MINGGU, 13 NOVEMBER 2016

LARANTUKA – Pulau pasir putih Meko dikelilingi oleh beberapa pulau kecil lainnya di sisi timur dan barat pulau pasir putih Meko. Pulau Watan Peni merupakan salah satunya yang berada di timur berhadapan dengan pulau Kelelawar di barat pulau pasir putih Meko.

Pulau Watan Peni yang  berada di sisi timur pulau pasir putih Meko
Pulau ini berada di desa Pledo kecamatan Witihama kabupaten Flores Timur. Bila hendak menuju pulau ini, bisa dilakukan dengan menggunakan kapal laut umum dan menggunakan sepeda motor dari Waiwerang Adonara Timur.

Pulau Watan Peni berada sekitar sekitar 200 meter arah timur pulau pasir putih Meko. Pulau seluas kurang lebih 300 meter persegi ini menurut legenda masyarakat sekitar dahulunya dihuni sendirian oleh seorang bayi hingga dewasa dan meninggal disana.

Bernard Nara Gere, warga kecamatan Witihama kepada Cendana News yang menemuinya, Sabtu (12/11/2016) menuturkan, zaman dahulu ada seorang anggota keluarga raja Sagu mengambil isteri perempuan dari Ile Ape di pulau Lembata bernama Peni Utan Lolon.

Suatu saat papar Bernard, Peni meminta kiriman atau oleh–oleh dari orang tuanya di Ile Ape. Ketika kiriman yang diletakan di dalam anyaman dari daun lontar tersebut tiba dan dibuka oleh Peni dan suaminya, ternyata di dalamnya berisi seorang bayi.

Saat keluarga suaminya disuruh mengantar pulang kiriman tersebut ke orang tua Peni, keranjang tersebut tidak diantar sampai ke Ile Ape namun diletakan di pulau Watan Peni. Bayi tersebut hidup hingga dewasa dan tinggal sendirian di pulau tersebut sampai wafat.

“Hal ini yang menyebabkan pulau tersebut dinamai Nuha (pulau) Watan Peni. Di pulau tersebut saat ini ditinggali oleh anak dari bapak Umar yang dahulunya sangat disegani oleh warga desa Pledo dan sekitarnya,” terangnya.

Bapak Umar yang asli Witihama ini beber Bernard, datang menyebarkan agama Islam dan mengajarkan Pencak Silat bagi warga desa Pledo dan sekitarnya. Dirinya dijuluki orang suci atau sakti serupa dengan wali di pulau Jawa.

“ Dahulunya pulau pasir putih Meko dan wilayah sekitarnya terkenal angker. Sejak ada beliau orang bisa tinggal di dusun Meko dan mengunjungi pulau pasir putih ini. Beliau mampu menetralisir tempat yang awalnya sangat angker “ pungkasnya.

Bapak Umar sambung Bernard oleh warga sekitar dianggap sosok yang sangat luar biasa meski postur tubuhnya tidak terlalu tinggi bak orang kebanyakan di Adonara. Beliau lanjut Bernard, menetap di sebuah pulau di bagian timur pulau Meko yang dinamai sesuai namanya yakni pulau Umar.

“Beliau wafat saat berumur seratus tahun lebih. Sampai saat ini anak lelakinya yang menetap di pulau ini, “ tuturnya.

Meski demikian pulau Watan Peni dan pulau lainnya masih belum dikelola sebagai sebuah destinasi wisata yang bisa mendatangkan pendapatan bagi daerah. Nasibnya sama dengan pulau lainnya khusunya pulau pasir putih Meko.

“Sebaiknya destinasi wisata gugusan pulau ini jangan diserahkan kepada investor asing untuk dikelola sebab jika demikian maka masyarakat sekitar tidak akan mendapat manfaatnya,“pinta Kamilus Tupen Jumat.

Kamilus yang bersama Bernard saat ditemui Cendana News mengaku sangat menyayangkan bila destinasi wisata yang selalu disambangi turis mancanegara baik untuk berenang dan menyelam di lautnya yang jernih, dibiarkan terlantar.

Sampai saat ini kata Kamilus, pemda Flores Timur belum ada rencana untuk mempromosikan dan mengembangan destinasi wisata ini. Bila ingin digarap serius, paket wisata bisa digabung dengan wisata adat budaya atau hiking ke gunung Ile Boleng.

Sementara itu, di bagian barat terdapat sebuah pulau berbentuk memanjang di bagian barat yang dihuni kelelawar. Ini yang menyebabkan masyarakat sering menamakan pulau ini sebagai pulau Kelelawar.

Ada tiga buah Nuha yang letaknya saling berdekatan di pantai utara pulau Adonara yakni Ke Nuha Watan Peni, Nuha Kroko dan Nuha Gambus. Nuha Watan Peni merupakan Nuha yang paling dekat dengan pulau Adonara sementara Nuha Kroko adalah Nuha yang paling besar.

Pulau Kelelawar yang berada persis di sebelah barat pulau pasir putih Meko
Sementara Nuha Gambus terdiri dari dua gugus daratan yang jika dilihat dari kejauhan tampak berbentuk seperti gambus. Pandangan mata diarahkan ke utara, gungung Ile Boleng terlihat menjulang sementara bagian selatan nampak gunung Ile Ape kekar berdiri seakan tak mau kalah bersaing.

“Ada juga pantau Watotena yang juga unik karena terdiri dari bebatuan hitam berbentuk seperti gugusan kapal, “ terangnya.

Pantai Watotena yang jernih dan bening, berpasir putih mengkilap dan dihiasi oleh batu bermagma yang mengapiti bibir pantai ini tentu akan sangat tepat bila dijadikan destinasi wisata di pulau Adonara dan dilakukan pembenahan.
Jurnalis : Ebed de Rosary / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: