggal di Dusun Sluwur, Desa Sudimoroharjo, Kecamatan. Wilangan, Nganjuk ini, sudah lima bulan mencoba peruntungan dengan menjajakan tas hasil kreasinya di depan masjid Mambaul Huda, Wilangan, tiap selepas dhuhur hingga menjelang maghrib.

"Untuk menambah pemasukan hariannya selain dari jasa panggilan sebagai servis elektronik,"akunya kepada cendana news di depan masjid Mambaul Huda tadi siang, Rabu (23/11/2016).

Disebutkan, awalnya hanya iseng saja mangkal di depan masjid. Setelah tanya pengurus masjid, ternyata boleh jualan di halaman masjid.

Pria yang menjadi suami dari Nur Khasanah ini berkisah, awalnya ide kreatif muncul dari sang istri. Sang istri, mulanya iseng membuat tas untuk kondangan. Selanjutnya dia mencoba membuat jenis tas-tas yang lain dengan berbagai ukuran. Hasilnya tidak mengecewakan. Tas hasil tangan kreatif dia dan istrinya mulai dilirik oleh tetangga rumahnya yang menjadi konsumen pertamanya.

"Pertama dapat cibiran dari tetangga karena saya mengumpulkan sampah plastik bekas minuman sachet ke dalam rumah. Setelah jadi kerajinan tas, para tetangga yang mencibir tadi heran dan takjub karena ternyata dari limbah bisa jadi sebuah tas yang cantik," ujar bapak dua anak ini.

Berjualan di depan masjid ini, kata dia, memang baru lima bulan berjalan. Tetapi kalau usaha menjual tas dari limbah ini sudah sejak bulan Agustus 2014 silam. "Sebelum mangkal di depan masjid, dulu keliling dari rumah ke rumah untuk menawarkan tas ini," ujarnya.

Wardoyo mengaku, dirinya masih kesulitan dalam hal pemasaran. "Kita juga mengenalkan lewat media sosial seperti facebook. Tapi masih kurang optimal. Makanya saya juga mangkal di depan masjid ini. Karena masjid Mambaul Huda ini banyak disinggahi para musafir dari berbagai daerah untuk sekadar istirahat dan menunaikan ibadah," ujarnya.

Jadi kalau mangkal seperti ini, lanjut dia, bisa terjual rata-rata dua buah tas per hari. Ia mematok harga per unit tas mulai dari Rp. 10.000 untuk ukuran kecil, hingga Rp. 50.000 untuk ukuran besar.

Wardoyo mendapatkan bahan baku dari warung-warung kecil yang ada di sekitar rumahnya. Ia sebelumnya sudah berpesan kepada pemilik warung agar tidak membuang limbah plastik bekas minuman sachet dan memintanya untuk mengumpulkan plastik sachet minuman dalam satu wadah. Tiap dua minggu sekali Wardoyo akan mengambil limbah plastik yang dikumpulkan pemilik warung.

"Sekarang sudah ada 10 warung langganan untuk mengambil limbah plastik. Sebagai imbalannya, tiap pengambilan limbah plastik, pemilik warung diberi satu buah tas yang sudah selesai dianyam," katanya.

Pembeli tas hasil karyanya datang dari berbagai daerah yakni Banten, Banyuwangi, Madura, Gresik. Magetan, Madiun, Kediri, Semarang, dan Solo. Mereka kebanyakan musafir yang singgah ke masjid Mambaul Huda. Dari hasil kreativitasnya, dampak positif yang didapat selain mengurangi sampah plastik, Wardoyo bisa mendapatkan pemasukan tambahan yang nilainya cukup menjanjikan.
Jurnalis : Nanang WP / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Nanang WP
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: